HOT DADDIES

HOT DADDIES
Berpapasan (2)



"Ya benar! Aku tidak salah lihat! Wanita itu orang yang pernah aku lihat sebelumnya," batin Dicka.


Dicka masih fokus pada pandangannya, sementara, Nadya sudah masuk ke dalam mobil tanpa ia ketahui.


"Woy! Liatin apa sih? Ayo kita pulang," tutur Reno.


Seketika Dicka pun terperanjat, mendengar ocehan Reno.


"Pulang-pulang, sabar dulu donk, Nadya aja belum keluar," ujar Dicka menyunggingkan bibirnya.


"Noh, lihat dibelakang ada siapa?" ucap Reno.


"Hah! Emang siapa?" ucap Dicka seperti tidak percaya.


Bahkan belum juga nengok wajahnya sudah terlihat was-was. Dan sontak saja, ketika dirinya menengok ke arah belakang, ia kaget bukan kepalang serta diiringi teriakan kecil yang membuat Reno tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kapan naik mobilnya! Jantungku hampir saja copot!" ucap Dicka sembari tertawa.


"Yey, Kakaknya aja yang melamun terus dari tadi. Orang udah masuk juga," ucap Nadya.


"Gak kebayang kalau dibelakangmu ada setan, aku pastikan kamu pasti tidak berdaya melihatnya," tutur Reno.


"Yang pasti dia bakalan tertarik padaku dan gak bakalan berani macam-macam, kecuali sama kamu," ucap Dicka sembari memarkirlan mobilnya untuk segera melaju.


"Eh, ngomong-ngomong, Gimana soal kakakmu, Nad?" tambah Dicka.


"Sudah tidak ada harapan Kak. Aku sudah cape, orang yang ditunggu tidak pernah menampakan hidungnya. Mungkin dia sudah lupa sama adiknya sendiri," ucap Nadya sembari menyeka air matanya.


"Sabar, suatu saat kamu pasti tau dimana kakakmu berada," ucap Reno.


"Betul, mending sekarang kamu fokus sama pekerjaan kamu saja. Ngurus kita-kita misalkan," ucap Dicka menyeringai.


"Nih utamakan bocah ini aja dulu, aku tak sanggup meski harus ngurus lagi kaya dulu, anaknya gak bisa diam. Lebih baik aku kerja seharian daripada ngasuh si Mbul," tukas Reno.


"Ya kan namanya juga anak kecil, Kak. Kalau anak diam saja, ya dipertanyakan donk. Bahaya itu!" ucap Nadya.


"Betul tuh Ren, kamu mau kalau suatu saat punya anak, tapi sehari-harinya diam aja kaya patung?" tutur Dicka.


"Ngeri amat kaya patung," ucap Reno menyunggingkan bibirnya.


Seketika mereka tertawa lepas. Kebahagiaan memang tidak harus sedang mendapat hadiah atau sejenisnya, tapi dari obrolan-obrolan kosong pun mereka akan merasakan kebahagian juga. Bahkan bisa lebih-lebih bahagia dari yang sedang mendapatkan hadiah.


Di perjalanan, lampu merah lalu lintas sedang menyala, dan mobil mereka pun berhenti sejenak. Namun, disaat itu pula, mobil Yongki juga berhenti tepat di di samping mobil Dicka.


Sontak saja Dicka kaget ketika dirinya melihat ke arah samping, ia melihat sangat jelas wajah sosok wanita yang disamping Yongki.


Mereka saling bertatap muka. Hanya saja, Riri tidak mengenali Dicka. Sebaliknya, Dicka mengenali gadis itu, namun tidak tau siapa siapa namanya.


"Oh, jadi ini wanita yang sering bareng Yongki !" gumam Dicka.


Tiba-tiba suara klakson mobil, membuyarkan lamunannya. Dan saat itu juga Dicka langsung menancapkan gas mobilnya.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Sementara di tempat lain ...


"Kamu habis darimana, Ndi?" tanya Pak Jaja yang sedang duduk di taman.


Dulu kebun itu, adalah kebun favoritnya Nadya. Ia selalu membantu Pak Jaja untuk menanam berbagai bunga. Dan hingga saat ini, kebun itu masih terjaga oleh Pak Jaja.


"Aku habis ketemu Pak Dicka, Kang," ucap Andi sembari duduk disamping Pak Jaja.


"oh, terus gimana urusanmu? Lancar?" ucap Pak Jaja mengkernyitkan alisnya.


