
Pagi yang cerah, Hazel sudah mulai memakai gaun yang disewakan oleh Irena. Dia di dandani cantik oleh Irena, gadis bermata warna hazelnut itu tampil elegan, di luar ada Alaric yang sudah bersiap dengan jasnya. Ada rasa sedih karena tak ada satupun pihak keluarga kerajaan yang mendampinginya.
"Kau pasti bahagia dan sedih," kata Nenek Grace.
"Seperti itulah, tapi itu tidak terlalu menyedihkan, ada kau Nenekku disini," ujarnya.
Alaric terlebih dulu bersama Nenek Grace ke gereja terdekat. Usai berdandan, dia menelepon Tommy dan Emma, saat itu Tommy berucap akan segera hadir, dia sedang dalam perjalanan menuju ke gereja tempat Hazel akan mengucapkan janji suci pernikahan.
"Kau cantik, Alaric dan Nenek Grace sudah ada di gereja, mari kita kesana juga sambil menunggu Ayah kamu," kata Irena.
Hazel berjalan sembari ditenteng oleh Irena, dari jauh mobil Ayahnya terlihat memasuki halaman gereja. Hazel tersenyum sumringah karena kebahagiaan itu lengkap dirasakan olehnya.
"Sebentar lagi, aku harap kamu akan selalu bahagia," bisik Irena.
Ketika Ayahnya dan Emma keluar dari mobil, Hazel melambaikan tangan, Tommy mulai menghampiri putrinya yang telah cantik dengan gaun putihnya.
"Kau sangat cantik putriku," puji Tommy.
Saat itu raut wajah Emma sangat tidak nyaman, dia hanya tersenyum masam mendengar pujian Tommy terhadap Hazel.
"Mari kita masuk, pemberkatan akan segera di mulai," ajak Irena.
Mereka berempat masuk ke dalam Gereja, Tommy menggandeng tangan putrinya untuk diantar ke altar. Alaric terharu melihat Hazel berjalan didampingi oleh Tommy. Semakin dekat Hazel kepadanya, semakin menetes pula air matanya.
"Siapkah kau untuk melakukan ikatan pernikahan dengan gadis bernama Hazel ini?" tanya pendeta saat itu.
Hazel dan Alaric melangsungkan pemberkatan, namun tiba-tiba ada yang memukul pintu dengan keras.
"Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini!" Suara lantang pria yang masuk.
Semua yang ada di dalam Gereja menoleh ke arah pria itu , ternyata dia adalah Collins. Pria itu datang dengan ketidaksetujuannya.
"Collins, apa-apaan kau ini?!" Tanya Hazel. Dia sudah sangat membenci mantan sahabatnya itu.
Collins menujukkan foto bukti dan catatan kehamilan Hazel, dia naik ke altar untuk membuat penjelasan kepada setiap pasang mata yang tercengang melihatnya saat itu.
"Aku yang lebih berhak menikahi Hazel, dia telah mengandung anakku!" Collins menujukkan bukti keterangan kehamilan dari dokter yang menangani Hazel.
Hazel menoleh ke Alaric, dia memohon agar pria yang telah menjadi suaminya itu tidak mempercayai ucapan Collins. Sebagai pria sejati yang berkebangsawanan pangeran, Alaric mengambil posisi berada di hadapan Hazel untuk melindungi istrinya itu.
"Pernikahan itu tidak sah, akulah suami dan ayah dari anak itu," kata Collins.
Pernyataan Collins meluaki hati Alaric, bukan menyalahkan Hazel, tetapi pria itu sengaja menejbal Hazel agar wanita itu malu di hadapan keluarganya.
"Dia telah berhubungan dengannku selama ini, tapi pria ini datang mengacaukan segalanya, dia merebut wanita yang harusnya menjadi istriku," ucap Collins dengan suara lantang.
Ingin Hazel menjelaskan secara detail, bahwa dirinya telah lama mengenali Alaric. Namun jika hal itu ia lakukan, maka rahasia Alaric dari negeri Castor akan diketahui oleh Collins, itu akan membahayakan keselamatan Alaric.
"Aku akan bertanggung jawab untuk mereka, berhentilah menggonggong seperti anjing." Alaric memberikan peringatan.
