
"Kenapa Nad?" tanya Reno yang tiba-tiba saja mengagetkan Nadya dari belakang.
"A-anu Kak, ini ada telepon buat Kak Dicka. Tapi orangnya sedang tidur," ucap Nadya sembari memberikan HP Dicka kepada Reno.
Setelah dilihat oleh Reno, ternyata Andi lah yang menelepon Dicka. Sontak saja ia tercengang, karena yang Reno tau bahwa, sosok Andi itu adalah orang yang selama ini mencari Nadya.
"Andi!" gumam Reno kaget.
Setelah HPnya sudah tidak berdering lagi, Reno langsung membangunkan Dicka. Sementara, Nadya hanya berdiam diri dihadapan mereka.
Ia masih berpikir, jika Andi itu adalah orang yang selama ini bekerja di rumahnya. Tidak lama kemudian, Dicka pun terbangun. Ia sangat linglung karena, dibangunkan dengan secara paksa oleh Reno.
"Ada apa?" tanya Dicka yang masih terkantuk-kantuk.
"Nih, cek saja. Sepertinya ada hal yang sangat penting," ucap Reno sembari memberikan HPnya.
Lalu, Reno menyuruh Nadya untuk membawakan dua gelas minuman hangat. Tanpa basa-basi lagi, Nadya pun langsung menuju ke dapur. Sementara, Dicka masih mode ngantuk. Ia belum faham dengan apa yang sebenarhnya terjadi.
"Dicka, woy! Melek coba melek!" bisik Reno.
"Ada apa sih? Siapa yang meneleponnya?" ucap Dicka sambil menguak.
Reno pun lirik kanan-kiri takut Nadya tau, kalau Andi adalah orang yang dikenali Nadya.
"Andi," bisik Reno.
"Oh, Andi," ucap Dicka sambil tiduran lagi di atas sofa.
"Apa? Andi?" sambung Dicka dengan sangat terkejut.
Ia pun bangun lagi dari sofanya, dan mendadak semangat. Bahkan rasa ngantuk pun sudah hilang seketika.
"Ssstt, jangan keras-keras. Nanti kedengeran sama Nadya," bisik Reno.
Tiba-tiba Nadya datang menghampiri mereka dengan membawakan dua gelas minuman hangat. Minuman yang terbuat dari jahe dan ditambah sedikit gula serta susu. Mereka begitu menyukainya. Makanya minuman itu selalu tersedia untuk kapan saja.
Setelah memberikan minuman itu kepada mereka, Nadya sempat ragu untuk menanyakan tentang sosok Andi yang menelepon Dicka. Ia sangat penasaran dengan orang itu.
"Kak, kalau boleh tau, yang menelepon tadi tuh, Andi yang mana ya? Soalnya aku juga punya ... "
"Kalau aku bilang pekerjaku, nanti mereka tau siapa aku. Ah, nggak-nggak jangan bodoh Nadya jangan bodoh!" ucap Nadya dalam hati.
"Punya apa?" tanya Dicka.
"Kenapa melamun?" sambung Reno sembari meneguk minumannya.
"Ah tidak kenapa-kenapa, Kak. He he," ucap Nadya cengengesan.
"Andi tuh teman aku, apa kamu mengenalnya?" ucap Dicka dengan santainya.
"Oh, tentu saja tidak. A-aku juga punya teman yang namanya Andi, makanya aku penasaran," ucap Nadya.
Ia berbohong karena demi keselamatan jiwanya. Ia takut dirinya akan terbongkar siapa dirinya yang sebenarnya.
"Yakin teman kamu?" ucap Reno.
Jlebb
Hati Nadya berdetak kencang. Ia sungguh takut rahasianya akan terbongkar. Rasa gugup tengah menyelimutinya dan ketakutan pun semakin ia rasakan.
"Kenapa aku ini. Bisa-bisanya nanyain soal Andi kepada mereka, ya ampun kenapa aku bodoh sekali," batin Nadya.
"E-enggak Kak, hanya teman biasa saja," ucap Nadya gugup.
"Yasudahlah, aku mau menemui dia dulu, kalian jaga rumah baik-baik. Ehh, tapi ingat! kalian jangan macam-macam selama tidak ada aku disini," ucap Dicka mengkerlingkan matanya.
"Loh, memangnya Kak Dicka mau kemana? Masa kita cuma berdua saja, bahaya loh Kak," ucap Nadya menyeringai.
"Iya juga. Kalau begitu, ayo Ren, kamu ikut aku saja menemui Andi," ucap Dicka sambil menarik tangannya Reno.
"Ko sama aku? Sendiri aja kenapa sih," ucap Reno.
Namun Dicka tidak menghiraukannya. Meski Reno ngomel-ngomel tidak mau pergi untuk mengantarkannya dirinya. Dan akhirnya, mereka pun pergi bersama-sama.Sementara,
Nadya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku mereka berdua.
Tiba-tiba suara tangisan Kimmy terdengar kencang. Nadya pun segera menghampiri Kimmy yang tengah terbangun dari tidurnya.
🍭🍭🍭🍭🍭
Yongki dan Riri sudah tiba di kota Dharma. Terlihat dari wajah Riri, yang begitu sumringah dan berseri-seri. Membuat hatinya gembira dan senang. Bagaimana tidak, kota Dharma memang kota yang sangat indah dengan pemandangannya.
Bukan hanya pemandanganya saja, namun keindahan kotanya juga begitu mewah. Bahkan sudah banyak wisatawan yang berkunjung hanya untuk melihat dan bersua foto di kota itu.
