
Tommy dan Collins termangu, kedua pria beda generasi itu tak percaya dengan cerita Pak Van Hill. Tommy justru merasa di ajak bercanda di tengah kekhawatirannya mencari Hazel. Matanya meluapkan emosi yang ingin membentak Pak Van Hill.
"Kau jangan bercanda, Tuan!"
Pak Van Hill mendelik, dia bahkan menyuruh Tommy agar tidak berisik.
"Tenanglah, yang kuceritakan benar adanya, Hazel sedang melakukan kebaikan di negeri Castor, hanya kalian yang bisa saya ceritakan ini, tolong.. percayalah," ujar Pak Van Hill.
Collin menelisik, "Apa ada yang bisa membuktikan perkataan ku saat ini, Tuan?"
"Saya tidak memiliki bukti, karena itu sebagian rahasia semestas ini," sahut Pak Van Hill.
Tommy menepuk meja, berdiri dari tempat duduknya dengan melayangkan umpatan.
"Bukan hal ini yang aku inginkan dari kau, seharusnya kau menceritakan jejak terakhir Hazel saat di perpustakaan ini."
Collins menenangkan Tommy, pria muda itupun juga marah kepada Pak Van Hill, tetapi ia tak ingin bertindak gegabah. Collins berbisik ke Tommy, Ayah Hazel itu di arahkan untuk bertindak secepatnya. Collins mencurigai Pak Van Hill telah melakukan perbuatan yang merugikan Hazel.
Tommy dan Collins keluar dari perpustakaan tanpa berucap sepatah katapun kepada Pak Van Hill, sementara pria usia lanjut itu mencegah kepergian Tommy dan Collins.
"Kalian harus percaya, Hazel baik-bain saja di Negeri Castor, dia dapat perlindungan dari Kerajaan," ucap Pak Van Hill nunggu tak di gubris oleh kedua pria itu.
Pak Van Hill menghela nafas melihat mobil Tommy meningalkan perpustakaannya. Dia kembali menutup pintu perpustakaan itu, dia akan menutup diri hingga Hazel keluar dari Negeri Castor.
"Seharusnya kalian percaya," gumam Pak Van Hill yang kembali menyelimuti badannya dengan selimut.
Pak Van Hill kembali menyalakan perapian nya. Menikmati alunan musik klasik, mengingatkan masa lalu yang teramat pedih, ia berharap semua akan berakhir dengan cara indah.
Laju mobil Tommy terhenti di kantor polisi, di dampingi Collins, dia menuju ke ruang pengaduan, melaporkan Pak Van Hill. Mereka meminta agar pihak kepolisian menyelidiki Pak Van Hill secara langsung, karena yakin dengan pelaporan Tommy mereka bersiap untuk menjemput pemilik perpustakaan itu.
"Baiklah kami akan kesana, kalian menunggulah disini," ujar polisi itu.
Sejam kemudian, pihak kepolisian mendatangi perpustakaan milik Pak Van Hill. Menggedor pintu perpustakaan dengan ejras, Pak Van Hill yang sempat tertidur bagun dengan tergesa-gesa, setelah membuka pintu, dia terkejut dengan kehadiran polisi.
"Tuan Pak Van Hill?" tanya polisi itu memastikan.
Pak Van Hill mengangguk pelan, tanpa bertanya lagi polisi memborgol tangan pria berusia lanjut itu.
"Apa salah saya?" tanya Pak Van Hill dengan suara beratnya.
"Jelaskan di kantor polisi nanti, ikut dengan kami saja."
Pak Van Hill di bawa paksa masuk kedalam mobil polisi. Wajah keriputnya bersedih karena Ayah Hazel meragukannya. Sesekali Pak Van Hill terbatuk-batuk di dalam mobil, pihak kepolisian yang membawanya khawatir karena saat itu Pak Van Hill kulitnya pucat, dan seluruh tubuhnya dingin.
"Apakah kau sedang sakit, Tuan?" tanya polisi itu meneliti raut wajah Pak Van Hill.
Pak Van Hill menggelengkan kepalanya, dia tidak sakit smaa sekali, hanya saha sedikit baru karena efek dari membersihkan debu perapian nya. Sementara polisi itu sengaja menggenggam tangan Pak Van Hill karena ingin memastikan bahwa pria itu dalam keadaan sehat.
