
Kedua pemuda itu begitu kaget, mereka tidak sadar jika, temannya sudah berada dihadapan mereka.
"Ah, i-itu ... eh ayo kita berangkat. Sudah siang nih," ucap Dicka mengalihkan pembicaraannya.
"Aku akan menidurkan Kimmy dulu," ucap Reno.
"Tidak usah. biar aku saja, takutnya dia bangun lagi kalau kamu yang gendong," tutur Dicka.
Dicka pun langsung segera masuk ke dalam rumah. Semantara, Reno dan Yongki diam berdiri melihat Dicka menuju ke dalam rumah. Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dan hal itu, membuat ketiga pemuda itu telat bekerja.
Untungnya, Yongki tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dan ia pun tidak merasa curiga sama sekali dengan tingkah laku mereka berdua. Selama menunggu Dicka keluar rumah, Reno dan Yongki tidak berbicara apapun. Mereka asyik dengan gadgetnya masing-masing.
Namun, tiba-tiba sesuatu mengejutkan mereka, ketika Nadya datang menghampirinya, ia begitu anggun dengan gaun yang diberikan oleh Yongki. Dengan senyuman yang manis ia torehkan kepada mereka berdua.
Yongki yang melihatnya sangat terkagum-kagum. Sementara, Reno pun juga merasakan hal yang sama. Ia semakin terpesona dan jatuh hati pada dirinya.
"Kau begitu cantik Sayang, dengan gaun itu," ucap Yongki terpana.
"Aduh, ternyata dia ada disini juga. Aku semakin tidak enak hati," ucap Nadya dalam Hatinya.
"I-ya terima kasih," ucap Nadya singkat.
Sementara, Reno hanya bisa menyaksikan kemesraan mereka berdua. Ia sadar, jika gaun yang ia berikan untuknya, ternyata bukan yang sekarang ia pakai.
Ada kekecewaan dalam hatinya, karena ia merasa, Nadya akan memakai gaun yang diberikannya hari ini. Namun, kenyataannya tidak sebanding dengan yang ada dipikirannya.
Tidak lama kemudian, Dicka pun akhirnya datang menghampiri mereka. Dan mengajaknya untuk segera berangkat karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi. Dan pastinya, mereka bakalan terlambat lagi.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Dicka dan Andi sudah sepakat untuk bertemu di tempat yang sudah dijanjikan oleh Andi. Yaitu di sebuah warung kopi, yang tidak jauh dari area pasar.
Andi sudah lama menunggu Dicka, ia sudah duluan memesan kopi, sembari menunggu Bi Inah belanja.
Namun, selang beberapa lama, akhirnya Dicka datang menemuinya. Dicka diantar oleh Yongki ke tempat warung kopi itu. Namun, ia hanya mengantarkannya saja. Karena ia juga harus bekerja di rumah sakitnya.
Ketika sudah berada di warung kopi, Dicka celingak-celinguk mencari sosok Andi. Ia begitu kesusahan mencarinya. Karena warung kopi itu penuh sesak dengan orang-orang yang sedang memesan makanan. Bahkan warung itu, begitu lengkap yang dihidangkannya, semua makanan serba ada.
Tiba-tiba, suara laki-laki memanggilnya. Dan ternyata dia adalah Andi.
"Pak Dicka, disini," ujar Andi sambil melambaikan tangannya.
Dickapun langsung menghampirinya. Ia begitu semangat dan sumringah. Tidak seperti biasanya. Karena, orang yang akan ditanganinya adalah sosok yang sangat ia sukai, yaitu Nadya.
"Maaf Pak, saya telat," ucap Dicka sembari berjabat tangan.
"Tidak apa-apa Pak, saya malah senang Pak Dicka merespon niat saya," ucap Andi.
"Iya maafkan saya Pak. Karena saya belum faham apa yang dimaksud dengan Pak Andi ini. Tapi setelah melihat file dari atasan, saya mulai penasaran, siapa sosok yang dimaksud Pak Andi itu," ucap Dicka.
"Jadi gini Pak, saya langsung saja ya, soalnya waktunya mepet sekali. Orang yang dimaksud itu adalah Nadya. Ia adalah majikan saya. dia bukan kabur dari rumah, tapi memang sudah direncanakan untuk meninggalkan rumah itu," tutur Andi serius.
"Jadi benar dia adalah Nadya. Orang yang selama ini bersamaku," ucap Dicka dalam hatinya.
"Aku yakin dia bukan orang sembarangan,"
BERSAMBUNG....