
Waktu semakin sore, namun Yongki tak kunjung datang. Mereka sudah jera menunggu kedatangan Yongki. Bahkan Kimmy sudah mulai rewel, dan hal itu membuat mereka panik dan kesal.
"Lama banget dia, coba di telepon biar kita gak kelamaan nunggunya," ucap Reno kesal.
"Kalau HPnya aktif, sudah aku telepon dari tadi," tutur Dicka.
"Yaudah, kita berangkat saja, ngapain nunggu orang yang gak pasti," celetuk Reno.
Ngomong apa dia? Nyindir aku kah? ucap Nadya tersinggung dengan omongan Reno.
"Gimana? Mau berangkat duluan atau nunggu Yongki pulang," tanya Dicka.
"A-aku, maunya nunggu Kak Yongki pulang, tunggu saja dua menit lagi. Jika tak kunjung datang, kita berangkat saja," ucap Nadya.
Mereka pun menyetujui usulan Nadya. Sambil mengajak Kimmy bermain, namun waktu tidak terasa, kini dua menit pun sudah berlalu sementara Yongki tak kunjung datang.
"Yasudah lah, ayo Kak kita berangkat saja," tutur Nadya.
"Yakin?" tanya Dicka.
"Iya, nanti keburu malam, dan itu tidak baik buat Kimmy kalau pergi malam-malam," ucap Nadya.
"Yasudah, ayo kita berangkat!" ucap Reno sembari menggendong Kimmy.
Mereka pun akhirnya berangkat tanpa adanya Yongki. Karena, dirinya tak kunjung datang. Mereka berangkat dengan memakai mobil dinasnya Dicka. Untuk menuju ke Mall, dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.
Sesampainya di Mall, mereka pun langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkiran seperti biasanya.
"Ki, kamu yakin gak apa-apa memakai mobil dinasmu dibukan jam kerja? Nanti kalau ada yang melihat gimana? Mampuslah kau," ledek Reno.
"Biarin lah, yang penting sore ini kita happy. Lagian atasanku pasti mengerti, kalau aku tidak punya kendaraan," tutur Dicka.
"Let's go kita turun dan happy-happy," ucap Dicka sembari keluar dari mobilnya.
Mereka pun langsung menuju ke dalam Mall yang terbesar di kota Petra, mereka sangat senang apalagi dengan adanya Kimmy, semakin rame dan semakin meriah, Ini pertama kalinya Kimmy ikut berbelanja ke Mall. Karena, biasanya yang berbelanja adalah Yongki.
"Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini, aku seperti sehabis keluar dari penjara saja. Mereka masih mencariku tidak yah?' batin Nadya.
"Kau masih memikirkan Yongki?" tanya Dicka.
"A-anu Kak, aku rasa sepertinya baru pertama kali berkunjung ke Mall ini, jadi agak sedikit takjub he he," ujar Nadya.
"Oh, yaudah ayo susul mereka, tuh sudah disana," ujar Dicka sembari menunjuk ke arah Reno dan Kimmy.
"Oia, aku baru sadar, Nadya kan dalam pencarian Pak Arif. Semoga saja tidak ada mata-mata disini," batin Dicka.
Mereka pun belanja dengan gembira, bahkan sesekali bercanda dengan Kimmy, sampai-sampai Kimmy tertawa terbahak-bahak. Semua kebutuhan mereka beli, termasuk kebutuhan Kimmy.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, dan selama beberapa jam mereka berbelanja, masih dalam keadaan spirit.
Bahkan mereka tidak sadar, jika hari sudah mulai gelap. Kimmy pun yang sudah terbiasa tidur di jam 8 malam, kini sudah mulai merengek minta di gendong.
Dan benar saja, setelah di gendong, iapun langsung tertidur di pelukan Nadya. Namun, karena dirinya begitu berat, jadi Kimmy ditidurkan di dalam troli. Semua pengunjung yang melihatnya semakin gemas dibuatnya.
Sementara di rumah sakit...
"Jadi kamu tidak mau mengantarkan keinginan anaku?" ucap Ibunya Riri.
"Bu-bukan begitu tapi pekerjaanku masih banyak akhir-akhir ini, maaf kalau aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Kamu juga tau kan, tugas seorang dokter itu bagaimana? Tidak bisa seenak jidat mengatur keinginan demi kepentingan pribadi," tukas Yongki.
Sementara, Riri dan ibunya hanya terdiam melihat percakapan mereka berdua.
"Yasudah, kalau begitu kabari saja jika tugasmu sudah selesai, masa membantu seorang teman saja tidak bisa? Dimana kesolidan kalian?" tutur Ayahnya Riri.
