
Hazel dan Alaric berada di pacuan kuda, ada Tuan Ernest sedari tadi menunggunya. Ernest paman Alaric yang bertugas mengajari Hazel ilmu bela diri dan menunggangi kuda.
"Mungkin Paman akan lebih bekerja keras lagi," kata Alaric.
"Paman sudah terbiasa, lagipula mengajari pahlawan Castor adalah aksi heroik ku," sahut Tuan Ernest.
Hazel hanya senyum masam, baru kali ini dia akan menunggangi kuda. menolak pun juga tak mungkin, karena gugup berlebihan menyebabkan telapak tangannya jadi basah. Alaric memberikan saputangan, mengenyahkan ketakutan Hazel.
"Semua akan baik-baik saja, tenanglah .."
Hazel diperkenalkan dengan kuda coklat bernama Canso, teknik dasar berkuda akan diajarkan kepada Hazel.
"Ini Canso paling ramah, kau akan nyaman bersamanya," kata Tuan Ernest.
Hazel mengusap-usap kepala Canso.
"Canso, kau siap membantuku, mari berteman," ucap Hazel.
Hazel dinaikan ke punggung Canso, Tuan Ernest bersiap di bawah untuk memandu Hazel. Alaric merapikan gaun Hazel gara tidak tersingkap, pemandangan yang belum pernah terjadi seorang pangeran yang tidak sungkan melayani perempuan.
"Kau cukup menyatu dengan Canso, biarkan dia yang mengantarkan mu menjadi penunggang kuda hebat," ujar Tuan Ernest.
Canso mulai berlari kecil, lumayan tegang bagi Hazel yang pertama kali menunggangi kuda seorang diri. Alaric dari jauh bersorak menyemangati Hazel. Lima kali putaran, semua berjalan dengan lancar, Canso teramat tenang membawa Hazel berputar di pacuan.
"Awal yang baik, Hazel .." Puji Tuhan Ernest.
Alaric menurunkan Hazel dari kuda, lirikan menggoda tak lupa ia layangkan ke gadis berambut pirang itu. Kini Tuan Ernest kembali memberikan Hazel sebilah pedang yang cantik. Hazel tercengang melihat pedang yang dihiasi banyak permata.
"Ini pedang yang hanya bisa kau pakai, di buat oleh Ayahku Van Hill dulu sebelum meninggal," kenang Tuan Ernest.
Hazel mendelik, dia melirik ke Alaric yang raut wajahnya bersedih mengingat Kakeknya. Hazel bingung, semakin ia mengetahui Negeri Castor semakin banyak misteri yang belum terpecahkan, sosok Pak Van Hill apakah orang sama dengan Raja ke-2 Negeri Castor?
"Lawan aku Hazel," Alaric mengejutkannya, sebilah pedang kesayangannya bersiap melawan Hazel di pelatihan kali ini.
Hazel belajar menggunakan pedang, keduanya menjauh dari Tuan Ernest.
"Apakah suatu kau akan membantuku?" tanya Alaric seraya memainkan pedangnya kepada Hazel.
"Kau yang harus membantuku, bukankah kau bilang aku adalah pengantin mu?" Hazel bim bertanya.
Alaric tertawa kecil, dia yang lelah memilih duduk, Tuan Ernest pamit dari mereka, memberikan waktu untuk Alaric dan Hazel berbincang kembali. Hazel merasa ini saatnya menanyakan perihal Tuan Van Hil kepada Alaric. Jika tidak mengetahui kebenaran, maka Hazel akan mati perlahan oleh rasa penasarannya.
"Kapan Kakek mu meninggal?" tanya Hazel. Memulai pembicaraan sensitif dengan Alaric tidak mudah.
"Seratus tahun yang lalu, dia di culik oleh Zhietta, tapi .."
Ruhss! Ruhss! Rush!
Penyerangan bola api terlihat di luar Istana, bola api itu lagi-lagi menyerang area pemukiman penduduk. Alaric melindungi Hazel, menutupi matanya agar bola api itu tidak terpercik ke wajah Hazel.
Para prajurit istana bersiaga melindungi Alaric juga Hazel. Tuan Ernest juga keluar membawa sebilah pedangnya. Suasana kastil utama seketika panik, sekian lama Zhietta terdiam, baru kali dia menyerang kembali sekitaran kastil utama.
"Alaric bawa Hazel ke dalam kastil," ujar Tuan Ernest.
