
Udara di pagi hari sangat sejuk. Di tambah dedaunan yang hijau membuat hati terasa damai, tentram dan tenang. Burung-burung pun berkicauan seolah tidak ingin ketinggalan untuk menyambut sang surya terbit.
Reno yang dari tadi berdiri di depan cermin, masih saja ngomel-ngomel karena coretan spidol.
"Hadeuhh, kenapa susah amat hilangnya," ucap Reno sambil membersihkan wajahnya dengan sabun pembersih muka.
Hatinya masih saja kesal. Sementara Dicka yang dari tadi berada di dapur, masih menertawakan Reno. Namun, meskipun begitu ia sudah menyiapkan sarapan pagi, dan siap untuk di santap bersama.
"Ren, ayo sarapan !"
" Iya, tunggu sebentar?"
Tiba-tiba Kimmy terbangun. Ia menangis kencang sampe terdengar ke dapur. Sontak saja, Dicka kaget dan langsung menghampiri nya.
"Haii.. Sayang sudah bangun;" ujar Dicka sambil menyodorkan tangannya untuk menggendong Kimmy.
Semakin hari Kimmy semakin tambah pintar dan bertambah berat. Hal ini, membuat Dicka tambah sayang dan gemes. Kemudian, Langsung saja segera ia bawa ke dapur untuk sekalian sarapan pagi.
"Nahhh, ini dia pelakunya!" teriak Reno sambil mnggelitik tubuh Kimmy. Otomatis Kimmy langsung tertawa terbahak bahak.
"Sudahlah, ayo kita sarapan, jangan sampai kita kesiangan lagi," ucap Dicka sambil mendudukkan Kimmy dikursi bayi. Namun, Kimmy menolaknya. ia merengek sambil menunjuk ke lantai. Ia memberi isyarat pada Dicka bahwa ia ingin duduk dilantai.
"Bhuuuumbaaaaba,"
Begitulah suara yang dilontarkan Kimmy ketika hendak ingin sesuatu sambil menunjuk dengan jari mungilnya.
"Oh! Ya-ya aku faham, kamu ingin duduk dilantai kan?" ucap Dicka sambil tertawa dan langsung ia turuti atas kemauannya Kimmy.
"Hadeuhh, dasar bocah orang mau makan juga. Nih tak kasih mangkuknya sekalian," sambung Reno sambil memberikannya pada Kimmy.
Sontak saja Kimmy pun senang dibuatnya. Melihat tingkahnya yang sangat menggemaskan, kedua pemuda itu tertawa lrpas. Dan Dicka pun langsung saja memberi makan Kimmy, agar tugasnya cepat selesai. Kimmy pun makan dengan lahap.
🌻🌻🌻🌻🌻
Sabtu, 14 desember 2019 adalah hal yang membuat Yongki bahagia. Dimana seseorang yang ia dambakan, kini sedang bersamanya. Tepatnya tidur disebelah Yongki tanpa penghalang apapun.
Padahal Nadya sudah meletakan bantal dan guling di tengah-tengah untuk membatasi tidurnya dengan Yongki. Namun, karena mereka tidurnya seperti anak kecil yang muter-muter kaya kincir, jadilah acak-acakan.
Ketika Yongki membuka matanya, ia sungguh masih tidak percaya jika wanita itu tidur bersamanya. Wanita cantik dan manis membuat Yongki semakin ingin memilikinya.
Apalagi wanita itu tidur, tanpa mengenakan baju atasan. Hanya mengenakan Bra dan celana jeans panjang. Hal ini membuat Yongki semakin bergairah.
Ia terus memandangi wajahnya sampai tiba-tiba Nadya bergerak dan memeluk Yongki dengan mata masih terpejam. Sontak saja yongki kaget dan adik kecilnya pun semakin ingin keluar dari dalam sangkarnya.
Yongki pun semakin bingung, keinginan hasratnya sudah semakin di ubun-ubun. Ingin rasanya melakukan sesuatu tapi ia bertahan. Lagi pula Ia tidak bisa berkutik lagi karena pelukan Nadya begitu erat. Ia hanya bisa menelan salipanya dan memeluk balik si wanita itu.
Pelukannya begitu hangat, membuat Yongki merasa nyaman. Seakan ia tidak mau melepaskannya. Namun , beberapa menit kemudian, Nadya pun terbangun. Ia membuka matanya perlahan-lahan.
Setelah apa yang dilihatnya, ia menjerit histeris sampai-sampai Yongki terguling dari ranjang mewah itu.
"Aduhhh, apa-apaan sih kamu!" bentak Yongki.