"Iya Pak, saya mengerti. Maafkan saya," ucap Yongki.
"Oke! Yasudah ayo kita berkemas, hari sudah malam, pasti kamu ingin beristirahat," ucap Ayahnya Riri sambil menepuk-nepuk pundak Yongki.
Mereka pun segera bersiap-siap untuk pulang, sementara, Yongki hanya terdiam mengikuti mereka keluar dari ruangan itu. Setibanya di lokasi parkiran, Yongki pamit lebih dulu, karena mobilnya berjauhan dengan mobil Riri. Dan ini kesempatan Yongki untuk segera terlepas dari mereka.
🍭🍭🍭🍭🍭
Setibanya di rumah, Yongki terheran-heran karena, tidak ada yang membuka pintu meski sudah beberapa kali ia ketuk. Bahkan memanggil nama Nadya ataupun Kimmy, tidak ada yang menjawabnya. Apalagi Dicka dan Reno, suasananya hening sesaat.
"Kemana mereka? Apa mereka mengerjai ku? ucap Yongki penasaran.
"Aku akan telepon mereka dulu, mungkin saja mereka belum pulang dan Nadya ..."
"Tidak-tidak! Nadya tidak mungkin kabur lagi!" batin Yongki.
"Ya ampun! HP ku mati lagi!" ucap Yongki sembari memegang dahinya.
Ia benar-benar putus asa, apalagi sepulang kerja yang benar-benar letih, ditambah dengan keinginan Riri. Semakin kalut dan semakin rumit.
"Loh, aku kan punya duplikat kunci! Ngapain nunggu disini,"
Ketika letih melanda, terkadang pikiran dan hati pun ikutan letih. Begitu juga dengan Yongki, saking letihnya, lagi-lagi ia hampir saja melupakan kunci serep yang dimiliknya. Ia pun langsung mengambil kunci serep di dalam mobil, dan langsung saja segera untuk membukakan pintu rumah itu.
Sementara di tempat lain ...
Oleh karena itu, mereka berdua saling bergilir untuk menggendongnya kecuali Nadya. Karena mereka berdua tidak mengizinkannya untuk menggendong Kimmy.
Setelah berada di dalam mobil, akhirnya mereka bisa menghela napas dengan baik.
"Kebayang, jika keliling ke Mall sambil gendong Kimmy, bisa-bisa tubuhku gak punya daging," tukas Reno.
"Bulan depan, kalau gajian lagi, kita beli kereta bayi. Tak sanggup aku mesti gendong si Mbul," ucap Dicka sambil melajukan mobilnya untuk keluar dari area parkiran.
Nadya yang mendengar ocehan mereka berdua, hanya bisa tersenyum lebar. Sementara, Kimmy yang sedari tadi tertidur pulas dipelukan Reno.
Ketika di perjalanan, mereka melewati jalan untuk menuju ke stasiun kereta api, sejenak Dicka berhenti. Ia ingin menawarkan Nadya, untuk mampir ke stasiun.
"Kenapa berhenti disini?" ucap Reno penasaran.
"Ini kan yang ke arah stasiun, Kak?" tanya Nadya keheranan.
"Betul, barangkali kamu mau mampir kesana, nanti ..."
"Aku mau Kak, antarkan aku kesana," ucap Nadya sumringah.
"Okey," ucap Dicka singkat.
"Girang banget! Emang kamu yakin Kakakmu akan datang? Siapa tau dia sudah datang dan kamu tidak ada disana. Atau siapa tau, dia gak berniat untuk pulang," celetuk Reno.
"Kita kesana dulu apa salahnya, jika memang tidak ada, yasudah kita pulang lagi, iyakan Nad?" ucap Dicka sembari fokus menyetir.
"Iya, aku yakin ko Kak, dia pasti datang entah kapan itu," ucap Nadya.
"Iya, mudah-mudahan dia benar-benar pulang dan bisa bertemu denganmu secepatnya," ucap Reno.
"Iya Kak, makasih," ucap Nadya tersenyum manis.
Tidak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di stasiun kereta api. Setelah memarkirkan mobilnya, Dicka sempat ingin mengantarnya masuk ke dalam stasiun, namun Nadya melarangnya. Ia menyarankan agar Dicka dan Reno tetap berada di dalam mobil, sementara dirinya yang pergi sendiri ke tempat itu.
"Ki, apa kamu tidak merasa ada hal yang mencurigakan terhadap Kakaknya Nadya? Ko aku merasa ada yang ganjal dengan Kakaknya?" tanya Reno.
