
"Nadyaaaa!" Teriak Yongki dengan mata berkaca-kaca.
"Aku takut kehilangan dirimu. Aku begitu takut, maafkan aku," ucap Yongki lirih.
Namun, Nadya tetap tidak ia temukan. Yongki sangat terpukul dengan keadaan ini.
Sedih, kecewa, dan menyesal bercampur menjadi satu. Entah harus kemana lagi ia harus mencari, semuanya sudah terlambat.
SEMENTARA DI RUMAH YONGKI...
Kimmy masih dalam keadaan tidur, ia belum bangun lagi untuk meminta dibuatkan susu. Biasanya, dijam-jam tertentu ia bangun karena lapar.
Sementara, Dicka dan Reno menyibukkan diri sendiri untuk menyelesaikan tugas kantornya. Meski hatinya masih gelisah, tapi mereka tetap berdoa, agar Nadya secepatnya bisa kembali ke rumah ini.
Tiba-tiba suara rengekan Kimmy terdengar begitu kencang. Mereka berdua kaget dan langsung segera menghampirinya.
"Oalah, Sayang. Cup-cup jangan nangis, hemm diapersnya mesti diganti, Ren," ujar Dicka
"Dih, kamu ajalah yang ganti, kamu yang duluan gendong," ucap Reno menyunggingkan bibirnya.
"Nah, terus kamu ngapain disini?" Tanya Dicka ketus.
"Lihatin Kimmy!" Canda Reno.
Seketika, bantal guling miliknya Kimmy melayang kewajahnya Reno.
"Aduh, ih sakit tau," ucap Reno sambil meringis kesakitan.
"Syukurin! Dah ah, sana buatkan Kimmy susu!" ucap Dicka
"Ko kamu yang nyuruh?" cetus Reno.
"Yaudah, nih ganti diapersnya!" Ujar Dicka melotot.
"Ogahh." tukas Reno sambil berjalan keluar kamar.
Kimmy yang sedari tadi sudah bangun, masih merengek entah apa yang ia inginkan. Padahal Dicka sudah mengganti diapersnya, kecuali susu yang masih dibuatkan oleh Reno.
Tidak lama kemudian, Reno pun datang dengan membawa sebotol susu ditangan kanannya, sementara ditangan kirinya memegang secangkir kopi panas.
"Yaelah, pantesan bikin susunya lama, ternyata bikin kopi juga. Buat akunya mana?" Ucap Dicka mengkerlingkan matanya.
"Gak ada wee!" Canda Dicka sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar curutt!" tukas Dicka
Kimmy pun akhirnya mendapatkan apa yang ia mau. Sambil memegang botol susunya, ia pun akhirnya tertidur kembali.
Dicka yang sedari tadi mengeloninnya, sudah bisa bergerak bebas lagi. Ia pun merebahkan tubuhnya sebentar didekat Kimmy yang sudah tertidur pulas. Sementara Reno, sedang asyik membuat tugas laporannya sambil menikmati secangkir kopi panasnya.
🍭🍭🍭🍭🍭
"Ndi, gimana hasilnya? Apakah polisi itu mau membantu kita?" Tanya Bi Inah pelan.
Kebetulan Andi sedang mengambil air untuk membuat kopi, dan Bi Inah sedang menyetrika pakaian. Ini kesempatan mereka untuk berbincang-bincang soal Nadya. Kebetulan pelayan yang lainnya sudah istirahat duluan.
"Maaf Bi, sepertinya akan gagal rencana kita!" Bisik Andi kepada Bi Inah.
"Ko bisa? berarti polisi itu tidak mau bekerja sama dengan kita?"Ucap Bi Inah dengan pelan.
"Ya ampun Bi, kita lupa! ternyata disini ada CCTVnya juga," ujar Andi sambil menunjuk kearah CCTV itu.
"Aduh, bagaimana ini, Ndi!" seru Bi Inah panik.
"Jangan mencurigakan, lambaikan tangannya, Bi," ujar Andi sambil ikut melambaikan tangannya juga.
"Nanti kita bicarakan lagi, Aku mau kedepan dulu Bi," tambah Andi sambil membawa kopi buatannya.
Bi Inah pun menganggukan kepalanya tanda setuju. Memang di rumah Nadya itu, sangat ketat. Itu karena ulah Pak Arif. Agar bisa memantau sendiri para pelayannya.
🍭🍭🍭🍭🍭
SEMENTARA DI RUMAH YONGKI...
Setelah beristirahat sejenak, Dicka langsung ke luar dari kamarnya Kimmy. Ia hendak ingin mengambil air minum di dapur.
Ketika sudah berada di dapur, ia teringat lagi dengan sosok Nadya. Ia teringat, ketika Nadya sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Kenapa aku terus memikirkan kamu, Nad? padahal aku tahu, kamu bukan milikku," gumam Dicka.
"Sudahlah, semoga saja Yongki bisa membujuk dia."
Setelah selesai mengambil air minum, ia lanngsung ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya. Rencananya, ia juga ingin mengerjakan tugas itu bareng dengan Reno di ruang keluarga. Meski tugas pekerjaannya berbeda.
"Ren, Yongki ko belum datang juga?" Tanya Dicka sambil duduk di kursi sofa.
"Entahlah, ko perasaanku jadi gak enak, dari tadi aku gak fokus loh!" Ucap Reno gelisah.
"Ya sama, kalau ikut mencari dia, nanti Kimny mau sama siapa? lagi pula, Yongki gak bakalan mau kita ikutan nyari," ucap Dicka sambil membuka tasnya.
Dicka baru ingat, ketika di tasnya terlihat map yang di berikan oleh jendral Dani, untuk mengurus kasus orang hilang. Saat itu, ia belum sempat membukanya sama sekali. Kini ia langsung membukanya dengan hati-hati.
Dan ternyata sosok orang hilang itu ialah, orang yang selama ini dekat dengan dirinya. Betapa terkejutnya Dicka, ketika melihat foto Nadya, ada di dalam surat selebaran orang hilang.
"Apa! jadi orang hilang yang dimaksud Pak Andi adalah dia!" ucap Dicka dengan membelalakan matanya.
BERSAMBUNG...