
Hari sudah semakin siang, dimana pemuda itu masih saja berada di rumah mewah itu. Banyak yang ingin ia ketahui, namun Pak Arif malah mengusirnya begitu saja.
"Bapak yakin ingin mengusir saya dari sini?" ucap Dicka tersenyum sinis.
"Aduh, kenapa mulut ini tidak bisa dijaga sih!" ucap Pak Arif dalam hatinya.
"Bu-bukan begitu, maksud saya barangkali Pak Dicka masih banyak kerjaan yang lain gitu,"
"Oh, kebetulan sekali, hari ini tidak ada kerjaan apapun Pak, kecuali menyelesaikan kasus keponakan Bapak ini saja,"
"Oh gitu, terus rencana Pak Dicka apa?"
"Saya harus tau orang-orang yang dekat dengan kponakan Bapak dulu. Karena, dari situ kita pasti akan mempermudah untuk menemukan keponakan bapak itu,"
"Apa mungkin aku harus mengubah rencanaku!" batin Pak Arif.
"Yasudah, kalau begitu silahkan Pak Dicka menemui orang terdekatnya Nadya, asisten saya yang akan mengantarkannya,"
"Oh, oke lah. Kalau begitu, setelah menemuinya saya sekalian pamit untuk pulang,"
"Oke Pak Dicka, terima kasih atas bantuannya. Semoga keponakan saya segera ditemukan," ucap Pak Arif tersenyum licik.
Mereka pun saling berjabat tangan. Setelah itu, Dicka diantar oleh asistennya untuk menemui Bi Inah di dapur. Bi Inah pun menyambut kedatangan Dicka dengan gembira.
Dicka pun menjelaskan niatnya untuk lebih memahami sosok Nadya. Supaya jalan untuk menemukannya lebih mudah. Padahal, disisi lain, Dicka pun ingin lebih mengetahui tentang Nadya.
Meskipun mereka berdua ngobrol masalah Nadya, tapi tetap saja mereka diawasi oleh asistennya Pak Arif. oleh karena itu, Dicka pun ijin pamit untuk segera pulang. Namun, meski begitu, mereka saling memberikan kode agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Untuk masalah Nadya, mungkin cukup sampai disini dulu, sekarang aku harus mencari identitasnya Kimmy. Tapi kemana ya? Bahkan aku pun tidak tahu dia anak siapa," gumam Dicka.
"Aku mesti chat Yongki dulu kalau begitu,"
🍭🍭🍭🍭🍭
Ketika waktu isitrahat telah tiba, akhirnya Yongki pun bisa beristirahat dengan santai. Ia hendak ke kantin untuk makan siang bersama teman-temannya.
Namun, HPnya berdering, ia pun langsung mengangkatnya. Dan ternyata itu adalah pesan dari Dicka, ia menanyakan sesuatu tentang Kimmy. Yongki pun mengajak Dicka untuk ketemuan di cafe yang terdekat dari rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Dicka pun datang ke cafe itu dengan mengendarai mobil tugasnya dari kantor. Sementara, Yongki sudah berada disana dua menit yang lalu. Sebelum membahas Kimmy, mereka pun memesan makanan terlebih dahulu.
"Gimana? Apa sudah ada titik terangnya?" tanya Yongki penasaran.
"Ya, aku sekarang tau soal Nadya. Meski belum semuanya tau, Tapi setidaknya ada titik cerahnya," ucap Dicka.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan pun akhirnya datang dan langsung saja mereka santap.
"Nadya itu, anak konglomerat. Namun, orang tuanya sudah lama meninggal. Makanya, si harta dan semua perusahaan, diambil alih oleh pamannya sendiri," ujar Dicka.
"Terus? Kenapa dia bisa kabur? Bukannya hidupnya sudah enak?" ucap Yongki keheranan.
"Yaitu, Pamannya tidak mau dia hidup! makanya dia kabur. Daripada mati sia-sia kan ya mending kabur," kata Dicka.
"Iya juga. Ada untungnya juga dia kabur, coba kalau masih ada disana? Dia bakalan mati muda, terus aku gak bakalan bertemu dengannya!" ucap Yongki.
"Nah itu!" ucap Dicka singkat.
"Terus apalagi yang kamu ketahui?" tanya Yongki semakin penasaran.
"Hanya itu saja! Besok atau lusa aku akan menghubungi Pak Andi lagi," ujar Dicka.
"Hanya itu saja? Yang lainnya gimana?" ucap Yongku seolah tidak percaya Dicka.
"Iya, hanya itu saja," ucap Dicka.
"Jadi kamu belum mengetahui semuanya, jika Nadya punya Kakak. Dan kakaknya itu adalah ibunya Kimmy. Aku mesti gimana mencari alasan untuk ulang tahunnya Kimmy?" batin Yongki.
"Oia,aku kan punya identitas kakaknya Nadya! Samakan saja tanggal lahirnya dengan dia, kan dia ibunya Kimmy juga!"
"Dari tadi kamu melamun terus, kenapa?" tanya Dicka.
"Tidak apa-apa. Ayo lanjutkan makannya, habis ini aku mau pulang," tukas Yongki.
Mereka pun melanjutkan makan siangnya. Setelah itu, mereka berpencar lagi. Karena Yongki memakai mobil sendiri, sedangkan Dicka memakia mobil dari kantor.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Sepulang dari cafe, Yongki bergegas menuju ke ruangannya, ia ingin segera menemukan berkas yang di berikan oleh dokter Riri, tentang jenazah kakaknya Nadya. Tidak lama kemudian, ia pun menemukannya.
"Aha! Ketemu!"
Yongki pun mengecek berkas itu, dan mendapati tanggal lahirnya Shely, Kakaknya Nadya sekaligus ibunya Kimmy.
28 Februari adalah tanggal lahirnya Shely. Yongki akan menggunakan tanggal itu untuk menjadi tanggal lahirnya Kimmy.
"Tak apalah sudah lewat ulang tahunnya, yang penting Kimmy bisa ulang tahun," gumam Yongki.
Tok tok tok
Suara pintu di ruangan Yongki terdengar nyaring sekali. Yongki pun, langsung membukanya dan sekalian untuk pulang. Setelah dibuka, ternyata dia adalah ayahnya Riri.
BERSAMBUNG ...