
Tin tin tin
Suara klakson mobil terparkir di depan rumah. Nadya yang mengetahui hal itu, langsung segera membuka pintunya. Ia berpikir dia adalah Yongki. Karena dirinya janji akan pulang sore. Namun, setelah apa yang dilihat, ternyata yang datang adalah Dicka. Ia pun menyambut Dicka seperti biasanya.
"Tumben Kak, pulang cepat? Ini mobil siapa?" tanya Nadya.
"Iya soalnya pekerjaanku sudah beres. Ini mobil dinas, masa kamu lupa? Dulu kan waktu antar kamu ke stasiun pake mobil ini," ujar Dicka sembari masuk ke dalam rumah.
"Oh, iya ingat. Apa? Stasiun?" ucap Nadya kaget.
"Loh, ada apa denganmu? Tiba-tiba expresimu mendadak berubah begitu!" ucap Dicka keheranan.
"Ma-maaf Kak. Mendengar nama stasiun, aku jadi teringat Kakakku," ucap Nadya lirih.
"Iya, aku juga minta maaf. Tapi, kenapa kamu tidak menghubunginya langsung via telepon atau mendatanginya langsung ke tempatnya. Biar gak harus menunggunya terus," ucap Dicka.
"Kalau aku tau, aku pasti sudah bersamanya, Kak," ujar Nadya sembari meneteskan air matanya.
Melihat hal itu, Dicka semakin iba. Ingin rasanya menenangkan gadis itu, dengan pelukannya. Namun, itu mustahil karena yang dapat memeluk tubuh gadis itu hanya Yongki seorang.
"Kamu yang sabar yah," ucap Dicka.
"Apa mau aku an ..."
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Kimmy, seketika pembicaraan Dicka terhentikan. Nadya pun pamit tergesa-gesa kepada Dicka untuk segera menemui Kimmy. Sementara, Dicka akan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
"Mama," ucap Kimmy.
Nadya pun tersenyum manis. Ia bahagia ketika dipanggil Mama oleh Kimmy. Seketika pembahasan tadi, ia lupakan. Bahkan, ia malah berharap ingin segera menjadi ibu yang sesungguhnya.
"Pasti kamu lapar ya? Yuk kita makann!" ucap Nadya dengan semangat.
Nadya pun langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan cemilan buat Kimmy. Tidak lama kemudian, Dicka pun datang menghampirinya. Ia juga ingin dibuatkan sesuatu oleh Nadya.
Namun, sayang sekali, persediaan bahan-bahan makanan sudah habis. Dan hari ini, Nadya tidak bisa memasak untuk mereka bertiga. Kecuali Kimmy, persediaan makanan untuknya, selalu tersedia.
"Yasudah, nanti kalau sudah pada pulang, kita belanja bareng," tutur Dicka.
"Apa belanja? Horee kita akan belanja, Sayang, sekalian belanja buat ulang tahun kamu ya," ucap Nadya sumringah.
Kimmy pun ikut gembira dibuatnya. Melihat tingkah laku mereka, Dicka pun tersenyum manis. Ia senang melihat Nadya dan Kimmy begitu sumringah, tidak seperti tadi, berwajah sedih dan masam. Membuat orang yang melihatnya menjadi iba.
"Kalau begitu, aku harus menemukan kakakmu, biar kamu tidak bersedih terus, Nadya," ucap Dicka dalam hatinya.
Hari sudah semakin sore, bahkan tanda-tanda kehadiran Yongki pun belum juga muncul. Malah Reno yang muncul duluan di hadapan Nadya.
"Kak, ayo sana mandi, dan jangan lama-lama mandinya," ucap Nadya yang begitu antusias.
"Loh, ada apa? Aku baru saja buka pintu, malah disuruh mandi!" ucap Reno kaget.
Dicka yang melihat hal itu, semakin tertawa melihat tingkah laku Nadya yang membuat Dicka geli.
"Pokoknya, cepat mandi nanti keburu sore. Kita mau belanja, soalnya persediaan makanan sudah habis. Aku pun tidak memasak hari ini," tutur Nadya.
"Oh gitu, bilang donk dari tadi," ucap Reno.
Reno pun langsung bergegas menuju kamarnya, sementara mereka berdua menunggunya sembari menemani Kimmy makan.
"Mama, agi ..." ucap Kimmy sembari memperlihatkan makanan yang hendak habis.
"Apa? minta lagi?" ucap Dicka sambil tertawa lebar.
"Sudah biasa, he he," ucap Nadya.
Nadya pun segera ke dapur untuk mengambil makanan kesukaan Kimmy lagi, puding coklat yang dingin. Membuat selera Kimmy semakin menyukainya.
"Sedang apa kamu disini?"
Tiba-tiba suara Reno mengagetkan Nadya, dan hampir saja makanan itu akan tumpah.