"Aku sedang berusaha mencari informasinya, untuk saat ini yang aku tahu, Nadya adalah anak konglomerat dan memang mempunyai seorang Kakak perempuan. Nah, dia bilang kemarin, katanya selama ini dia tidak mempunyai nomor kontak Kakaknya, apalagi tempat Kakaknya berada. Disitu aku semakin penasaran," tutur Dicka.
"Sudah kuduga! Pasti ada masalah dengan keluarganya. Untuk apa coba dia kabur, kalau memang tidak ada masalah. Biasanya orang kaya suka begitu. Apa-apa kabur, apa-apa bunuh diri, iya kan?" tukas Reno.
"Memang ada masalah. Ada yang bilang bahwa, pamannya jahat. Makanya dia kabur. Aku juga akhir-akhir ini sedang menyelidikinya juga," ucap Dicka.
"Good lah, semoga berhasil. Jika kamu butuh bantuan, aku siap akan membantumu. Karena biar bagaimanapun juga, Nadya adalah gadis yang aku suka. Jadi aku mesti membantunya," ucap Reno dengan percaya diri.
"Haiss! Kalau soal begini gak ingat sama teman sendiri," ucap Dicka.
Dari kejauhan, nampak Nadya sedang menuju ke arah mobil. Seperti biasa, dia tidak mendapati Kakaknya lagi.
"Ssstt, dia kembali," ucap Reno.
Nadya pun membuka pintu mobil dan langsung duduk tanpa sepatah kata pun. Mereka berdua terlihat sungkan, karena merasa tidak enak, jika harus menanyakan Kakaknya yang sudah jelas terlihat nihil.
"Jadi, gimana? Kita pulang saja?" ucap Dicka ragu-ragu.
"Iya," ucap Nadya singkat.
Tanpa basa-basi lagi, Dicka pun langsung menancapkan gas mobilnya dengan cepat. Selama di perjalanan, tidak ada yang berani berbicara. Suasananya hening dan tenang hingga pada akhirnya sampai ke rumah sewaan itu.
Sudah terlihat oleh mereka, mobil Yongki berada di garasi, entah akan marah atau tidak melihat mereka pergi tanpa sepengetahuannya. Namun, mereka sudah sepakat, jika Yongki marah, mereka akan marah balik kepada dirinya. Karena dari awal, mereka sudah menunggunya untuk berangkat bersama, namun dirinya sulit untuk dihubunginya.
"Darimana saja kalian?" tanya Yongki.
"Habis belanja," jawab Reno sembari menggendong Kimmy yang sedang tertidur dan masuk ke dalam.rumah.
Sementara, Nadya dan Dicka sedang mengambil barang-barang yang sudah dibelinya dibagasi mobil.
"Kenapa pulangnya sampai malam begini? Harusnya kalau mau belanja, sedari siang," ucap Yongki sinis.
"Iya Kak maaf. Tadi habis mampir dulu ke stasiun, jadi ..."
"Apa? Ke setasiun lagi? Ngapain?" bentak Yongki sambil melotot.
"Aku ingin bertemu dengan Kakakku, apa tidak boleh?" ucap Nadya lirih.
"Apa maksudmu bentak-bentak padanya? Ini semua salah kamu juga! Di hubungi tidak aktif sama sekali, buang saja HP macam begitu, gak guna!" cetus Dicka.
"Ayo Nad, kita masuk ke dalam!" ajak Dicka
Seketika Yongki pun terdiam, ia merasa bersalah atas ucapannya itu. Untuk meminta maaf pun ia tidak sempat. Karena Nadya sudah masuk ke dalam rumah bersama Dicka.
Suasana di dalam rumah begitu hening, mereka berdua terlihat sibuk membereskan barang-barang belanjaannya. Sedangkan Reno masih menjaga Kimmy tidur di kamarnya.
Melihat hal itu, Yongki semakin tidak nyaman atas perlakuan dirinya terhadap Nadya. Ia pun memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
"Nad, aku minta maaf yah," tukas Yongki.
"Iya Kak, santai saja," ucap Nadya sambil fokus pada barang-barang belanjaan yang sedang dibereskannya.
Dicka yang mendengarkannya pun terlihat biasa saja, karena sudah tau sifat dan wataknya Yongki.
"Oia,aku sudah menemukan identitasnya Kimmy, dia lahir pada tanggal 28 Februari. Jadi meskipun telat kita rayakan saja,"
"Apa Kak? Tanggal 28 Februari?" ucap Nadya kaget sambil membelalakan matanya.
BERSAMBUNG...
Selamat membaca jangan lupa like dan komennya ya ^^