Pak Van Hill hanya berfokus memandangi jalan, ia berharap pihak kepolisian tidak mencurigai kondisi dirinya.
Setiba di kantor polisi, Pak Van Hill di bawah ke. ruang pemeriksaan, dia di pertemukan dengan Tommy dan Collins, Ayah Hazel itu tersenyum miring memendam amarah. Dia mencurigai Hazel hilang karena ulah Pak Van Hill. Tommy dan Collins duduk dibelakang Pak Van Hill, dia ingin mendengarkan penuturan Pak Van Hill kepada pihak kepolisian.
"Tuan Van Hill, sejak kapan kau mengenal Hazel? " tanya polisi memeriksa kedekatan Hazel dengan Pak Van Hill.
Sejak dua tahun yang lalu, setelah dia lulus di sekolah menengah pertama, dia selalu datang ek perpustakaan ku."
Pak Van Hill diperiksa data sipilnya, ada beberapa keanehan dari seorang Pak Van Hill.
"Siapa Pak Van Hill, kenapa nama Kakekmu juga nama Ayahnya juga sama dengan m, Tuan?"
Pak Van Hill terbata-bata namun tetap menjawab, "Karena kami menyukai nama itu."
Seluruh yang ada diruangan itu tercengang dengan jawaban Pak Van Hill. Bagaimana bisa seluruh keturunannya memakai nama 'Van Hill'.
Merasa ada yang tidak beres, pihak kepolisian pun saling berbisik, mereka berunding untuk mengetahui siapa Pak Van Hill yang misterius itu. Tommy dan Collins kebingungan, entah apa yang para polisi itu rundingkan.
"Kami akan menahan mu untuk sementara waktu, jadi beristirahatlah di sel kami, ada tempat khusus untuk lansia seperti mu," ujar salah satu polisi itu.
Pak Van Hill di bawa ke sel khusus lansia, Tommy dan Collins hanya mengamati Pak Van Hill di tahan untuk sementara waktu jika memang terbukti tidak bersalah. Pihak kepolisian mendatangi Tommy.
"Kami akan proses saksi tersebut, kami belum bisa menjadikan dia tersangka karena belum ada bukti yang mendasar."
Tommy mengerti itu, sangat sulit menghilangkan kecurigaannya sebab keseharian Hazel tersita lebih banyak di perpustakaan Pak Van Hill. Collins mengajak Ayah Hazel itu untuk ppulang istirahat.
"Lebih baik Tuan Tommy pulang saja, istirahat dulu, besok lanjutkan," uang Collins.
Ayah Hazel itu menepuk-nepuk pundak Collins,
"Saya berucap terimakasih padamu, sudah meluangkan waktu mencari putri ku," ucapnya.
"Putri Tuan sangat cantik, baik, layak di perhatikan, setelah sepulang kerja, saya besok akan menemui Tuan lagi."
Tommy mengantarkan Collins pulang. Sementara Pak Van Hill lebih banyak diam di dalam selnya. Sesekali lihak kepolisian datang memantaunya, ada yang mengamati dirinya, juga ada yang hanya sejenis ingin melihatnya. Polisi itu berkumpul untuk berdiskusi.
"Benar 'kan? Ada yang aneh dari Pak Van Hiil," ujar polisi wanita itu.
"Iya, semua data sipil dari Kakeknya hingga dia memiliki nama yang sama, wajah yang sangat mirip, tapi daftar kematiannya yang ada, tetapi Paka Van Hill astaga.." Polisi pria itu tak dapat menebak apapun untuk berasumsi terhadap Pak Van Hill.
"Kalau begitu kita harus hubungi pihak forensik, aku merasa pria tua itu memiliki keanehan yang sulit kita tebak," timpal salah satu dari mereka.
Mereka memasukkan daftar nama Pak Van Hilm untuk menyelidiki seluruh tubuh Pak Van Hill. Mulai dari DNA asli hingga penyakit yang di deritanya, karena mereka heran dengan tubuh pucat dan dingin Pak Hill.
"Aku baru kali ini menemukan manusia yang sedingin itu, mungkinkah dia memiliki penyakit berbahaya? Entahlah, Berhati-hatilah di dekatnya, " saran polisi wanita itu.