
Valencia tersadar dari pingsannya, dia tercengang melihat tubuhnya sudah diikat dikursi, saat itu tidak ada satupun orang yang berada diruangan gelap itu. Tidak lama berselang, ada yang memutar gagang pintu, dia Emma yang masuk membawa alat pendeteksi kebohongan.
"Lepaskan aku, tidak untungnya kamu menahanku, kau berurusan dengan Zhietta dan Tommy, bukan aku!"
Emma saat ini sangat tidak suka mendengar nama Zhietta juga Tommy, tetapi apa boleh buat, itulah yang semestinya ia selalu dengar dari mulut Valencia.
"Kalian begitu lupakan masalah ku, ini masalah kau, Hazel, dan Alaric, katakan sejujurnya, apa yang kalian ketahui tentang Alaric dan Hazel selanjutnya?"
Valencia menebak bahwa Alaric belum memberitahu Hazel dan lainnya tentang resiko keberadaannya di luar Castor setelah tidak lagi menjadi Vampir.
"Aku tidak tahu," jawab Valencia yang berbohong, dia pikir Alaric lebih berhak menjelaskan itu. Bukan karena membiarkan Alaric celaka atau tidak peduli, tetapi dia terlalu sakit hati dengan berbagai penolakan Alaric terhadap dirinya.
"Jangan berbohong! Alaric sedang menderita di rumah sakit!" Emma membentak Valencia, dia sudah menyalakan alat pendeteksi kebohongan.
Valencia ketakutan melihat aliran listrik yang sudah siap menyengat tubuhnya itu.
"Katakan jika kau tidak ingin gila karena tersengat!"
Valencia tetap tidak ingin memberitahu, dia pikir itu pelajaran bagi Hazel dan Alaric, bahwa tidak semudah itu bersatu dengan berbagai sakit hati orang-ofamg disekitarnya, Valencia pikir itu timbal balik alam yang bekerja untuk menetralkan semua keadaan.
"Ahhhhkkkh... akhhhkkkk... hrrhggggg.." Valencia merintih dengan sengatan listrik yang disetrum oleh Emma.
"Katakan! Katakan! Apa ruginya kau mengatakan itu? atau kau sedang merencanakan sesuatu?!"
Valencia menendang Emma dengan keras, nafasnya tersengal-sengal karena aliran listrik yang tadi menyetrum tubuhnya. Emma terjatuh di lantai, persediaannya lumayan sakit karena ulah Valencia.
"Aku sudah bilang, tanyakan sendiri kepada Alaric, dia memiliki jawabannya," ujar Valencia membalas membentak.
Emma berusaha mengontrol dirinya, baru kali ini ada yang berani melawan polisi dengan keadaan sadar.
"Aku memaklumi perlawanan mu ini karena aku h tahu kau baru disini, kau belum tahu aturan , jadi jangan ulangi lagi melawat polisi, ingat itu!"
Valencia tak ingin berdebat panjang dengan Emma, dia pun berniat menceritakan kepada Emma tentang resiko Alaric, tetapi dengan satu syarat.
"Kau harus meminta Alaric untuk segera pergi dari sini, aku tidak ingin dia terluka atapun lagi bodoh."
Emma terkejut mendegar itu, namun dia belum sepenuhnya mengerti maksud dari perkataan Valencia.
"Alaric akan mati perlahan karena dia telah melakukan perpindahan itu membawa pena ajaib keluar dari Castor," ucap Valencia.
Emma ternganga, dia menggelengkan kepala seakan tidak percaya ucapan Valencia.
"Kalian tidak percaya? aku pikir Alaric juga tidak percaya itu, makanya dia masoh santai mengabaikan peringatan Zhietta dihari pernikahannya," lanjut Valencia.
Emma kini mempercayai Valencia, dia melepaskan ikatan tapi yang melilit tubuh Valencia, menarik tangan Valencia keluar dari gudang itu lalu memasukkannya ke mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Valencia yang protes.
"Jelaskan itu kepada Hazel." Emma melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
Setiba di ruang sakit, Emma menarik Valencia menuju ke lantai dua, didepan kamar observasi, ada Hazel yang menunggu, raut wajah wanita cantik itu panik menghampiri Emma yang membawa Valencia.
