HOT DADDIES

HOT DADDIES
Ketahuan!



Dicka dan Reno masih dalam perjalanan menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Andi. Seperti biasa, mereka janjian di cafe Meranti. Tempat yang sering mereka kunjungi jika ada sesuatu hal yang penting.


"Kenapa sih kamu pake ngajak-ngajak aku segala? Ini kan urusanmu, kenapa aku harus terlibat? Jangan-jangan kamu iri ya, aku berduaan sama Nadya!" tutur Reno menyunggingkan bibirnya.


"Setiap orang yang melihat Nadya, pasti akan menyukainya. Dan aku sebagai pria sejati, tentu saja ada rasa yang sama. Masa iya aku menyukai sesama kaum adam! Yang benar saja," ucap Dicka dengan santainya.


"Tuh kan, kamu juga menyukainya, dulu bilang katanya jangan menyukai wanita sahabatmu sendiri. Nah sekarang kamu merasakannya kan? Dasar tidak konsisten," ledek Reno.


"Kalau yang ini beda lagi, Wasjudd," ucap Dicka sambil fokus menyetir.


"Reno! Moreno Farendra! Calon pengacara terganteng sekota Petra," tutur Reno menyunggingkan bibirnya


"Ya-ya terserah kamu saja. Asal kamu tahu, suka atau tidaknya kepada Nadya, itu tidak akan membuat kehormatanku menjadi murahan. Karena aku tidak akan pernah merebut sesuatu yang telah menjadi milik orang lain. Lebih baik tidak punya cinta, daripada harus mati-matian untuk mendapatkan hati seseorang, yang sudah jelas cintanya akan bertepuk sebelah tangan," tutur Dicka.


Sementara, Reno yang sedang mendengar ocehan Dicka, kini hanya bisa terdiam kaku. Bahkan untuk berbicara pun, serasa susah untuk diungkapkannya.


Di sepanjang jalan pun, tidak ada perbincangan apapun lagi. Mereka hanya fokus terhadap jalan raya. yang akan menuju ke tempat yang sudah dijanjikan oleh mereka.


Sesampainya di Cafe Meranti, mereka langsung segera menemui Andi.


"Maaf Pak, lama menunggu. Oia saya bawa rekan saya, namanya Reno," ujar Dicka.


"Oh, iya-iya. Salam kenal Pak Reno," ucap Andi sembari berjabat tangan.


"Panggil saja Reno, Pak. Soalnya belum jadi Bapak-Bapak, he he," ucap Reno sembari tertawa kecil.


"Oh, okey Reno. Mari silahkan duduk, kita pesan makanan dulu saja, biar enak ngobrolnya," ujar Andi.


Andi pun memanggil pelayan cafe itu, untuk memesan segala macam makanan. Setelah itu, baru mereka mengobrol langsung pada intinya.


"Oia ada sesuatu yang harus kita bicarakan Pak Dicka, tapi ..."


Andi berhenti sejenak untuk memastikan kalau Reno ada di pihak dirinya. Sebab, ia sangat hati-hati dengan masalah yang sepenting ini. Ia takut jika rencana yang selama ini ia lakukan gagal dengan sia-sia.


"Oh, Pak Andi tenang saja. Temanku ini ada dipihak kita. Lagian dia seorang pengacara, jadi akan sangat membantu kita, jika suatu saat kita membutuhkan tenanganya," ucap Dicka sambil melirik ke aeah Reno.


"Kau!" ucap Reno sembari membelalakan matanya ke arah Dicka.


"Apa itu benar, Pak Reno? Eh, maksudku Reno," tanya Andi sembari tersenyum lebar.


Andi begitu sangat sumringah, ketika Dicka menyebut Reno adalah seorang pengacara. Jadi ia tidak perlu repot-repot untuk mencari pengacara yang berpihak pada dirinya.


"Ya, betul Pak, saya seorang pengacara. Tenang saja, aku akan dipihak Bapak," tutur Reno.


"Syukurlah, semakin lengkap sudah untuk rencanaku ini. Semoga tidak akan sia-sia. Oia, aku membawakan sesuatu untukmu, Pak," ucap Andi sembari menyodorkan barang-barang yang selama ini ia cari.


"Apa ini Pak?" ucap Dicka keheranan.


Begitu juga dengan Reno, ia snagat penasaran dengan barang yang terbungkus plastik itu. Berapa terkejutnya Dicka, setelah melihat apa isi dari dalam plastik itu.


"Ini kan ..."


Dicka hampir tidak percaya jika barang itu ada pada Andi, lalu Reno pun juga ingin melihatnya, ia langsung merebut plastik itu dari tangan Dicka.


"Tas siapa ini?" ucap Reno sembari menggeladah semua isi yang ada diplasik itu.


