
"Yongki!" pekik ibunya Yongki.
Dia begitu kaget, sosok orang yang selalu dinanti-nantinya, kini telah hadir tepat di depan matanya. Meskipun Yongki sudah beranjak dewasa, kebahagiaannya masih tetap jadi prioritas utama bagi ibunya Yongki.
Riri begitu terkesima melihat anak dan ibu saling berhadapan, ia tidak menyangka, jika niatnya ingin bertemu dengan orang tuanya Yongki, kini terlaksana juga. Tanpa ada paksaan apapun.
"Rupanya, Tuhan berpihak padaku," batin Riri sumringah.
"Ini, benarkan anakku? Apa ini mimpi, tiba-tiba kamu ada dihadapanku," ucap Ibunya Yongki dengan tangisan yang bahagia.
"Tidak! ibu sedang tidak mimpi. Ini jelas dan nyata anakmu satu-satunya," ucap Yongki.
Mereka berdua pun berpelukan, rasa bahagia bercampur rindu telah melekat dihati sang ibu. Bahkan mereka tidak mempedulikan adanya orang-orang yang ada disekitarnya.
Pelukan ibunya pun terlepas saat melihat sosok wanita cantik yang ada dibelakang putranya. Ia begitu terpesona melihat penampilannya yang begitu elegan. Ditambah dengan senyuman manis yang tersungging dibibirnya, membuat sang ibu itu semakin menyukainya.
"Siapa dia, Sayang?" ucap Ibunya Yongki sumringah.
"Dia temanku, Bu," ujar Yongki singkat.
"Ya Tante, saya teman Yongki," ucap Riri sembari menghampiri ibunya untuk berjabat tangan.
"Ya ampun, kau begitu cantik, Sayang," ucap sang ibu itu sambil menggenggam tangan Riri.
"Terima kasih, Tante," ujar Riri senang.
Sementara, Yongki hanya bisa melihat mereka berdua yang begitu sangat gembira dengan pertemuannya.
"Andai saja yang ada diposisi itu kau, Nadya," ucap Yongki dalam hatinya.
"Jika semua urusan sudah beres, aku pasti akan mengajakmu ke tempatku, Nadya. Tunggu saja, Sayang," Batin Yongki.
"Terus kalian mau apa kemari? tanya ibunya Yongki keheranan.
"Mau ke tukang urut, Tante. Tadi kakiku terkilir, dan Yongki langsung mengajak aku kemari," ujar Riri sambil melirik ke arah Yongki.
"Ya ampun, cepat masuk kalau begitu. Bi, tolong segera tangani. Aku takut dia kenapa-kenapa," ujar ibunya Yongki panik.
"Ibu ngapain juga ada dimari?" tanya Yongki.
"Ibu habis antarkan makanan untuk Bi Nur. Ayo Sayang kita masuk biar segera ditangani," ujar Ibunya Yongki sambil menghampiri Riri.
Riri pun dipapah oleh ibunya Yongki masuk ke dalam rumah tukang urut itu. Sementara, Yongki masih hanya menyaksikan tingkah laku mereka seolah tidak semangat.
"Kenapa bisa terkilir seperti ini? Pasti sakit itu," ujar Ibunya Yongki sembari melihat Riri diurut.
Riri pun menjerit kesakitan, seumur-umur dia tidak pernah terkilir seperti itu. Namun meski kesakitan, dia masih bisa menjawab pertanyaan Ibunya Yongki.
"Aku sedang mengejar Yongki, dan aku tidak tahu kalau ada motor datang menghampiriku, untungnya tidak tertabrak, hanya sedikit sakit saja di pergelangan kakiku," ujar Riri.
"Ya Tuhan, memangnya apa yang sedang kamu lakukan sih, Nak. Anak orang loh itu. Kau harus bertanggung jawab kalau ada apa-apa sama dia," ucap Ibunya Yongki geram.
"Tentu saja aku bertanggung jawab! Kalau tidak, mana mungkin aku ngajak dia kemari," ucap Yongki ketus.
"Iya Tante, lagian akunya juga tidak apa-apa. Hanya terkilir saja. Nanti juga sembuh," ucap Riri
Riri begitu sangat antusias untuk mengambil hati ibunya Yongki. Sementara, sikap Yongki sudah jelas terlihat oleh dirinya, yang begitu tidak menyukainya. Namun, ini kesempatan Riri agar Yongki bisa luluh hatinya untuk bisa dimilikinya.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Sementara di tempat lain...