Alaric berlari masuk membawa Hazel, menyerahkannya ke Ratu Florida. Ratu Florida dan meyaksikan suasana ketegangan itu dari atas. Di pikiran Hazel carut-marut, ketakutan sekaligus kasihan terhadap seluruh penduduk Castor, mereka tidak dapat hidup tenabg seperti kerajaan-kerajaan lainnya, selalu dihantui rasa was-was karena Zhietta dapat menyerang sewaktu-waktu.
Ratu Florida bercucuran air mata, melihat penduduknya menderita karena ulah mereka. Dia menyesali pernikahan Raja Carlos dengannya.
"Semua ini karena aku, akulah yang diinginkan Zhietta," kata Ratu Florida menyalahkan dirinya sendiri. Teprpukul karena ia tidak dapat menjafi Ratu yang membawa kedamaian.
"Yang mulia Ratu tidak bolwh menyalahkan diri sendiri, penyihir wanita itu yang jahat," ujar Hazel.
"Aku yang menyebabkan, Raja Carlos dan Zhietta dulu saling mencintai, Hazel. Aku yang dijodohkan dengan Raha Carlos, seharusnya aku menolak permintaan Raja Van Hill, dan Zhietta tidak sakit hari, Castor akan damai," papar Raru Florida.
Bukan menyesali karena telah menerima permintaan Raj Van Hill, hanya saja Ratu Florida merasa penyebab semua kutukan itu terjadi, setelah Ratu Florida melahirkan Alaric, Zhietta tetap saja memohon agar membiarkan Raja Carlos kembali padanya, tetapi Ratu Florida tak ingin ada selir di pernikahannya.
Mendengar cerita cinta segitiga itu, Hazel mengasihani ketuga pihak, semua menjadi korban karena cinta yang tak kesampaian.
"Semua akan berakhir Yang mulia, tenanglah .." Ucap Hazel. Melihat peristiwa nahas itu, keberanian Hazel mencuat, jika dirinya memang pahlawan Castor, dia tidak ingin gentar melawan Zhietta.
Alaric kembali masuk kembali ke kastil, mendapati Ibunya yang terisak tangis. Ia tahu Ibunya menyalahkan diri sendiri lagi, itulah yang selalu Ratu Florida lakukan bila Zhietta melakukan kejahatan terhadap Castor.
"Tenanglah, Ibu .. Semua akan berakhir, tunggu waktu saja," Ucap Alaric.
Ratu Florida di bawah masuk ke kamarnya, sementara Alaric diam membisu di samping Hazel. Di luar sana sudah banyak korban berjatuhan lagi, sementara dia sebagai pangeran tak dapat berbuat apa-apa selain melindungi istana.
"Bukankah kamu meyakini aku mampu melawan Zhietta? Jangan larut bersedih, ajari aku segala hal dasar membela diri, aku akan mengakhiri kejahatan Zhietta," kata Hazel.
Alaric menggenggam tangan Hazel, memandang lekat, "Aku percaya padamu, tapi jika kau tak yakin pada dirimu sendiri, kau berhak untuk tidak ikut andil," sahut Alaric.
Hazel berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah jendela, melihat hamparan negeri Castor yang mati, kebakaran dimana-mana, jeritan tangis penduduk Castor menyayat hati. Hazel tak tega menyaksikan itu semua.
"Jika ketakutan ku masih saja menguasai, aku benar-benat diciptakan tidak memiliki manfaat. Orang-orang di dunia ku mengolok-olok bahwa aku tidak diinginkan, tetapi di Castor harapan kalian bertumpu padaku, berarti disinilah tempat ku untuk menunjukkan manfaat diriku sebenarnya," jelas Hazel.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Hazel menyeru ke Alaric, "Mari mematikan bola api itu terlebih dulu," serunya.
Alaric bersiul dari atas jendela, Jasper terbang mengindahkan panggilan Alaric.
"Naiklah, kita akan ke kastil rahasia," ajaknya kepada Hazel.
Mereka kembali ke kasti Rahasia, kali ini Jasper terbang melaju lebih kencang lagi. Mereka harus tiba di kastil rahasia secepat mungkin agar bola api sihir itu tak melalap seluruh Negeri Castor. Dari jauh terlihat ada Valencia berdiri di menara, sedari tadi ia menunggu kedatangan Alaric.
"Mengapa kau terlambat datang?" tanya Valencia pada Alaric.
"Aku menenangkan Ibuku, kita ke lab sekarang," ujar Alaric menggenggam tangan Hazel, sejenak Valencia melirik tangan Alaric, ada cemburu tetapi ada yang lebih penting untuk dikerjakan.