"Tentu saja! Oia Kang, Pak Arif ada di dalam gak?" tanya Andi.


"Kalau begitu saya mau menemui Bi Inah dulu, Kang," ujar Andi sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, oia tolong bilangin sama istriku, bikinin aku susu panas, jangan lupa susunya yang banyak," ucap Pak Jaja.


"Siap! Susunya susu apa? Susu sapi, susu kambing, atau ..."


"Yang pasti jangan susu Bi Inah, gak enak! Peot," celetuk Pak Jaja memotong pembicaraan Andi.


"He he, oke Kang," kata Andi sembari tertawa kecil.


Andi pun langsung bergegas menuju ke dapur. Ia ingin memberitahukan sesuatu tentang Nadya kepada Bi Inah. Setelah berada di dapur, ternyata para asisten rumah tangga sedang bersantai ria sambil menonton TV, termasuk Bi Inah juga.


Karena Pak Arif sedang keluar, jadi mereka bebas untuk berleha-leha walaupun hanya sebentar. Melihat hal itu, membuat Andi canggung dan enggan untuk mengobrol dengan Bi Inah.


"Bi, disuruh Kang Jaja bikinin susu panas, saya juga ya Bi, nanti antarkan saja ke taman, kami ada disana," sahut Andi.


"Oke siap."


Andi pun langsung pergi lagi dari dapur itu, sementara, Bi Inah sedang membuatkan susu panas untuk mereka berdua.


"Ko sebentar? Katanya mau cerita sama Iin," kata Pak Jaja yang suka manggil istrinya iin.


"Mereka sedang kumpul nonton TV. Jadi gak enak ngobrolnya mending disini," ujar Andi.


"Oh, emang mau cerita apa sih?" ucap Pak Jaja mengawali obrolannya.


Sebelum Andi bercerita, ia lirik kesana-kemari untuk memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraannya.


"Aju habis antarkan barang-barang punya Non Shelly, yang waktu itu ada di kereta api," ucap Andi setengah berbisik.


"Apa? Untuk apa Ndi? Barang apaan? Orangnya kan sudah meninggal!" ucap Pak Jaja penasaran.


Tiba-tiba, Bi Inah pun datang membawa dua gelas susu panas.


"Nih susunya," ucap Bi Inah sembari menyodorkan minumannya ke mereka berdua.


"Kebetulan kamu kemari, tadi dia mau bicara sesuatu, tapi di dapur banyak orang, jadi mendingan disini saja," kata Pak Jaja yang hendak akan meminum susu panasnya.


"Emang ada apa sih? Aku penasaran," ucap Bi Inah.


"Aku habis antarkan barang-barang punya Non Shelly, yang waktu itu ada di stasiun kereta api," ucap Andi.


"Buat apa? Memangnya dengan barang-barang itu, kita bisa melumpuhkan si Arif itu?" kata Bi Inah dengan suara tingginya.


"Huss, kecilkan suaramu, nanti kita bisa diketahui orang-orang," ujar Pak Jaja.


"Oia, maaf," ucap Bi Inah singkat.


"Ya siapa tau, barang-barang itu suatu saat diperlukan," ucap Andi dengan santainya.


"Oia, selama kita disini, kita belum pernah ke makamnya Non Shelly, kau juga tidak pernah mengajak kami ke tempat peristirahatannya," ujar Bi Inah.


"Kalau soal yang ini, aku juga tidak tahu Bi, aku hanya mengurus barang-barangnya saja," ucap Andi.


"Sebenarnya aku juga ingin menemuimu, Shelly. Tapi dimana makamnya? Apa aku tanya saja sama si Hendra?" ucap Andi dalam hatinya.


"Yehh malah bengong si Wasjud mah," ujar Pak Jaja.


"He he maaf. Apa aku tanya si Hendra aja kali ya? Dia kan yang mengurus Non Shelly, Kang," ujar Andi.


"Hendra? Apa nantinya dia tidak akan curiga? Aku takut dampaknya buruk, nanti bisa-bisa rencana kita gagal," ujar Pak Jaja.


Tiba-tiba seseorang telah menguping pembicaraannya, tanpa mereka ketahui, yaitu Hendra. Dirinya sudah lama berada di tempat itu. Sampai-sampai obrolan mereka bertiga telah didengarnya sampai habis.


"Memangnya rencana apa yang sedang kalian bahas?" ucap Hendra sembari menampakan dirinya dibalik rerumputan itu.


BERSAMBUNG ...