Ketika sadar bahwa dirinya sudah ada dibawah lantai. Ia sangat kesakitan. Sementara Nadya hanya bisa melongo dan terkesima melihat apa yang diperbuatnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun segera menolong Yongki untuk membangunkannya dari bawah lantai.
sembari memegang tangan Yongki.
"Nggak sengaja-nggak sengaja. Sakit tau!" kata Yongki dengan nada tingginya.
Setelah itu, Yongki duduk disisi ranjang dan dibantu oleh Nadya. Ketika Nadya hendak mengambil air minum di atas meja kecil, tiba-tiba kakinya terpeleset ke arah Yongki. Otomatis yongki pun langsung memeluknya sambil duduk.
Mereka saling bertatapan satu sama lain dan tak berkedip sama sekali. Pelukan Yongki sangat erat sekali, seolah tidak ingin melepaskannya. Ia kini bisa melihat wajahnya sedekat itu. sampai-sampai pikiran yang kotor pun merasukinya. Namun ia masih dalam batas kesadaran.
Yongki menatap gadis itu dengan sangat tajam. Sesekali ia menatap ke area sensitifnya yang indah, sekal nan ranum. Hal ini membuat Nadya semakin tidak nyaman. Namun karena pelukan Yongki sangat erat, Nadya tidak bisa ngapa-ngapain.
Ketika yongki hendak ingin mencium bibir manisnya , tiba-tiba jari telunjuk Nadya mendarat dibibir Yongki.
"J A N G A N !"
"Kenapa?"
"Ciuman pertamaku sudah direnggut oleh preman bejad itu," ucap Nadyalirih.
Matanya berkaca-kaca seakan teringat kembali dengan kejadian waktu malam itu.
Mendengar kata-kata yang di lontarkan Nadya, Yongki pun langsung memegang tangannya.
Ia tidak memikirkan hal-hal yang membuat dirinya merasa tidak nyaman. Karena yang ia tahu bahwa wanita yang ia dambakan sudah bersamanya. Kejadian waktu malam itu tidak dipermasalahkan oleh Yongki.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, mau ciuman pertama atau kedua itu tidak penting! Karena yang paling penting adalah kamu orang pertama yang membuat aku jatuh cinta !" ujar Yongki dengan tatapan tajam penuh makna.
Mendengar hal itu, Nadya terharu dan simpati kepada Yongki. Tiba-tiba ciuman Yongki pun akhirnya mendarat dibibir manisnya Nadya. Sontak saja Nadya kaget dan matanya membelalak. Namun lama-lama akhirnya ia pun menikmatinya juga.
Mereka saling berpagutan satu sama lain. Penuh hasrat seolah tidak ingin melepaskan nya. Tangan Nadya mencengkram erat pundak Yongki seolah hasratnya bergejolak. Begitu juga Yongki, tidak segan-segan melahap bibirnya dengan rakus tanpa memberi jeda untuk bernafas.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya ciuman mereka terlepas. Mereka saling menatap satu sama lain. Dengan nafas yang memburu dan terengah-engah, membuat hasrat nafsunya semakin memuncak.
Yongki langsung membaringkan tubuh gadis itu tanpa berpikir dua kali. Ia langsung menyentuh area sensitif nya Nadya. Hal ini membuat Nadya seperti tersengat listrik. Erangan-erangan dipagi hari sungguh membuat nafsu mereka semakin bergejolak.
"Sayang! Aku mencintai mu! Aku sungguh mencintaimu!" ujar Yongki sambil menindih tubuh mungil itu dan langsung melahap bibir manisnya lagi.
Nadya pun hanya bisa terdiam dan ikut dalam alurnya Yongki. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Karena ia menikmati suasana yang terjadi pada dirinya.
Nadya sungguh dalam keadaan melayang hingga perasaannya tidak karuan. Ia pasrah apa yang akan dilakukan Yongki pada dirinya. Karena ia juga mencintai laki-laki itu.
Laki laki yang sekarang bersamanya. Laki laki yang telah menolongnya dan membuat ia tergila-gila pada dirinya. Kini ia serahkan jiwa dan raganya demi laki-aki yang ia cintai.
Cup
Kecupan Yongki mendarat didahi Nadya. Ia sungguh bahagia atas apa yang ia lakukan tadi bersamanya.
"Terima kasih Sayang," ucap Yongki sambil menggenggam dan mencium tangan Nadya.
"Hemm," ucap Nadya.
Hanya itu yang dilontarkan Nadya kepada yongki. Ia sungguh tidak percaya atas apa yang ia lakukan dengannya. Matanya berkaca-kaca menatap Yongki, yang sekarang berada diatas ranjang bersama, kini ranjang itu telah menjadi saksi mereka berdua.
BERSAMBUNG...