HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Melawan dengan kekuatan tersembunyi



Zhietta meletakkan batu Ruby itu diatas lampu sihirnya. Dia mulai meracik ramuan sihir untuk menyatukan baru Rubby itu dengan beberapa ramuan lainnya. Valencia berdiam diri di tempat melihat penyihir itu meracik segala ramuannya. Meskipun dia membenci Alaric, tapi Valencia tetap tidak ingin Alaric di bunuh oleh Zhietta.


"Kau ingat melihatku?" tanya Zhietta padanya.


"Tidak, aku akan keluar," sahut Valencia.


Valencia menuju ke lantai atas, dia ingin menenangkan pikirannya dari rasa cemburunya terhadap Hazel. Ingin rasanya Valencia mengakhiri hidup gadis itu, namun ia tidak diizinkan oleh Zhietta.


Dibawah ada Alaric yang menggendong Hazel, dia membawa Hazel keluar dari ruang bawah tanah. Pangeran tampan itu mencari ruangan Zhietta, kali ini dia dan Hazel akan merebut baru Ruby itu sebelum Zhietta bertindak lebih jauh lagi.


"Aku bisa jalan sendiri, jangan khawatir.." Ucapan Hazel pelan.


"Tidak, kau harus tetap ku gendong, kumpulkan saja tenagamu untuk kita melawan Zhietta," sahut Alaric. Dia tetap tidak ingin menurunkan Hazel dari gendongannya.


Ketika ingin melangkah ke ruangan lain, Alaric mendengar suara langkah kaki, itu Efrat yang sedang berlalu menuju ke ruangan Zhietta.Alaric membawa Hazel bersembunyi dibalik pintu. Efrat mendengar suara langkah Alaric, namun singa tampan itu tak lagi ingin membantu Zhietta, terlalu banyak kekecewaan yang telah ditorehkan Zhietta untuknya.


Efrat masuk ke ruangan Zhietta, penyihir sekaligus Ibu angkat Hazel itu tersenyum melihat kehadiran Efrat.


"Kau sudah merasa lebih tenang?" tanyanya.


Efrat menghela nafas, "Aku akan ke bukit Zelan, aku datang untuk pamit."


Zhietta ternganga, dia tidak menyangka Efrat memutuskan meninggalkan istananya.


"Kau memutuskan itu hanya karena kau kesal?"


"Aku tidak kesal, aku hanya ingin memulai hidupku sendiri, lanjutkan urusanmu, dan aku memulai urusanku sendiri."


Zhietta menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin ditinggalkan oleh Efrat. Selama ini hanya Efrat yang ada disampingnya, menemaninya melakukan segala hal, hanya Efrat yang dapat membuatnya berarti.


"Aku mohon.. janganlah kau pergi," ucap Zhietta.


"Kau telah menikah dengan Ayah dari gadis itu, kau pasti sudah tidur dengannya, kalian hidup sebagai suami istri di dunia lain."


Efrat sakit hati karena sekian ratusan tahun menanti cinta Zhietta, namun yang ia dapat hanya kekecewaan.


"Itu hanya hal biasa, demi melancarkan semua rencana kita."


"Bukan kita, tapi kamu! Sudahlah, lanjutkan sendiri. Aku datang tidak untuk meminta untuk persetujuanmu," kata Efrat. Dia keluar dari runagan Zhietta dengan wajah yang tertekuk.


Zhietta mengejarnya, dia memohon tanpa henti tetapi Efrat tetap melangkah tanpa melirik ke wajah Zhietta.


"Jangan tinggalkan aku, sisa selangkah lagi kita akan menemukan kebahagiaan kita, aku mencintaimu Efrat.."


Namun Efrat sudah tuli untuk mempercayai ucapan Zhietta, kekecewaannya teramat dalam. Dia ingin pergi ke bukit untuk menghilangkan semua sakit hatinya.


Alaric dan Hazel melihat jelas adegan permohonan Zhietta kepada Efrat, mereka berdua memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut baru Ruby. Alaric dan Hazel masuk ke dalam ruangan Zhietta, mengacaukan segala ramuan itu, memecahkan sekua botol-botil berisi cairan sihir yang sudah dibuat oleh Zhietta.


"Dimana dia menaruh baru Ruby itu?" tanya Hazel kepada Alaric.


"Kita cari disetiap sudut, jika tidak ada da, mungkin dibawah olehnya," ujar Alaric.


Mereka Menggeledah semua lemari-lemari Zhietta, namun tetap saja tak ada batu Ruby yang muncul.


"Hmmm, kalian mencari ini?" Tiba-tiba suara Zhietta hadir diruangan itu, dia memegang batu Ruby sembari memperlihatkan ke Hazel dan Alaric.


