HOT DADDIES

HOT DADDIES
Barang Bukti



"Memangnya rencana apa yang sedang kalian bahas?" ucap Hendra sembari menampakan dirinya dibalik rerumputan taman.


Sontak saja mereka bertiga kaget setengah mati. Apalagi Hendra itu adalah kaki tangannya Pak Arif kedua setelah Andi. Orang-orang tau, jika Hendra sangat setia kepada majikannya. Makanya tidak ada yang berani memarahi Hendra, walau ia salah sekalipun.


"Ka-kamu sejak kapan ada di sini? Bukannya sedang keluar dengan Pak Arif?" ucap Andi terbata-bata.


Ia sungguh ketakutan sekali, jika Hendra akan memberitahukan hal ini kepada Pak Arif. Bahkan pikirannya pun kemana-mana, antara dipecat dan akan gagal atas rencananya yang sudah tersusun rapi.


Sementara Bi Inah dan Pak Jaja hanya bisa diam terpaku melihat Hendra yang sudah ada di depan matanya. Mereka juga tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ya betul, tapi sudah kembali lagi sedari tadi," ucap Hendra sembari ikutan duduk di tempat itu.


"Kenapa dengan expresi kalian? Seperti melihat hantu saja," tambah Hendra dengan santainya.


"I-itu tadi kita ... tidak ada maksud untuk ... " ucap Pak Jaja ragu.


"Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun, termasuk Pak Arif. Memangnya aku ini si Dorna yang ada di pewayangan apa!" kata Hendra memotong pembicaraan Pak Jaja.


"Ya bisa jadi," canda Andi sembari tertawa kecil.


"Yey, sembarangan!" sentak Hendra.


"Syukurlah kalau kamu bisa menyimpan rahasia ini. Kami tidak akan melakukan hal yang seperti ini, jika tidak diawali dengan kejahatan," ucap Pak Jaja.


"Hem, aku mengerti. Lagi pula aku sudah jera melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan. Bukannya dulu aku pernah bilang sama kamu, Ndi? Yang waktu malam itu, masih ingat tidak?" kata Hendra serius.


"Hah? Masa? Kapan? Aku tidak tau kapan kamu bicara padaku, bukannya kamu sibuk terus?" ucap Andi mengkerutkan dahinya.


Waktu malam itu, Andi memang tidak mendengarkan Hendra berbicara. Ia sedang bimbang karena ada panggilan tidak terjawab dari polisi Dicka. Sehingga apa yang Hendra utarakan, tidak di dengarkannya baik-baik.


"Sudah kuduga! Kamu pasti mengacuhkan curhatanku. Lagian kamu sibuk terus dengan HPmu, padahal aku bercerita banyak loh, Ndi," ucap Hendra.


"Emang cerita apaan? Sumpah aku tidak mendengarkanmu," ucap Andi penasaran.


"Ah, sudahlah tidak usah dibahas. Jika mengingatnya, hatiku semakin sakit. Yang pasti pembicaraan kita sama," ucap Hendra lirih.


"Maksudmu? Perkara Pak Arif?" tanya Bi Inah.


"Semuanya," ucap Hendra singkat.


Seketika mereka bertiga melongo mendengar ucapan Hendra itu. Mereka bertiga bingung, karena Yang mereka bahas hanyalah soal Pak Arif. Sedangkan yang dikatakan Hendra adalah semuanya. Entah perkara apalagi yang ia punya tanpa sepengetahuan mereka bertiga.


"Semuanya? Maksud dia apa?" ucap Andi dalam hatinya.


"Hendra! Kamu tidak usah sungkan-sungkan sama kami. Jika ada sesuatu yang mengganjal dihati kamu, cerita saja. Kami pasti akan membantumu semampu kami," ucap Pak Jaja.


"Iya terima kasih Kang, aku pasti cerita. Tapi tidak sekarang, karena aku belum siap untuk menceritakan ini semua. Aku butuh ketenangan dulu, dan yang pasti rasa penyesalan itu sering menghantui pikiranku. Aku benar-benar bodoh! Bodoh sekali," ucap Hendra sembari meneteskan airmatanya.


Ia benar-benar terpukul dan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Pak Jaja yang ada didekatnya, memberanikan diri untuk menepuk pundaknya agar beban yang dirasakan Hendra seketika ringan. Sementara Andi dan Bi Inah hanya bisa menatap Hendra dengan iba.


Tidak terasa, sudah hampir larut malam mereka masih asyik berbincang-bincang. Semakin malam, udaranya semakin terasa dingin. Bi Inah sadar akan hal itu, ia pun pamit untuk segera beristirahat. Sementara yang lainnya juga ikutan beranjak dari tempat itu menyusul Bi Inah untuk beristirahat.


