
"Apa? Maksudnya gimana?" ucap Reno.
"Terus bagaimana nanti kalo ganti baju? Mau pake baju siapa?" tukas Dicka.
"Kita ke kantor polisi, peralatannya ada disana," ujar Yongki.
Mereka pun langsung menuju ke kantor polisi. Setelah berada disana, semua barang dan tas milik almarhum ibunya Kimmy sudah tidak ada. Ada orang yang mengambilnya. Betapa kaget nya Yongki setelah mendengar perkataan dari polisi itu. Karena orang yang mengambil barang-barang itu ia tidak mengenalnya.
"Siapa yang melakukan ini semua?"
Tidak lama kemudian polisi yang pernah diberi kartu nama itu pun datang menghampirinya. Dan memberitahukan bahwa orang yang mengambil barang-barang itu adalah keluarga dari almarhum ibunya Kimmy.
Betapa kagetnya Yongki setelah mengetahui hal itu. Kenapa keluarganya tidak menanyakan keberadaan bayi itu, tetapi malah mementingkan barang-barang yang dimiliki ibunya Kimmy. Bahkan peralatan bayi pun dibawanya.
"Pak, kenapa Bapak tidak menghubungi saya, kalau ada orang yang mau mengambil barang itu, kan bayi nya masih ada bersama saya," ucap Yongki keheranan.
"Lho, dia bilangnya, bayi itu sudah ada bersama mereka, makanya aku berikan,"
"Apa! Kenapa Bapak percaya begitu saja,"
"Soalnya dia memberikan identitasnya, jadi saya percaya saja. Nih, ini beberapa identitasnya,"
Pak polisi itupun langsung memberikan identitas almarhum ibunya Kimmy. Yongki semakin syok dibuatnya, karena identitas itu sangat akurat.
Tapi ia tak habis pikir, kenapa bayinya tidak dipedulikan, padahal setiap bayi sangat berharga dimata keluarga. Apalagi bayi seperti Kimmy yang sangat lucu, montok dan menggemaskan.
Karena sudah tidak ada yang dibahas lagi, Yongki pun akhirnya pamit untuk pergi dari kantor polisi itu. Dalam benaknya, ia tak habis-habis untuk memikirkan kejanggalan yang masih melekat di hatinya. Sampai-sampai, sapaan dua pemuda itu tidak ia hiraukan.
"Woy! Kamu ini kenapa sih? Mikirin apa? Dari tadi melamun terus, untung gak nabrak tiang listrik," teriak Reno.
Setelah beerada di dalam mobil, Yongki pun menjelaskan semuanya. Sementara, mereka berdua hanya terdiam keheranan. Mereka berdua tidak percaya Apa yang dikatakan Yongki itu, namun kenyataannya memang peralatan Kimmy sudah tidak ada.
"Ko, aku merasa ada yang tidak beres ," ucap Dicka.
"Sama, apa kita suruh polisi itu menidak lanjuti perihal kasus ini?" ucap Yongki.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang akan mengurusnya. Karena, aku yakin ada suap menyuap diantara mereka. Jika polisi itu jujur, dia pasti akan teliti dan akan menghubungi kita," tukas Dicka.
"Nah, setuju!" ucap Yongki dan Reno dengan serempak.
"Sekarang kita fokus saja urus bayi ini. Anggap saja ini suatu tantangan dalam hidup kita, sebagai calon orang sukses," ucap Yongki dengan semangatnya.
Mereka berdua pun menyepakatinya.Tanpa basa basi lagi, Yongki pun langsung menancapkan gas mobilnya menuju arah pulang.
Di perjalanan, baby Kimmy menangis terus. Mereka bertiga kebingungan, karena sedari tadi ia belum juga mendapatkan susu. Untungnya, di persimpangan jalan ada rest area. Mereka pun mampir sebentar untuk membeli sesuatu untuk Kimmy.
"Yuk, kita mampir dulu pasti dia kelaparan, " tutur Yongki.
"Hilih, emang dia kelaparan, makanya nangis terus dari tadi," cetus Dicka.
Mereka bertiga pun segera turun dari mobilnya dan menuju ke toko yang ada di rest area. Sementara di kejauhan ada sosok wanita cantik sedang menuju ke rest area juga. Ya dia adalah Nadya yang berhasil kabur dari rumahnya. Dan sepertinya, pamannya tidak mengetahuinya makanya dia bisa lolos.
Sesampainya di rest area, Nadya melihat tiga sosok pria yang sedang ribut gara-gara baju dan susu bayi. Padahal, mereka sudah dibantu oleh petugas tokonya.
Tapi tetap saja berisik, malahan petugas toko itu kena sasaran mereka. Ditambah baby Kimmy yang nangis terus sedari tadi, hal ini membuat suasana toko menjadi semakin rame.
Karena ada rasa simpati, Nadya pun langsung menghampiri mereka. Ia tidak tega sama babynya yang masih menangis.
"Permisi, maaf Kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadya.