Collins kian dongkol karena disamakan dengan anjing. Dia menanyakan ke pendeta agar mengutarakan ketidaksah pernikahan itu.
"Katakan, apakah pernikahan ini sah?" tanya Collins.
"Katakan, pernikahan itu tidak sah." Collins memaksa.
Pendeta itu mengambil posisi untuk mengutarakan keputusannya, namun tiba-tiba suara wanita terdengar lagi memasuki gereja.
"Aku yang akan menjadi saksi lagi, pernikahan ini tidak sah, batal." Valencia memunculkan dirinya lagi di hadapan Hazel.
Hazel terkejut melihat Valencia bersama Collins, ini seperti direncanakan untuk mengagalkan pernikahannya dengan Alaric. Karena tidak ingin membuat masalah dari runyam, Hazel memohon kepada Collins agar berhenti.
"Aku mohon, berhentilah.." Ucapnya.
"Jangan Hazel, kita tidak boleh mengalah, mereka sangat jahat, pasti ada yang memberitahu keberadaan kota disini," kata Alaric.
Hazel tidak memberitahu siapapun tentang pernikahannya kecuali Ayahnya dan juga Emma. Hazel memandangi Ayahnya, Tommy menundukkan wajahnya, dia merasa bersalah kepada putrinya itu, tetapi baginya ini jalan terbaik untuk membuat Hazel tidak ke Castor bersama Alaric.
"Ayah..." Lirih Hazel yang teramat kecewa dengan tindakan Ayahnya.
Emma juga ikut menundukkan kepalanl, inilah yang sedang tadi membuatnya kesal, Tommy dengan sengaja membawa Collins dan Valencia datang ke pernikahan Hazel untuk menggagalkanya. Alaric juga menoleh ke arah Ayah mertuanya itu, ia tidak marah, hanya saja ada sedikit kecewa karena dia belum dipercaya untuk mendampingi Hazel.
"Biarkan aku yang menikahi mu, kau telah mengandung anakku," kata Collins.
"Tidak, ini bukan anakmu, bagaimana bisa aku hamil yang selang beberapa hari yang lalu," tegas Hazel.
Orang-orang di dalam Gereja saat itu kebingungan dengan perihal yang terjadi, namun mereka tetap memihak kepada kedua mempelai.
"Alaric, kembalilah, kau akan menderita jika berlama-lama disini, ada resiko besar yang menantimu, castor sudah berubah," ucap Valencia.
Alaric terheran, resiko apa yang akan menimpanya.
"Jangan dengarkan mereka, kita lanjutkan saja semuanya," ucap Alaric kepada Hazel.
"Tapi bagaimana jika itu benar, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
Collins tersenyum miring, dia akan mencari tahu siapa Alaric sebenarnya, tak ada seseorang dari mereka yang akan ia libatkan untuk itu.
"Kembalilah sebelum semuanya terlambat," kata Valencia, dia melangkah mendekati Alaric.
Dia mendekati Alaric, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Alaric terkejut. Tubuh Alaric lunglai ketika Valencia memberitahunya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Hazel.
Alaric tidak peduli itu, dia tetap ingin bersama Hazel. Karena kesal, Alaric melangkah ke arah Collins.
"Kau bisa mengarang apapun kepada semua orang, tapi tidak padaku, akulah Auah dari anak itu, aku yang pertama kali dan bersama Hazel."
Collins mengepalkan tangan ketika mendengar penuturan Alaric. Nenek Grace dan Irena saling melirik sejenak, mereka berdua tersenyum karena Alaric menang dalam perdebatan itu.
"Keluarlah kalian berdua sekarang juga, kalian tidak memiliki tempat disini," kata Alaric.
Collins tak dapat berkata lagi, dia mengajak Valencia keluar dari gereja. Memendam amarah yang semakin membuncah untuk di lampiaskan suatu saat kepada Alaric. Sementara itu Tommy memilih duduk di jajaran Nenek Grace.
"Mungkin kamu takut kehilangan Hazel, tapi kamu akan lebih takut jika Hazel selamanya tidak dapat bahagia karena kecewa kepada Ayahnya sendiri," kata Emma memperingati Tommy.