 


\*


 


Pukul 11 malam, akhirnya Dicka dan yang lainnya sudah sampai di rumah sewaanya. Mereka datang lebih dulu dibandingkan dengan Yongki. Karena, Yongki mengantarkan Riri dulu untuk pulang ke rumahnya.


"Akhirnya sampai juga. Betapa pegalnya ini tangan saat menopang badan yang gembrot ini," tutur Reno sembari keluar dari dalam mobil.


Dicka dan Nadya hanya menertawakan Reno mendengar ocehannya Reno. Belum juga masuk ke dalam rumah, iba-tiba Yongki datang dan langsung memarkirkan mobilnya ke garasi.


"Nah, akhirnya dia datang juga," ucap Dicka.


Yongki pun langsung menghampiri mereka dan berkata, "Kalian habis darimana?"


"Aku habis dari ..."


"Habis jalan-jalan," ucap Dicka memotong pembicaraannya Nadya.


Seketika Nadya canggung dan gugup. Ia merasa heran kenapa Dicka bicara seperti itu. Padahal kenyataannya bukan pergi jalan-jalan, tetapi melainkan pergi ke stasiun kereta api.


Dan mereka pun masuk ke dalam rumah bersamaan. Yongki juga tidak memperpanjang masalah itu, karena dirinya begitu lelah dan ingin segera beristirahat.


"Apa kalian tidak lapar?" tanya Nadya sebelum masuk ke kamarnya.


"laparrr," ucap Dicka dan Reno serempak.


Sementara, Yongki menatap mereka bertiga lalu berkata dengan polosnya, "Kalau kalian lapar, aku juga lapar,"


"Oke deh. Kalau begitu aku akan menyiapkan makanan, tapi jangan tidur dulu. Nanti makanannya mubazir," ucap Nadya sembari menuju ke dapur.


"Aku mandi dulu saja kalau begitu," tutur Yongki.


"Aku ke kamar Kimmy dulu," tutur Reno.


"Hei, gaess tunggu dulu," ucap Dicka pelan.


"Ada apa?" tanya Yongki.


"Ada sesuatu yang penting. Ini meyangkut ..." kata Dicka sembari lirik-lirik ke segala ruang, takut Nadya mendengarkannya.


"Oh, iya-iya aku tau. Sok aja kalian urus aku nanti nyusul," ujar Reno memotong pembicaraanya Dicka sembari masuk ke dalam Kamar Kimmy.


"Ada apa sih? Bikin penasaran aja," ucap Yongki.


"Ini menyangkut masalah Kimmy. Semua barang yang dulu pernah hilang, sekarang sudah ada di tangan aku," bisik Dicka.


"Maksudnya barang apa? Yang peralatan kebutuhan Kimmy itu? ucap Yongki penasaran. Ia lupa padhal barang-barang itu yang ia cari waktu hari pertama Kimmy bersamanya.


"Nah, iya itu. Masa kamu lupa sih," ucap Dicka menyunggingkan bibirnya.


"Eh coba, gimana-gimana? Aku baru faham. Kamu dapat darimana barang-barang itu? Dan kenapa baru sekarang barang itu ada? Anaknya juga udah besar, pakaiannya pun gak bakalan ada yang muat. Lihat aja sama kamu! Badannya aja segede gentong," ucap Yongki sembari mwnuju kw kursi yang ada dihadapannya.


"Nah ituu, kamu tau gak aku dapat dari siapa? Dari Pak Andi!" ucap Dicka sumringah.


"Apa? Andi? Orang yang selama ini yang tengah mencari ... " bisik Yongki penuh rasa tidak percaya.


"Iya!" ucap Dicka yang segera memotong pembicaraan Yongki.


"Kenapa bisa ada sama dia? Permainan apa ini? Apa jangan-jangan dia ada sangkut pautnya dengan Shelly? ucap yongki dalam hatinya.


Ia sungguh penasaran dengan yang namanya Andi. Apa yang telah ia pikirkan, sungguh di luar dugaannya. Ingin rasanya ia bertemu dengan sosok yang namanya Andi. Namun, ia takut salah melangkah. Karena, untuk urusan seperti ini, ia harus extra hati-hati.


"Kamu tidak menanyakannya kenapa barang ini bisa ada di tangan Andi?" ucap Yongki serius.


"Sudah donk, dia bilang ..."


"Andi? Kalian kenal Andi?" ucap Nadya memotong pembicaraannya Dicka.


*


*


*


BERSAMBUNG...


Hallo sahabat Miso!! ^^


Maaf baru up lagi setelah sekian lama akun ini baru bisa kembali di buka. Alhamdulilah...


Mulai sekarang Miso akan meneruskan ceritanya kembali.


Jangan lupa like, vote dan lope-lope nya agar Miso semangat menulis kembali.


jangan lupa mampir juga ya ke cerita lainnya yang berjudul


* Sincere Love


* Angkatan Ke 7


bye-bye selamat membaca!.