HOT DADDIES

HOT DADDIES
episode 37



JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA!!


Suara handpone Andi berdering pelan. Ia tidak tahu kalau Dicka meneleponnya terus sedari tadi. Sementara, ia asyik berbincang-bincang dengan temannya sambil ikutan berjaga malam bersama para satpam di luar rumah. Dengan meneguk kopi buatannya, disertai lagu dangdut dari radio, yang selalu dinyalakan oleh satpam ketika berjaga malam. Akhirnya ia bisa merasakan yang namanya hidup santai.


"Semenjak Nona Nadya pergi, rumah ini terasa begitu hambar," celetuk Pak Satpam yang ikutan nimrung dengan mereka berdua.


"Sssttt, pelankan suaramu, disini banyak CCTV, jangan sampe diketahui oleh Pak Arif," bisik Andi


"Mana? tak ada pun,"


"Yey, dikasih tau kaga percaya. Yasudah." ucap Andi sambil melanjutkan meneguk kopinya dengan santai.


"Iya yah, aku kangen banget sama Non Nadya. Biasanya kalau ada dia, kita sering ditraktir makan ketoprak. Sekarang Non Nadyanya ilang, eh tukang ketopraknya malah gulung tikar," ujar satpam yang satunya.


"Kalian mendingan kerjakan tugas kalian dengan baik. Jangan memikirkan orang yang sudah tiada," ucap teman Andi yang sama-sama menjadi kaki tangannya Pak Arif.


"Maksudnya apa? ko kamu bilang begitu? aku yakin Non Nadya pasti bisa ketemu, iyakan Bro?"


"Iyaa, betul. Jangan asal bicara donk. Biar bagaimana pun juga, Non Nadya adalah majikan kita dari dulu!"


"Jadi selama ini, kalian anggap Pak Arif apa? Dia yang menggaji kita loh ya!" ucap teman Andi geram.


"Tentu saja dia majikan kita juga. Kita tidak memungkiri hal itu. Tapi, itu karena ayah Non Nadya ...


(Andi langsung menyelang percakapan mereka)


"Sudah-sudah, kalian jangan berdebat di hadapanku. Sana bubar! udah malam juga masih aja ribut." tutur Andi


Seketika mereka bertiga langsung terdiam. Tidak ada yang berani berbicara lagi. Mereka seolah takut atas bentakan Andi tadi.


"Kalian saja yang bubar! orang kita tugasnya disini, yeyy!" celetuk Pak Satpam.


"Betul, hus-hus sana pergii!" Canda Satpam yang lainnya.


Andi pun langsung meninggalkan tempat tongkrongan itu sambil membawa cangkir kopinya.


Sementara temannya mengikutinya dari belakang. Ia tidak berbicara apapun lagi. Entah apa yang dipikirkannya, gerak-geriknya seolah tidak menerima atas perbincangan mereka tadi.


"Kamu kenapa Mas Bro? manyun gitu kaga jelas banget!" ucap Andi sambil berjalan menuju dapur. Dan temannya pun juga ikutan ke dapur.


"Ah, aku geram sama si Satpam-satpam itu! mereka tidak tau berterima kasih!" ucapnya sambil ngomel-ngomel tidak karuan.


"Wajarlah mereka begitu. Lagian sebelum ada kamu, mereka sudah duluan bekerja disini. Dan lumayan cukup lama," ujar Andi sambil menyimpan cangkir bekas kopinya diwastafel cuci piring.


"Iya, tapikan bos kita sekarang adalah Pak Arif, bukan Nadya!" ujar temannya yang masih ngomel-ngomel.


"Bukannya kata kamu, mendingan kerjakan tugas dengan baik? terus kenapa masih mempermasalahkan Non Nadya? ucap Andi sambil mengkerutkan dahinya.


"Iya sih, tapi ... "


"Tapi apa? sudah lah ayo keluar!" ajak Andi sambil mengeluarkan handpone dari sakunya.


Lalu, mereka berdua kembali lagi ke luar ruangan dapur. Kebetulan didekat dapur ada sebuah taman yang cocok untuk menikmati indahnya malam hari. Andi pun langsung duduk-duduk dikursi yang sudah disediakan sambil memegang handponenya.


Sementara temannya masih ngomel-ngomel tidak karuan dan masih mengikutinya dari belakang.


"Ih kamu tuh ngapain ngikutin aku terus? sana istirahat!" ucap Andi kesal


"Lah aku belum bisa istirahat sekarang! sebenarnya ...


Sementara, Andi masih fokus ke layar handponenya. Ia tidak memperhatikan temannya berbicara.


"Polisi Dicka menelepon? Ada apa? apa ada sesuatu? ucapnya dalam hati.


BERSAMBUNG...