"Kenapa membawa dia kemari, Bibi?" tanyanya.
"Alaric, Alaric akan... biarkan wanita ini menjelaskan," kata Emma yang tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Hazel memandangi Valencia dengan tatapan tajam, "Apa yang telah kau lakukan?!"
Valencia tersenyum miring,
"Kalian berdua terlalu naif, kau pikir manusia tokoh utama dari negeri dongeng dan tokoh utama dari negeri bumimu ini, segampang itu bersatu? Alaric telah melanggar pantangan, seharusnya dia tidak membawa pena ajaib itu, dia telah berhasil keluar tapi lupa menyimpan pena ajaib itu, pena ajaib seharusnya nerada di negeri yang dapat menggunakan sihir, bukan di. negeri mu ini, dan kalian lupa melihat buku halaman selanjutnya lagi, lihatlah apa yang tertulis sekarang, tanpa pena itu berbuat, buku ajaib itu menuliskan kisahnya sendiri," jelas Valencia dengan kebenaran yang Zhietta yelah jelaskan.
Hazel teringat dengan buku ajaib itu terus menyala, ternyata sedang memberikan peringatan kepada Hazel dan Alaric.
"Zhietta yang membuat pena itu, tapi dia tidak pernah berani membawa pena ajaibnya keluar dari buku, dan Alaric membawanya, dia yang telah meneruskan Zhietta sebagai penulis takdirnya, tetapi melanggarnya juga," lanjut Valencia. Dia bersedih tetapi juga puas karena melihat reaksi Hazel yang terkejut dengan mata yang berkaca-kaca.
Hazel meraoh tangan Valencia untuk digenggam, dia memohon dengan kerendahan hatinya.
"Aku tahu, kamu kecewa, kamu marah dengan takdir yang bagi dirimu tidak adil, tapi bagi kami ini juga tidak adil, aku meminta kerendahan hatimu Valencia, apa yang ahrsu Alaric lakukan? apa yang harus aku lakukan untuk membuat Alaric selamat?"
Valencia membuang wajahnya dari pandangan Hazel, kecewa dan sakit hatinya masih terasa ketika Alaric mengatakan bahwa dia tidak. mencintainya.
"Ku mohon..." Hazel mulai bertekuk lutut, Emma terhenyak melihat cara Hazel demikian.
Valencia berdecak kesal, dia memang jahat, tetapi dia masih peduli dengan keselamatan Alaric.
"Hanya ada satu cara, dan kau harus bersiap untuk itu. Lakukan jika Alaric ingin selamat," ucap Valencia.
Hazel dan Emma menanti lanjutan kalimat Valencia.
"Dia harus kembali ke Castor, seperti semula, dan kamu juga disini seperti semula, Alaric tidak boleh berada disini jual dia tidak ingin mati perlahan."
Deg!
Tubuh Hazel lunglai tak berdaya, dia terjatuh ke lantai karena tak memiliki tenaga lagi untuk menopang tubuhnya, Emma berusaha menenangkan Hazel, sementara Valencia mendengar rintihan Alaric yang menahan sakit di dadanya.
"Jangan egois, Alaric sedang kesakitan, dia telah berjuang untuk menemuimu, aku mencintainya, aku tidak ingin dia terluka, kembalikan dia ke Castor segera Hazel!"
Hazel menatap Valencia, dia tak lagi menganggap bentakan Valencia sebagai serangan kata, tetapi nasehat untuk menyelamatkan Alaric. Hazel bbergegas keluar dari rumah sakit seorang diri, dia menaiki taksi untuk kembali ke rumah Nenek Grace.
Setiba di rumah mewah itu , Hazel yang panik melewati Nenek Grace begitu saja, si Nenek itu mengikuti Hazel naik ke kamar Alaric.
"Apa yang kau cari, Nak?"
"Buku ajaib Castor, dan pena jalan Nenek, dimana Alaric menyimpannya?" tanya HHazel yang menggeledah lemari dan laci di kamar itu.
Nenek Grace membantu mencarinya, namun Hazel melihat cahaya biru yang berwenang dibawah ranjang, Hazel tahu itu buku ajaib sedang memberikan tanda. Dia mengambil bku ajaib itu dengan cepat, ternyata ada pena juga terselip di dalamnya.