HOT DADDIES

HOT DADDIES
episode 23



STOP...


"Apa yang kamu lakukan? geser sana!" ujar Nadya sembari mendorong kursinya Yongki, namun, terlalu berat bagi Nadya untuk mendorongnya.


(Karena tenaga nya cuma bisa mengangkat ember jemuran heheh)


Sementara, Yongki hanya mendekapkan tangan di depan dadanya sembari senyum-senyum tidak jelas.


"Mau makan gak nih?" tanya Nadya mengkerlingkan matanya.


"Suapin !" jawab Yongki manja.


"Haiss, kenapa ngedadak jadi manja? perasaan tadi cemberut! pasti menginginkan sesuatukan?" tanya Nadya mnyunggingkan bibirnya.


"hemm." jawab Yongki singkat, ia hanya berdehem dan menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum manis.


Sontak saja,ketika Nadya mengetahui hal itu, suasana di dapur mendadak panas kegerahan. Yongki terus menatap Nadya dengan tajam, seolah ia tak ingin lepas dari pandangannya. Entah apa yang di pikiran Yongki, sehingga membuat Nadya menjadi salah tingkah.


"Ahh a aaku suapin ya!" celetuk Nadya gugup, sembari menyodorkan sesendok makanan pada mulut Yongki.


Namun Yongki tidak membuka mulutnya, ia hanya tersenyum dengan Garis Kerutan pada Sudut Bibirnya, yang membuat Nadya semakin gugup dan canggung.


Tiba tiba, Yongki mengambil sendok yang sedari tadi di pegang Nadya untuk menyuapinya. Dan di letakan kembali pada piringnya, sementara Nadya hanya bisa melongo dengan kelakuan nya itu.


CUP...


Tiba tiba ciuman manis mendarat di bibir Nadya yang seksi, sontak saja ia kaget setengah mati.


"Aapaa yang kamu lakukan?" bisik Nadya dengan membelalakan matanya. ia langsung berdiri untuk melihat situasi yang ada di dapur, takut teman-temannya memergokinya.


padahal ia tahu, bahwa mereka berdua belum juga datang.


"Ngapain kamu lirik sana lirik sini! disini kan hanya ada kita berdua!" tukas Yongki keheranan. Lalu Nadya kembali duduk dan berkata, "Ya, siapa tau ada yang ngintip!" sambung Nadya ketus.


"Oh, adaaa! tuhhh curuttt." ucap Yongki sambil nunjuk ke kolong meja makan.


Yongki pun tersenyum menyeringai, melihat wanita yang dicintai nya cemberut. Ia langsung memeluknya sembari mencium keningnya dengan lembut. Berharap candaan nya tidak membuat dia marah.


Seketika pelukan Yongki langsung melelehkan hati Nadya. Ia begitu nyaman dan tenang. seakan tidak ingin pelukannya terlepas sampai kapanpun. Namun Tiba tiba suara tangisan Kimmy terdengar begitu kencang.


Dan mereka pun kaget, seketika pelukannya terlepas begitu saja.


"Kimmy !" teriak Yongki kaget. Ia langsung segera berlari menuju arah kamar Kimmy, di ikuti oleh Nadya. Ia juga mencemaskan Kimmy, takut teejadi sesuatu.


Namun, setibanya di depan pintu kamar, Kimmy sudah berdiri sambil mengucek-ngucek matanya. Dan Yongki pun langsung segera menghampirinya. Tiba tiba tanpa disadari, Kimmy langsung bersuara memanggil Yongki.


"PAPA..."


Seketika Yongki berhenti sejenak, ia terkesima mwndengar perkataan Kimmy barusan.


"Aa..apa yang dikatakan nya tadi? apa aku tidak salah dengar?" tanya Yongki sambil melirik kepada Nadya.


Sementara, Nadya yang dari tadi berdiri di samping Yongki masih melongo dengan apa yang terjadi barusan hingga Yongki bertanyapun tidak di gubrisnya.


Langsung saja Yongki menggendongnya, iya masih tidak percaya, jika Kimmy memanggil dirinya papa. Hatinya sangat beerbunga-bunga, ini momen pertama kali Yongki di panggil papa oleh seorang anak balita seperti Kimmy.


"Sayang, selama aku disini, ini pertama kalinya Kimmy bisa berbicara loh," ucap Nadya sumringah sambil mendekati mereka berdua.


"O..yaa? serius? (hati yomgki semakin berdebar mendengarnya)coba sekali lagi bilang aku pa..pa.." Ucap Yongki dengan semangat. Sementara, Kimmy yang sedari tadi digendong oleh Yongki, masih mencerna ucapan Yongki, namun setelah beberap saat melihat mimik wajahnya Yongki, Kimmy langsung mengikutinya meski belum begitu lancar.


"Paa Paa" ucap Kimmy sambil terkantuk kantuk.


"Horay, akhirnya Kimmy panggil aku Papa." ucap Yongki yang begitu sangat gembiranya.


Begitu juga Nadya, ia sangat bahagia setelah masuk ke rumah ini, ia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Hatinya terasa begitu nyaman dan tenang. Terlintas dalam pikirannya, ia ingin segera bertemu dengan kakaknya, dan membawanya ke rumah itu. Supaya selalu bersama sama lagi. Seperti dulu, seperti layaknya seorang kakak adik yang selalu bercanda, berdebat, dan saling membantu satu sama lain.


BERSAMBUNG..