Namun, ketika dirinya mendapati perlengkapan bayi, Reno langsung tercengang. Ia sungguh kaget dan terkesima melihat barang-barang yang selama ini mereka cari.


"Jadi selama ini, Pak Andi yang mengambil tas milik ..."


Tiba-tiba saja Dicka menyenggol Reno dengan sikut tangannya. Ia tidak ingin Reno membahas soal Kakaknya Nadya. Karena untuk masalah Nadya saja belum kelar.


Seketika, Reno pun terhenti dengan ucapannya itu. Padahal, banyak yang ingin ia tanyakan, kenapa tas itu bisa ada di Pak Andi. Dan terutama untuk Kimmy. Ia sangat penasaran sekali dengan status Kimmy yang sebenarnya.


"Jadi maksudnya, ini apa Pak," ucap Dicka mengkernyitkan alisnya.


"Tolong simpan baik-baik barang ini. Tadinya, Pak Arif menyuruh aku untuk membuang semua yang ada di kantong plastik ini. Tapi aku rasa, bukti-bukti ini akan berguna jika suatu saat diperlukan," ucap Andi.


"Oh, okey Pak! aku akan menyimpannya dengan baik. Terus rencana bapak selanjutnya apa?" tanya Dicka.


"Tenang saja Pak, kami akan menjaganya," celetuk Reno.


"Yasudah kalau begitu, pertemuan kali ini cukup sampai disini dulu. Aku tidak punya waktu yang banyak, jadi harus cepat-cepat pergi dari sini," ujar Andi sambil melirik ke arah jam tanganya.


"Aku pamit dulu, terima kasih untuk semuanya Pak," ucap Andi.


Andi pun melangkah pergi dari cafe itu. Namun, tiba-tiba Reno berteriak memanggil Andi. Sebab, makanan yang ia pesan baru saja datang. Namun, Andi menyuruhnya untuk diberikan kepada pelayan itu. Ia tidak mungkin memakannya, karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi.


"Terima kasih banyak, Pak," ujar pelayan itu.


Ia begitu senang ketika mendapat makanan dari Andi.


"Nona, apakah semua makanan ini, sudah dibayarnya?" tanya Dicka.


"Sudah, Pak, kalau begitu saya permisi dulu Pak," ucap pelayan cafe itu.


"Dicka, setua apa kita, sampai-sampai orang-orang pun memanggil kita Bapak?" ucap Reno sembari melahap makanan pesanannya.


"Kamu mau tau?"


"Hemm,"


"Tuh, lihat orang yang sedang duduk di kursi itu," jawab Dicka sembari menunjuk ke arah orang itu.


"Apa! Yang benar saja!" tukas Reno sembari menyunggingkan bibirnya


Mereka pun melanjutkan makanannya yang sudah tersedia begitu banyak di meja itu.


🍭🍭🍭🍭🍭🍭


Sementara, di tempat lain ...


"Pak, saya kan mintanya ke tempat tukang urut, ko kesini?" tanya Yongki penasaran.


Bagaimana tidak, jalan yang menuju ke arah tukang urut, adalah jalan yang akan menuju ke rumah tercintanya.


"Maaf Pak, memang kesini arahnya," ucap supir taxi itu.


"Benar saja, melewati rumahku, bagaimana ini? Masa iya aku harus menghadap ibuku sambil membawa perempuan," batin Yongki.


"Sudah sampai Pak," ucap supir itu.


"Oh, iya, tunggu sebentar ya Pak," jawab Yongki sembari turun dari taxi itu.


"Semoga saja, ibuku tidak mengetahui keberadaanku sekarang ini," batin Yongki.


Yongki pun memapah Riri ke tempat tukang urut yang sudah menjadi langganannya waktu ia masih sekolah dulu.


"Haduh, kenapa aku jadi deg-degan begini, gimana kalau tukang urut itu masih mengenali wajahku, matilah aku,"


"Kamu kenapa dari tadi melamun, Ki? Kamu masih marah kah sama aku?" tanya Riri.


"Nggak ko, santai saja," ucap Yongki singkat.


Ketika hendak akan mengetuk pintu rumah tukang urut itu, tiba-tiba saja pintunya terbuka. Dan hal itu membuat Yongki dan Riri kaget.


Dan orang yang membuka pintu itu langsung keluar, namun tidak disangka-sangka, orang yang keluar dari rumah tukang urut itu adalah sosok orang yang dikenali Yongki. Dan hal itu semakin syok dibuatnya.


"Ibu!" teriak Yongki dengan membelalakan matanya.


BERSAMBUNG....


Yo yo yo baca lagi! mohon untuk dukungannya pada kalian untuk like dan votenya HOT DADDY agar author tetap semangat nulisnya ^^


kalau tidak suka, skip saja gak usah dibaca. jangan sampe ngasih bintang yang buruk. karena nulis itu tidak segampang makan sup miso wkwkwk