
EPISODE SEBELUM NYA...
"Kamu sedang mencari aku kah?" ucap Riri yang sudah berada di belakang Yongki. Seketika Yongki pun terkejut, ia langsung menoleh ke arah belakang, ia pun terpana melihat Riri sudah ada di depan matanya
🌻🌻🌻
"Ahh, iya tugas kamu sudah bereskah? aku baru saja mau menelepon kamu," ucap Yongki gugup. Ia tidak tau harus bilang apa dengan Riri. semuanya serba membingungkan.
"Iya, sudah dari tadi malah, oia ayo ke kantin dulu aku mau traktir kamu makanan yang enak." sahut Riri sambil menarik lengan Yongki, seketika ia ceria kembali. entah setan apa yang merasukinya. Yongki pun menuruti keinginan nya, ia tidak bisa menolak dengan teman karibnya, padahal dalam hatinya, ia ingin segera cepat cepat pulang ke rumah. Karena, ia merindukan seseorang yang ada di hatinya.
"Okey lah, disini tempatnya. Ini tempat favorit aku nongkrong, dan apa kamu tau? makanan disini selain enak tapi murah meriah loh, cocok lah buat kita sebagai orang rantau," ucap Riri dengan ciri khasnya yang ceria namun bawel. Hal ini membuat Yongki merasa terhibur, bahkan Riri sering membuat Yongki ketawa cekikikan.
"Yayaya, okelah nona manis cepat pesan makanannya, nanti keburu malam," ucap Yongki dengan senyuman gantengnya.
Mereka pun akhir nya memesan makanannya, Riri tidak menyangka, Yongki akan mengatakan kalau dia manis. Ini adalah pertama kalinya ia di bilang manis oleh laki laki. Seketika Riri menjadi salah tingkah. Entah apa yang ada di dalam hatinya, padahal banyak para lelaki yang terpesona dengan kecantikannya. Namun karena Riri sangat mengharapkan Yongki, ia tidak mau dekat dekat dengan lelaki manapun, kecuali Yongki. Namun sebaliknya, Yongki hanya menganggap teman wanitanya. Memang tidak ada teman wanita lain, selain Riri. Yang dekat dengan Yongki adalah cuma Riri seorang.
"Tadi kamu bilang apa? aku manis? selama ini, kamu baru sadarkah kalau aku manis?" ucap Riri sambil nyerocos kaya omelan emak emak di kampung.
Seketika Yongki memotong pembicaraan nya, "Horee, makanan nya sudah datang." tukas Yongki. Ia tidak ingin membahas soal itu. Dalam pikiran nya, ia hanya ingin segera pulang ke rumah nya untuk menemui Nadya dan juga Kimmy.
Dan Riri pun akhirnya, menghentikan pembicaraan nya. Merekapun langsung menyantap makanan kesukaan nya. Seketika suasana menjadi heniing,hanya alunan lagu favorit yang terdengar di telinganya. Seakan mengingatkan dirinya untuk segera pulang.
"Oia, tadi pagi kamu kenapa? tiba tiba mewek gak jelas, kalau ada masalah cerita aja, gak usah sungkan dan gak usah di tutupi, kita ini teman harus saling bantu," tutur Yongki memecahkan keheningan.
"Iya, maaf aku tadi gak bisa ngomong, tiba tiba dadaku sesak, sakittt rasanya..." ucap Riri lirih. iapun meneruskan pembicaraannya, " Aku mau di jodohkan sama orang yang tidak aku kenal! kenal aja nggak gimana mau tumbuh cinta, dan itu sudah jelas aku tidak mau,jika bulan depan aku tidak dapat menemukan belahan jiwaku, maka orang tuakulah yang akan bertindak." jawab Riri sedikit emosi. Lalu Yongki memberikan segelas air minum untuknya, supaya emosinya tidak membludak.
"Yah kamu sabar aja, orang tua mana sih yang akan menjerumuskan anak nya ke lembah hitam, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya," tutur Yongki menasehati Riri supaya ia tidak membantah keinginan orang tuanya.