Dan sontak saja mereka bertiga langsung kaget dan terkesima melihat paras Nadya yang begitu cantik dan manis.
"Oh ini Mba, kami sedang mencari sesuatu untuk baby he he," ucap Yongki.
"Oh gitu, sini biar saya yang menggendongnya," ucap Nadya sambil menyodorkan tangannya ke arah Reno.
Reno pun memberikannya kepada gadis itu. Dan setelah Nadya menggendongnya, baby itu berhenti menangis dan terdiam sambil menatap Nadya seolah mengenalinya.
"Loh ko berhenti nangisnya?" ucap Reno keherenan.
Mereka bertiga pun langsung melanjutkan belanjanya didampingi oleh Nadya. Tidak hanya mendampingi, ia pun membantu ketika para pemuda itu kesulitan.
Semua barang yang mereka beli adalah pilihan dari Nadya. Setelah semuanya sudah lengkap, mereka pun langsung menuju kasir untuk bertransaksi.
Ketika sedang bertransaksi, Nadya sempat menanyakan keberadaan Ibunya Kimmy. Namun, ketiga pemuda itu, tidak ada yang menjawabnya. Hal ini membuat Nadya semakin penasaran.
Setelah beres bertransaksi mereka pun keluar dari toko itu dan segera membereskan barang-barang yang sudah dibeli tadi ke mobil Yongki. Sementara Kimmy masih digendong oleh Nadya sambil duduk di depan toko itu. Dan setelah beres, mereka pun langsung menghampiri Nadya.
"Kalau boleh tau Mba ini siapa?" tanya Dicka malu-malu.
"Oh iya, hampir saja lupa memperkenalkan diri. Kenalin nama saya Nadya, " jawab nadya sambil tersenyum manis.
"Ohh kenalin juga, saya Dicka dan mereka berdua teman saya Yongki dan Reno," sambung Dicka.
"Ya salam kenal," sahut Nadya dengan senyumannya yang membuat mereka bertiga semakin tergila-gila.
"Jadi, ibunya baby ini kemna?" tanya Nadya lagi.
"Dia, sudah meninggal," jawab Yongki singkat.
"Ya ampun, kasian sekali bayi ini," ucap Nadya sambil memeluk erat Baby Kimmy.
Tidak lama kemudian, baby Kimmy pun sudah tertidur dipangkuan Nadya dengan lelap. Oleh karena itu, Nadya minta ijin untuk pergi. Dan Kimmy pun ia kembalikan lagi kepada Reno.
"Kalo begitu aku pamit ya, sampai ketemu lagi di lain waktu," ucap Nadya.
"Tunggu Mba! kalau boleh tau, Mba mau kemana? Biar saya antarkan sekalian pulang!" ucap Yongki.
"Ah, tidak perlu. Rumah saya dekat ko, kalian cepat pergi saja kasian babynya nanti bangun lagi," jawab Nadya.
"Tapi Mba ..." ucap Yongki.
Belum juga selesai bicara, Nadya sudah langsung meninggalkan mereka. Padahal Nadya sendiri juga tidak tau tujuannya mau kemana.
Sementara mereka bertiga masih menatap Nadya pergi seolah tidak mau kehilangan Nadya. Tidak lama kemudian, mereka pun tersadar, Karena mendengar rengekan baby Kimmy.
Karena takut nangis berkelanjutan, apalagi belum membuatkan susu untuknya, mereka pun langsung bergegas menuju Mobil Yongki dan segera menuju pulang.
Di perjalanan mereka heboh penuh canda tawa dan sesekali rebutin Nadya dan berharap bisa ketemu lagi di lain waktu. Sementara baby Kimmy tertidur pulas.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Sementara di tempat lain...
"Tolong panggilkan Bi Inah kemari," sahut Pak Arif sambil menbaca koran di teras rumah.
"Baik Pak," jawab Andi.
Tidak lama kemudian, Andi pun sudah membawa Bi Inah ke hadapan Pak Arif. Bi Inah sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Paka Arif.
Dia sudah menyiapkan diri dari kemarin-kemarin, bahwa sesuatu yang terjadi pasti ada konsekuensinya. Dia sudah ikhlas apa yang akan dilakukan Pak Arif kepada dirinya. asal jangan melukai Nadya.
"Bi, dari kemarin, aku tidak melihat Nadya keluar kamar? sakit kah?" ucap Pak Arif.
"Ah, iya Tuan. Dia bilang sedang tidak enak badan," ucap Bi Inah bohong.
"Ohh gitu. Jika sudah baikan, suruh menemuiku," tutur Oak Arif.
"Baik Pak,"
Kemudian Bi Inah pun langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Dan memikirkan lagi bagaimana caranya untuk tidak diketahui oleh Pak Arif bahwa, Nadya sudah dari kemarin kabur dari rumah itu.
Tapi sesembunyi-bunyinya bangkai, pasti akan tercium juga. Dan bi inah sadar akan hal itu..
Bersambung..