
"Aku yakin itu orang yang sama ! orang yang aku lihat, waktu di ruang otopsi" gumam Yongki.
"Apakah kakak mu sudah menikah?" tanya Yongki menatap Nadya dengan serius. Sesekali ia menyeka air matanya.
"Belum lah ! ( Deg...jantung Yongki berdegup kencang sekali) dia belum menikah! semenjak lulus kuliah, kita sudah jarang bertemu," ucap Nadya Lirih.
Yongki pun tidak tega mendengar sang wanitanya menangis, ia langsung merangkul dengan lembut.
Ia faham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Apalagi jika ia tau, bahwa kakaknya sudah tiada, ia pasti sulit untuk menerima nya.
Ingin rasanya Yongki memberitahukan hal ini padanya, namun dia belum berani untuk mengatakannya. Sebab, informasinya masih belum akurat. Takut salah bicara.
Di dalam keheningan, tiba tiba Kimmy pun terbangun dari tidurnya. Mereka pun saling melepaskan pelukannya dan segera menghampiri Kimmy.
"Sayang, kamu segera sarapan saja, soal Kimmy, biar aku yang tangani," ucap Nadya sembari menggendong Kimmy untuk segera memandikannya.
Yongki pun menyetujuinya. Lagi pula hari ini, ia mesti berangkat lebih awal untuk mengambil gaji bulanannya.
Sementara di dapur...
Dicka dan Reno sudah lebih dulu berada di ruang makan, mereka juga sama, berangkat pagi-pagi. Karena akhir-akhir ini kesibukan nya sangat padat.
"Waduhh, tumben kalian jam segini sudah rapi," ucap Yongki sembari menghampiri mereka berdua.
"Woh iya donk! tanggal muda gitu loh," celetuk Dicka yang sangat antusias sekali.
Sementara Reno masih Menikmati kopi susunya dengan sepotong roti sandwich buatan Nadya.
"Widih, yang mau pada gajian! senang banget yah, eh aku mau bicara sesuatu sama kalian, ( sambil lirik kanan lirik kiri) aku tadi melihat foto... ( tiba tiba Nadya datang menghampiri mereka sembari menggendong Kimmy) sekilas, pembicaraan nya pun akhirnya terhentikan.
Sementara, mereka berdua keheranan, mereka tidak mengerti dengan apa yang di maksud dengan foto itu. Seketika obrolannya pun terlupakan setelah Nadya berdiri di hadapan mereka. Sosok Nadya sangat penting bagi mereka.
Bagaimana tidak! semenjak Nadya hadir ke rumah itu, semua pekerjaan rumah terurus, dari menjaga Kimmy, menyuci pakaian, memasak dan rumah selalu terlihat rapi. Bahkan dari memilih baju untuk kerja pun, semua nya ia siapkan.
Jadi tidak heran, kalau mereka mengagumi Nadya. Terutama bagi Yongki, ia sangat berarti untuknya.
"Selamat pagii," ucap Nadya sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi juga," tutur mereka serempak.
"Ayo, sini Kimmy duduk di sebelah Daddy!" ajak Yongki sembari menyodorkan tangannya.
"Eh, kalian pasti belum tau! Kimmy udah bisa bicara loh! (dengan semangatnya) dan apa kalian tau? kalimat yang pertama ia lontarkan adalah papa..." (Belum juga selesai bicara, Dicka sudah memotong nya)
"Jadi Papa? bukan Daddy?" celetuk Dicka sembari menyeruput kopi susunya.
Sementara, Nadya dan Reno tertawa cekikikan.
"Hey, mana mungkin ya! anak yang baru bisa bicara, tiba-tiba langsung panggil Daddy!" jawab Yongki menyunggingkan bibirnya seolah tidak mau kalah.
(Sementara, Kimmy menyimak obrolan mereka, ia lirik sana lirik sini seolah faham dengan obrolan orang dewasa)
" Ya, berarti fix yah! sudah jelas (Sembari berdiri dan menghampiri Kimmy untuk menggendongnya ) orang yang pertama dia panggil adalah aku, P..a..p..a!" ucap Dicka senang.
"Oh, ya gak bisa begitu donk! kemarin hanya ada aku yang ia panggil! jadi otomatis panggilan itu mengarah kepadaku," tukas Yongki geram.
"Sssttt, kenapa kalian jadi debat masalah beginian?" ucap Reno sambil ketawa kecil. Sementara Nadya masih ketawa ketiwi melihat tingkah laku mereka.
"Nih ya, dengerin baik baik! ( sambil menatap Kimmy) Sayang, coba bilang padaku Pa..pa..!" ujar Dicka dengan penuh semangat.
Dan Kimmy pun tiba tiba menuruti ucapan Dicka, "P..a..p..a!"
"Horeee, tuh kan!" ujar Dicka dengan pede nya.
Yang lain nya hanya bisa tertawa, sedangkan Yongki sudah manyun dari tadi.
BERSAMBUNG....