"Jika menurut orang tua kamu dia orang yang baik, yaudah terima ajaa toh ucapan orang tua tidak pernah bohong, soal cinta itu belakangan, nanti juga tumbuh sendiri tanpa di paksapun"ujar Yongki sambil menatap tajam Riri, sementara Riri hanya bisa tertunduk lemas, padahal di depan dirinya ada beberapa makanan yang enak, namun semua itu tidak menggugah selera bagi Riri.
"Jadi menurutmu,aku harus menerimanya?meskipun tidak ada perasaan cinta..." ucap Riri lirih sembari menteskan air matanya namun tetap tersenyum, meskipun hatinya sakit. Padahal ia berharap, Yongki menolongnya, dan mengatakan (Biar aku yang menjadi belahan jiwamu) namun itu tidak mungkin, itu mimpi yang tidak berfaedah. Riri sadarr jika Yongki hanya menganggap dirinya sebagai teman biasa.
"Hey, memang ny aku duyung!" ucap Riri menyunggingkan bibirnya. Yongki pun hanya tersenyum manis.
Setelah selesai makan, mereka pun meninggalkan kantin itu. Dan Yongki segera mengantarkan Riri pulang karena hari sudah mulai gelap. Ia antar sampai ke gerbang rumahnya. Karena tidak mau diajak mampir, takut ada salah faham diantara mereka, terpaksa Yongki pun segera pulang meninggalkan Riri di gerbang pintu rumah nya.
(Tidak bisakah kau sedikit peka dengan hatiku!! Aku ingin kau tahu bahwa aku mensyukuri hari aku mengenalmu.Yongki)
gumam Riri sambil memandang mobil Yongki yang semakin menjauh dari pandangan nya. Awal bertemu mengenalnya, ia menanyakan jenazah yang meninggal di dalam kereta, Namun tidak terpikirkan oleh Riri siapa perempuan yang ia tanyakan itu.
🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara di rumah Bi Inah...
"Jadi semua ini dalangnya adalah pak Arif!" ucap pak Jaja geram. Ditambah ocehan bi Inah yang membuat suasana menjadi kian panas, " Kan, aku sudah bilang kalau pak Arif itu jahat! untung nya aku, sudah menyuruh Non Nadya pergi dari rumah itu! entah sekarang di mana dia aku tidak tahu, mendengar kabar dari kamu, bahwa dia baik baik saja aku sudah senang, Ndi" tutur bi Inah yang masih emosi tingkat dewi.
"Iyaa, bi dia baik baik saja, bahkan aku liat dia bersama seorang pria, dan Non Nadya pun keliatan nya senang banget," ujar Andi meyakinkan bi Inah.
"Nah, terus pak Arif nyuruh kita kembali lagi, buat apaa? mancing mancing Non Nadya buat kembali ke rumah itu?!" tutur pak Jaja mengernyitkan dahinya.
Semuanya tercengang, mereka tidak menyadari jika selama ini, mereka di peralat oleh pak Arif.
HAH!
"tu tungguu! kenapa aku baru kepikiran sekarang! aku pikir dia, hanya sekedar membutuhkan tenaga kerja kalian saja!" ucap Andi kaget. Bola matanya terbuka lebar, ia merasa tidak enak hati dengan apa yang selama ini sedang terjadi, ia terlalu polos, sehingga mudah bagi pak Arif, untuk menjadikan ia sebagai budaknya.
"Tuh kan, pantesan hati aku tuh gak enak banget, masa iya udah di pecat, suruh kembali kerja lagi, kan aneh," ucap Bi Inah suara nya meninggi ketika mendengar hal itu, Sementara pak Jaja hanya bisa termenung, memikirkan bagaimana nasib nya jika ia dan isttrinya kerja kembali di rumah itu. Sementara pak Arif orang nya kejam, jangan kan kejam ke orang lain, sama keponakannya sendiri saja ia berani melakukan apa saja.
"Oia, jika aku tidak kunjung menemukan Non Nadya, pak Arif akan meminta bantuan kepada polisi!" sahut Andi serius, ia lalu meneruskan pembicaraannya, "Atau kita susun rencana, supaya kejahatannya pak Arif terbongkar!" ucap Andi dengan penuh semangat.
"Setujuu,"ucap bi Inah dengan spontan. Begitu juga pak Jaja, kalau mendengar soal menyusun rencana, ia pasti sangat antusias.
BERSAMBUNG...