Di sana, terlihat begitu banyak orang-orang berlalu lalang hanya untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota Dharma.
"Wah, kota yang sangat aku rindukan. Sudah lama tidak kesini, sekarang sudah berbeda," ucap Riri tersenyum lebar.
Yongki hanya terdiam melihat tingkah laku Riri yang begitu kekanak-kanakan.
"Ki, ayo kita kesana, aku ingin berfoto juga buat kenang-kenangan," ucap Riri sembari menunjuk ke suatu tempat.
Yongki pun hanya menuruti keinginan Riri. Sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat enggan untuk menurutinya. Tapi apa daya, Yongki tidak bisa menolaknya. Karena sudah berjanji kepada Riri.
Riri pun asyik bersua foto, sementara Dicka hanya memperhatikan orang-orang disekelilingnya yang terlihat begitu asyik dengan keluarganya. Sempat terpikir olehnya, jika suatu saat ia ingin mengajak Nadya dan Kimmy rekreasi ke tempat itu.
Tiba-tiba Riri menarik tangan Yongki, ia ingin berfoto berdua dengan dirinya. Sontak saja Yongki kaget. Karena Riri begitu memaksa dengan keinginannya, jadi terpaksa Yongki menurutinya untuk berfoto bareng dengannya daripada cekcok di lihat orang, yang ada malu yang didapat.
"Sekarang mau kemana lagi?" ujar Yongki dingin.
"Kemana ya? Kamu lapar tidak? Ayo kita cari makan," ujar Riri sembari melangkah meninggalkan Yongki.
"Bukannya kamu membawa makanan dari rumah? Kenapa gak dimakan saja disini," teriak Yongki.
Seketika, Riri berhenti melangkah dan berkata, "Sebenarnya, yang aku bawa ini, buat dimakan selama diperjalanan. Tapi aku berubah pikiran, gimana kalau makanan ini buat oleh-oleh untuk keluargamu, pasti mereka suka," ucap Riri sumringah.
"Jadi sebenarnya, kamu kesini tuh mau apa? berwisata atau menemui keluargaku?" tanya Yongki heran.
"Dua-duanya," tutur Riri menatap Yongki dengan serius.
"Kalau tau jadinya bakal begini, lebih baik aku tidak usah mengantarkanmu kemari," ucap Yongki kesal.
"Memangnya kenapa kamu tidak mau menemui keluargamu? Bukankah setiap orang merindukan kehangata keluarga jika sedang berjauhan," tutur Riri.
"Hari ini aku sedang tidak mau membahas soal keluarga," ucap Yongki sembari melangkah meninggalkan Riri.
"Tu-tunggu! Aku minta maaf, kamu jangan marah donk," ucap Riri sembari berjalan terengah-engah untuk bisa menyusul Yongki.
Namun, langkah kaki seorang pria, lebih cepat daripada wanita, Yongki pun semakin cepat melangkah, sementara, Riri kewalahan dengan kakinya yang begitu lambat sampai-sampai ia tidak menghiraukan adanya pengendara sepeda motor.
Brakkk
Tiba-tiba suara motor terjatuh dan semua orang yang melihatnya segera menolongnya. Seketika Riri menjerit dan memanggil Yongki.
Dari arah kejauahan, terdengar teriakan Riri memanggilnya, Yongki pun langsung menghampiri Riri yang tengah terjatuh beserta pengendara motor itu.
"Makanya, Mba kalau jalan tuh hati-hati. Jangan asal nyebrang saja, untung gak ketabrak. Coba kalau ketabrak, bisa-bisa nyawa kamu melayang," ucap si pengendara motor itu yang tengah marah-marah kepada Riri.
Riri pun hanya terdiam dan menangis. Ia sedang kesakitan pada kakinya, ditambah dimarahinorang yang tidak dikenalinya. Tidak lama kemudian, Yongki pun datang menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Yongki khawatir.
"Tidak, tapi kakiku terkilir, sakit," ucap Riri sembari sesenggukan.
Yongki yang melihat hal itu, segera membawa Riri ke rumah sakit. Namun, sebelumnya ia meminta maaf kepada pengendara motor itu, dan mengganti semua biaya motornya yang sekarang sedang rusak.
"Ki, aku gak mau ke rumah sakit, mendingan di urut saja," ucap Riri.
"Pak berhenti, Pak!" tambah Riri menghentikan taxi yang ditumpanginya.
"Mau diurut kemana? Bahkan aku saja tidak tau tukang urut adanya dimana?" ucap Yongki kesal.
"Ya cari ke kemana. Ini semua kan gara-gara kamu, coba kalau kamu tidak marah ..."
"Iya-iya aku minta maaf, Pak antarkan kami ke tukang urut saja," cetus Yongki.
Dan mobil taxi itu langsung meluncur ke tempat tukang urut yang sudah terkenal dimana-mana.
Selama di perjalanan, Yongki dan Riri tidak bertegur sapa, karena Yongki masih kesal dengan Riri, sementara, Riri pun merasakan hal yang sama, ia juga begitu kesal terhadap sikap Yongki.
Tiba-tiba saja, Yongki tercengang ketika melihat tempat yang sangat ia kenali. Ia hafal betul dengan tata letak bangunan yang ada di sepanjang jalan itu.
"Loh, inikan jalan yang mau kearah rumahku," Batin Yongki.
***BERSAMBUNG**...
Jangan lupa like dan vote Hot Daddy nya ya biar miso semangat nulis nya* ^^