HOT DADDIES

HOT DADDIES
Kedatangan Ibu Dicka



"Andi? Kalian kenal Andi?" ucap Nadya memotong pembicaraannya Dicka.


Seketika Dicka dan Yongki terkejut mendengar suara Nadya yang tiba-tiba berada tepat di belakang Yongki. Mereka berdua gelagapan, entah harus bagaimana untuk menjelaskannya kepada Nadya, agar dia tidak mengetahuinya sebelum rencana Dicka dan yang lainnya, untuk menjebloskan Pak Arif ke penjara terlaksanakan. Padahal apa yang dipikirkan mereka, belum tentu sama dengan pikiran Nadya.


"I-iya kenal," ucap Yongki gugup.


"Benarkah?" ucap Nadya membelalakan matanya dengan rasa tidak percaya.


"Mereka kenal? Aku harus bagaimana ini! Jangan-jangan mereka mengetahui siapa diriku yang sebenarnya!" ucap Nadya dalam hatinya.


"Iya, dia temanku! Waktu masih kerja bareng, dia sering mampir kesini, yakan Ki?" ujar Dicka sembari melirik ke arah Yongki.


"Iya betul," ucap Yongki sembari menganggukan kepalanya.


Tiba-tiba suara tangisan Kimmy terdengar nyaring sekali. Reno yang sedari tadi masih berada di dalam kamar Kimmy, langsung keluar kamar sembari menggendong Kimmy dan berkata, "Sepertinya dia minta susu,"


Nadya yang tengah keheranan kepada mereka berdua, tidak sempat berkata-kata lagi ia langsung menghampiri Reno dan menggendong Kimmy.


"Aku buatkan susu dulu," ucap Nadya datar.


Seketika rasa was-was pun sirna. Mereka berdua menghela nafas dalam-dalam dan bersyukur percakapannya tidak dibahas lagi.


"Syukurlah, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi," ucap Yongki.


"Memangnya ada apa?" kata Reno penasaran.


Reno tidak tahu kalau Nadya penasaran dengan yang namanya Andi. Karena pada saat itu, ia masih berada di dalam kamarnya Kimmy.


"Nanti saja deh dibahasnya, malam ini bukan waktu yang sangat tepat untuk membicarakan masalah Kimmy. Kita istirahat saja, bye," ucap Dicka sembari nyelonong masuk ke kamarnya.


"Dih Si Wasjud, yang ngajak bahas soal ini siapa? Kan Lo Wasjudd!" ucap Yongki menyunggingkan bibirnya.


"Emang parah dia! Ya sudah lah aku cape mau istirahat juga," ucap Reno sembari menyusul Dicka.


"Yakin kalian mau istirahat? Okey lah aku makan semua makanan yang ada di meja!" teriak Yongki.


Seketika, Dicka dan Reno ingat kalau Nadya masak untuk makan malam ini. Mereka pun langsung keluar dari kamarnya sambil berlari seperti hendak berebutan menuju ke ruang makan. Mereka tidak mau ketinggalan dan tidak mau makanan kesukaannya diambil orang.


"Dasar bocah!" tukas Yongki.


Yongki pun menyusul mereka berdua dari belakang. Ketika hendak masuk ke ruang makan, Nadya terlihat sedang menimang-nimang Kimmy yang masih meminum susu dalam botolnya. Kimmy seakan kembali tertidur lagi. Ia sudah tidak ada tenaga untuk meminum susu yang masih tersisa di dalam botol.


"Sudah tidur kah?" tanya Yongki.


"Sebentar lagi," jawab Nadya.


"Ya sudah, sini biar aku saja yang menidurkannya, kamu makan saja sana bareng mereka," ucap Yongki sembari menyodorkan tangannya.


"Tidak usah, Kak. Biar aku saja yang menidurkan Kimmy. Kak Yongki makan saja duluan, pasti sudah lapar kan?" ucap Nadya pelan.


"Sudah, kamu makan saja sana! Aku akan membawanya ke tempat tidur," ujar Yongki sembari merebut Kimmy dari tangan Nadya.


Nadya pun tidak bisa berkata-kata lagi, karena Yongki telah mengambil Kimmy darinya dan Yongki pun langsung menuju ke kamar Kimmy. Sementara, Dicka dan Reno sudah berada di depan meja makan, mereka sudah melahap makanan kesukaannya.


"Ayo sini, makan!" ajak Dicka.


Nadya pun menuruti permintaan mereka. Ia langsung duduk didekat antara mereka berdua.


"Masakanmu enak sekali, Nad," puji Reno.


"Makasih Kak, padahal aku pertama kali masak, semenjak berada di rumah ini loh," ungkap Nadya.


Tiba-tiba Yongki pun datang menghampiri mereka. Ia pun langsung ikut makan bersama. Obrolan demi obrolan mereka lontarkan tanpa menyinggung soal yang namanya Andi, hingga waktu makanpun telah usai. Mereka juga tidak lupa untuk membereskan meja makan beserta piring dan gelas yang telah mereka pakai.


*****


Sementara di tempat Ibunya Dicka...