Zhietta tersenyum miring melihat Hazel dan Alaric terkejut dengan kehadirannya.


"Kau takut atau.." tanya Zhietta.


Zhietta Allah tertawa, Hazel yang kesal melemparkan botol yang berisikan cairan air keras, sebelah tangan Zhietta terkena hangat melepuh. Zhietta terluka oleh cairan racikan nya sendiri.


"Hazel! Kau!"


Hazel kembali menyirami Zhietta, membuat penyihir wanita itu tersungkur di lantai. Tangannya masih tetap menggenggam erat batu Ruby.


"Berikan batu Ruby itu," punya Alaric.


"Tidak, tidak, batu Ini sudah menyatu dengan sihirku, tidak akan mempan lagi di Hazel, hahahahahaha."


Zhietta membaca mantra pemanggilan kekuatan iblis, dia menyatukan elemen-elemen iblis untuk memenuhi jiwanya melawan Hazel. Angin gemuruh tiba-tiba hadir diruangan itu. Membawa kekuatan iblis yang telah dijanjikan untuk Zhietta.


"Argghhhh!" Suara Zhietta meraung-raung, dia telah kemasukan roh jahat yang akan membuat Zhietta semakin ganas.


Alaric mentaik tangan Hazel agar mereka tetap bergandengan, "Tetaplah dibelakangku."


Hazel tidak ingin memberi celah untuk Zhietta mengumpulkan kekuatannya, karena bertekad untuk menyelamatkan negeri Catstor, Hazel berlari merenggut paksa batu Ruby itu dari tangan Zhietta. Dia menjatuhkan Zhietta yang kulitnya sudah memerah seperti udang rebus.


"Aku tidak akan membiarkan kejahatanmu semakin menjadi-jadi Ibu!"


Tetap saja Hazel memanggil Zhietta dengan sebutan Ibu, baginya Zhietta adalah Kammy yang sebenarnya, puluhan tahun mereka bertiga hidup di rumah, meskipun tak ada kata akur diantara mereka berdua.


"Aku ybukan Ibumu! Kau berdua akan ku habisi!" Zhietta mengeluarkan asap dari mulutnya.


Hazel ketakutan, dia mundur ke belakang, Alaric melihat ada tumpukan air berwarna biru ada di ember. Alaric mengambil ember itu lalu disiramkan ke Zhietta. Api di tubuh Zhietta malah makin membesar.


Hazel tahu kelemahan Zhietta ada pada apinitu, jika api itu padam maka Zhietta akan kehilangan kekuatannya. Hazel manarik tangan Alaric untuk keluar dari ruangan itu.


"Kita keluar dari sini," ucap Hazel manarik tangan Alaric sembari berlari bersama.


"Kalian," teriak Zhietta lalu menyemburkan api dari mulutnya.


Hazel dan Alaric berusaha menghindari semburan api Zhietta, Hazel tetap ingin keluar dari istana itu.


"Apakah kita harus pergi dari sini?" tanya Alaric.


"Kita tunggu Zhietta keluar," sahut Hazel yang telah membuat rencana.


Zhietta keluar mengikuti mereka, Hazel tersenyum menyambut kehadiran Zhietta yang sudah menyerupai iblis itu. Alaric terhenyak, wajah Zhietta memang berubah sangat menyeramkan.


"Hazel, sebaiknya kita pergi saja," bisik Alaric. Dia tidak ingin Hazel dilukai oleh Zhietta.


"Tidak, kita harus mengakhirinya." Hazel bersiul memanggil Jasper, kuda terbang Alaric itu memunculkan diri melemparkan pedang Hazel.


Belum sempat pedang itu di tangkap oleh Hazel, Zhietta menyerangnya dengan semburan api, Hazel terlempar jauh dari Alaric sembari memanggil nama Ayahnya.


"Ayah..!"


Zhietta terkejut mendengar itu, ia kembali mengingat Tommy. Bagaimanapun pria itu adalah suaminya, meksipun didasari kebohongan, tetap saja ada ikatan pernikahan sakral diantara dirinya dan Tommy.


"Ayah, ayah," Hazel sengaja mengucapkan nama Ayah agar menyentuh hati kecil Zhietta.


Alaric memanfaatkan kelengahan Zhietta, dia mengambil pedang Hazel untuk menusuk Zhietta. Namun kecepatan Alaric malah digagalkan oleh Zhietta, penyihir itu menyemburkan api ingin membakar hidup-hidup Alaric.


Hazel yang tidak ingin Zhietta melakukan kejahatan lagi, ia meminta kepada batu Ruby untuk membuat alam semesta menurunkan hujan lebat.