"Kau mengagetkan saja, Kak!" tukas Nadya.
"Maaf. masa segitu aja kaget. Ngelamunin apa sih?" ucap Reno sembari mengambil air minum.
"Hem, jangan-jangan kamu sedang memikirkan si Yongki," celetuk Reno.
Seketika Nadya pun berhenti melangkah dan berkata, " Memangnya kenapa, Kak? Gak boleh kah?"
Sejenak Reno terdiam sambil menatap wajah Nadya yang cantik nan ayu.
"Tak bisa peka sedikit kah dengan perasaanku?" ucap Reno pelan.
"Ma-maksud Kakak apa? Aku sungguh tidak mengerti,"
"Aku sangat mencintaimu, Nadya!" ucap Reno.
Deg
Seketika jantung Nadya berdetak kencang, ia sudah menduganya. Selama ini, sikap Reno terhadapnya memang sudah berbeda dari yang sebelumnya. Apalagi ditambah waktu bertengkar dengan mereka, Nadya merasakan hal yang memang sungguh berbeda.
"A-aku, aku ..."
"Kamu tidak perlu membalas perasaanku, karena aku tau, kamu lebih mencintai Yongki daripada aku. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, aku akan terus mencintaimu walau cintaku taka akan pernah kamu balas," ucap Reno sembari meninggalkan Nadya di dapur.
Sementara, dibalik pintu dapur, ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Dicka. Untungnya, Reno tidak melihat adanya Dicka, ia langsung saja melangkah menuju ruang keluarga.
"Kenapa hatiku jadi tidak karuan begini," ucap Dicka dalam hatinya.
Tiba-tiba lamunannya buyar, gara-gara Nadya menyapanya.
"Kak Dicka ngapain disitu? Kimmynya kemana?" sahut Nadya.
"A-anu, Kimmy lagi asyik dengan mainannya. Jadi aku mau ambil minum dulu, eh tiba-tiba tadi ada cicak kecil disini, tapi kemana ya, tiba-tiba ngilang gitu seperti jin," canda Dicka.
"Jangan-jangan memang benar itu jin," ucap Nadya sembari melangkah menuju ke ruang keluarga.
"Hampir saja keceplosan," gumam Dicka.
🍭🍭🍭🍭🍭
Sementara di Rumah Sakit Putra Bahagia...
Yongki dan Ayahnya Riri, sedang berbincang-bincang mengenai soal Riri. Yongki pun meresponnya dengan baik. Tidak terpikirkan oleh Yongki, jika hal itu ada maksud tertentu dibalik rencananya Ayah Riri.
"Oia, anakku hari ini sudah di perbolehkan pulang, kau tidak ingin menemuinya?" ucap Ayahnya Riri.
"Oh, te-tentu saja Pak, kalau begitu mari kita menemuinya sekarang," ajak Yongki.
Mereka berdua pun langsung menemui Riri, yang sedang berkemas-kemas untuk segera pulang ke rumahnya.
Tidak lama kemudian, Yongki dan Ayahnya Riri sudah datang menghampirinya. Seketika, kedatangan Yongki disambut baik dengan Riri dan ibunya. Mereka begitu antusias ketika Yongki datang.
Bahkan, mereka tak henti-hentinya memuji Yongki. Hal ini membuat Yongki jadi merasa kurang mengenakan dihati. Karena, Yongki tidak terbiasa dengan pujian-pujian orang lain, terkadang membuat dirinya ilfil.
"Oia, Ki. Aku sudah bernadzar, jika aku sembuh, aku ingin sekali mengunjungi daerah kamu, dulu aku pernah kesana, tapi sekarang aku lupa. Mau kah kamu antar aku kesana? Hanya pulang pergi ko, tenang saja semua ongkosnya aku tagung," ucap Riri dengan semangatnya.
Hal itu pun disetujui oleh kedua orang tuanya. Mereka malah ingin ikut bersama, dengan alasan ingin mengetahui tempat daerah Yongki. Apalagi disana banyak tempat wisata yang menakjubkan.
Namun, disisi lain, Yongki malah kebingungan, ia serasa enggan untuk mengantar mereka menuju kesana. Karena jika Yongki pergi ke tempat asalnya, sudah pasti harus menemui kedua orang tuanya. Dan sudah pasti mereka akan mempertanyakan soal asmaranya yang membuat Yongki semakin tidak senang.
"Kenapa harus kesana? Memangnya tidak ada tempat lain? Tempat wisata kan banyak," ucap Yongki.
"Tapi aku sudah bernadzar kesana, kalau kamu tidak mau yasudah aku tidak memaksa," ucap Riri cemberut.
Yongki semakin bingung, apalagi disaksikan oleh kedua orang tuanya. Hal ini membuat Yongki malu.
"Kalau aku pergi, apa alasan aku kepada Nadya?" batin Yongki.
BERSAMBUNG...