Samanta adalah tempat dimana Dicka dilahirkan. Kota yang indah nan sejuk, penuh dengan pepohonan yang besar di sepanjang sisi jalan raya. Keramaian di kota itu, sudah tidak diragukan lagi. Karena tempat tinggal Dicka, berada di tengah-tengah pusat pertokoan. Setiap harinya ramai terus. Bahkan suara kendaraan yang berlalu lalang masih terdengar hingga malam tiba.


Adik perempuan Dicka satu-satunya yang bernama Maharanie sedang menyiapkan segelas air hangat untuk sang ibu. Ia sering disapa Rani, gadis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku SMA ini, sangat perhatian dengan ibunya. Sama halnya dengan Dicka, mereka anak-anak yang baik dan penuh kasih sayang terhadap ibunya.


Ibu kedua anak ini, bernama Hany. Ia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tetap saling menyayangi terhadap semua orang, terutama untuk keluarga. Agar suatu saat, kasih sayang itu akan terbalaskan dengan sendirinya.


"Bu, apa yang sedang ibu pikirkan? Dari tadi melamun terus," tanya Rani sembari menyodorkan segelas air hangat untuk ibunya.


"Ibu merindukan Kakakmu, Nak. Sudah lama ibu kangen dengan suara dia. Apa dia lupa sama kita? Bahkan untuk menelepon saja tidak," pekik Bu Hany.


"Ibu sabar yah, mungkin Abang sedang sibuk-sibuknya kerja, jadi tidak sempat mengabari kita," ucap Rani sembari memeluk ibunya.


"Waktu sebelum pergi dia janjikan sama kita, kalau sudah berada di kota Petra, dia akan segera menghubungi Ibu!" ucap Bu Hany kesal.


"Atau jangan-jangan dia sedang kesulitan, Nak. Ibu jadi khawatir dengan Abangmu," ucap Bu Hany.


"Jangan berpikir negatif dulu, Bu. Percaya deh, Abang pasti baik-baik saja," ucap Rani sembari menggenggam tangan ibunya agar tidak terlalu mencemaskan Kakaknya.


"Ya tapi hati Ibu tidak tenang, Sayang. Apa kita menyusul saja ke kota Petra?" usul Bu Hany.


"Ibu, tenang dulu. Kita belum tau Abang ada di daerah mana, meski kita tau kota tujuannya adalah kota Petra, tapi kota Petra itu sangat luas,Bu," ucap Rani.


"Gampang, tinggal minta alamatnya ke kantor polisi, yang dulu Kakakmu bertugas sebelum pindah ke kota Petra," ujar Bu Hany dengan sumringah.


"Ibu yakin mau nyusul Bang Dicka? Terus bagaimana dengan aku, Bu? Besok kan sekolah," ujar Rani mengkernyitkan alisnya.


"Minta izin dulu saja ke sekolahan, soalnya Ibu ingin secepatnya bertemu dengan Abangmu, kalau udah bertemu kan hati Ibu jadi tenang," ungkap Bu Hany.


"Yasudah deh, kalau begitu," ucap Rani sembari cemberut.


Padahal dalam hatinya ia sangat senang. Apalagi akan pergi ke luar kota, ia tambah senang dan sumringah.


"Asyik, Ibu memang the best deh. Tau saja apa yang aku mau, he-he," gumam Rani.


Keesokan harinya, mereka berdua telah bersiap-siap untuk menyusul Dicka ke kota Petra dengan menggunakan kereta api. Sebelumnya, mereka mendatangi kantor polisi, tempat dimana Dicka bertugas dulu, sebelum di pindahkan ke kantor pusat. Tujuan mereka hanya untuk menanyakan alamat kantor polisi yang baru. Agar pada saat di kota Petra, mereka mudah untuk menemui Dicka. Setelah mendapatkan alamat kantor polisi itu, akhirnya mereka berdua langsung berangkat menuju kota Petra.


Beberapa jam kemudian, mereka berdua telah berada di kota Petra. Dan langsung segera mencari kantor polisi dimana Dicka bertugas. Setelah menemukan kantor itu, mereka berdua langsung masuk ke ruangan Sentra Pelayanan Kepolisian dan menanyakan perihal alamat yang sekarang Dicka tempati.


Sebelum memberikan alamat dengan cuma-cuma, polisi yang berjaga disana memberitahukan terlebih dahulu kepada Dicka, bahwa ada seorang ibu beserta anak gadisnya ingin sekali bertemu dengan dirinya. Pada hari itu, Dicka belum sempat ke kantor, karena langsung kerja ke lapangan. Sontak saja ia kaget mendengar penjelasan dari temannya bahwa ibu dan adiknya sudah berada di kota Petra.


"Ya Allah! Aku lupa janjiku pada Ibu! Bagaimana ini?" ucap Dicka sembari menggaruk kepalanya yang nyatanya tidak gatal sama sekali.


*


*


*


BERSAMBUNG...


Halo teman-teman! Akhirnya Hot Daddies up lagi ^^ setelah berhari-hari hiatus wkwkwk.


Mohon maaf jika ada tulisan yang typo atau sejenisnya. selamat membaca!