Sepulangnya dari cafe Meranti, Dicka dan Reno sempat mampir ke sebuah toko baju. Dimana toko itu, adalah toko miliknya teman Reno, yaitu Fara. Mereka tidak sengaja berpapasan saat di cafe Meranti. Makanya, Fara mengajak mereka berdua untuk datang ke toko barunya.
"Iya, ini juga semua berkat bantuan orang tuaku. Mereka sangat mendukung untuk mendirikan toko ini. Ya, walaupun kecil, tapi setidaknya ada yang minat," ucap Fara.
"Terus, bagaimana dengan magangnya? Bukankah kalian magang bersama di advokat Petra?" tanya Dicka mengkernyitkan alisnya.
"Oh, iya kalau soal itu, aku pasti utamakan dulu soal pejerjaanku, nanti sepulang kerja baru aku buka tokonya, entah sore atau malam yang penting buka," tutur Fara.
"Semangat kalau begitu! Ngomong-ngomong sepertinya kamu membutuhkan karyawan deh, kalau kamu mengijinkan, aku siap jadi karyawanmu, yang penting hasilnya dibagi rata," canda Reno.
"Boleh-boleh, dengan senang hati," tutur Fara sembari tertawa kecil.
Mereka bertiga asyik berbincang-bincang sembari melihat-lihat beberapa baju dan barang lainnya yang sudah dipajang dengan rapi. Banyak yang disukai oleh mereka berdua, namun mereka masih mikir dua kali. Karena, mereka sudah mengeluarkan uang gajinya untuk belanja waktu minggu yang lalu.
Setelah sekian lamanya bercengkerama, akhirnya kedua pemuda itu pamit kepada Fara. Mereka berjanji, suatu saat akan berkunjung kembali ke toko bajunya.
🍭🍭🍭🍭🍭
Kring kriing kring
HP Dicka berdering, sementara Dicka masih fokus menyetir mobilnya.
"Siapa sih yang telepon? Angkat donk, siapa tau penting," ujar Reno.
"Bentar," ujar Dicka.
Ia pun segera mengangkat HP dari sakunya. Setelah diangkat, ternyata suara yang menelepon Dicka adalah Nadya. Dan hal ini membuat Reno menjadi cemburu.
"Iya, Nad? Ada apa?" ucap Dicka sembari menjulurkan lidahnya kepada Reno.
Seketika hati Reno menjadi kian panas. Apalagi dengan sikap Dicka yang meledeknya sedari tadi. Ingin rasanya Reno melayangkan tangannya ke muka Dicka, biar sekalian gantengnya luntur seketika.
"Okey, nanti aku akan menjemputmu, bersiap-siaplah," ujar Dicka menyeringai.
Ia pun menutup HPnya dan langsung tertawa terbahak-bahak melihat Reno yang tengah cemberut.
"Kenapa-kenapa? Cemburu? Ha ha," ujar Dicka.
"Gitu aja cemburu, gimana kalau Nadya nyatakan cintanya padaku, bisa-bisa kau bunuh diri," ledek Dicka.
"Diam kau! Seneng banget ya, diteleponin sama cewek orang. Aku aja selama ada dia di rumah, enggak pernah dia telepon-teleponan sama aku," ketus Reno.
"Ya itu sih derita kamu! Sudah lah gak perlu dibahas. Ga ada faedahnya. Lebih baik kamu telepon si Yongki, suruh dia cepat pulang. Ada yang harus kita bicarakan, penting gitu," tutur Dicka yang masih fokus menyetir mobilnya.
"Kenapa harus aku? Kan yang punya urusannya kalian berdua? Aku tidak tahu apa-apa!" cetus Reno.
"Reno, Reno ! Kapan kamu sadarnya? Kamu lupakah waktu awal kita bertemu sama Kimmy? Bukannya kita sudah berjanji untuk menuntaskan perkara itu bersama-sama? Bantu dikitlah, belum lagi ngurusin masalah Nadya. Apa kamu mau kalau ..." tutur Dicka.
" Iya-iya aku bantu, Tuan Dicka. Puass!" ucap Reno kesal.
"Nah gitu donk, baru namanya teman sejati," ucap Dicka tersenyum manis.
"Kita jemput Nadya dulu, dia minta di antar ke stasiun lagi," ucap Dicka.
"Apa? Stasiun lagi?" ucap Reno terkejut.
BERSAMBUNG....
Selamat membaca ^^ jangan lupa mampir ke Sincere Love dan Angkatan ke 7
Terima kasih ^^