HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Memutuskan untuk Memulainya



Collins ikut membantu Hazel merapikan buku-buku, sesekali ia melirik Hazel, gadis itu memang semakin cantik dan bersinar, berbeda dari sebelumnya. Namun Collins mencintai Hazel apa adanya, dia menyukai kesederhanaan Hazel.


"Selesai dari sini, kau ingin kemana?" tanya Collins.


Hazel terdiam sejenak, dia tidak memiliki rencana apapun selain pulang ke rumah, ia pikir tak ada yang berubah dari kehidupannya, setelah pulang dari perpustakaan, Hazel pasti kembali ke rumahnya.


"Pulang ke rumah, tak ada tujuan lain."


Collins tersenyum, ia sudah meminta dari Tommy untuk mengajak Hazel makan malam, namun kata Tommy itu tergantung Hazel saja.


"Bolehkah kita makan malam? aku akan mentraktirmu.." Pinta Collins seolah-olah menjadi teman mentraktir Hazel, padahal dia ingin mendekati Hazel secara mendalam.


"Hmmm.. boleh tapi kita sebentar saja, aku tidak ingin membuat Ayahku khawatir," sahut Hazel. Dia merasa tidak enak menolak ajakan Collins.


Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di perpustakaan, mereka berdua menuju ke restoran terdekat. Saat itu Hazel hanya mengikuti arus komunikasi, pikirannya malah tertuju ke negeri Castor, memikirkan bagaimana kehidupan Alaric bersama rakyatnya, apakah sudah bahagia sesuai dengan keinginan mereka?


"Kau ingin makan apa?" tanya Collins berusaha mencairkan suasana yang tegang itu.


"Aku apa saja, yang penting kenyang."


Collins memesan sesuai intruksi pesan dari Tommy, dia sempat menanyakan makanan kesukaan Hazel kepada Tommy.


"Aku bahagia malam ini bisa makan malam dengan mu.." ucap Collins. Dia deg-degan, sangat jelas dengan salah tingkah yang ia perlihatkan di hadapan Hazel.


"Terimakasih, aku bisa makan malam gratis malam ini berkat kamu," balas Hazel.


Collins tersipu malu, aura Hazel membuatnya terpesona. Makan malam itu sedikit hening karena Collins juga segan untuk lebih banyak membuka topik pembicaraan. Sementara Hazel hanya sibuk makan, sesekali melemparkan senyuman ke Collins.


"Habis ini, aku boleh pulang?" tanya Hazel.


"Iya, aku antar."


"Tidak usah, aku bawa sepeda sendiri, aku akan kembali ke perpustakaan mengambilnya," tutur Hazel menolak secara halus.


Sedikit kecewa, tetapi keputusan Hazel masuk akal juga, sebab malam telah larut, Hazel anak yang tidak pernah melakukan hal lain selain kerja sehingga Collins paham sedikit karakter Hazel.


Suasana malam itu sangatlah indah, Hazel yang kembali pulang dengan mengayuh sepedanya tetap saja mengingat Alaric. Konon, ada sebuah kalimat yang pernah Alaric ucapkan bahwa ketika Hazel mengingatnya, maka hal itu pula yang dirasakan oleh Alaric.


"Semakin mengingatnya, aku semakin sesak.. aku tidak ingin seperti ini.. aku ingin bertemu dia," ucapnya lagi. Hazel mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Ia ingin segerakan tiba di rumah lalu mencari sesuatu yang mengganjal di benaknya.


Setiba di rumah ia melihat Tommy dan Emma sedan duduk berdua di ruang TV.


"Aku pulang, Ayah, Bibi.." ucapnya Ayah terburu-buru ke lantai atas.


Tommy dan Emma membiarkan Hazel berlalu, meluaskan segala yang dikerjakan Hazel agar putrinya itu tidak memiliki perasaan sedih lagi.


Hazel menuju ke bekas kamar Ibu angkatnya, Kammy atau Zhietta. Dia menggeledah kamar Zhietta untuk mencari buku dongeng yang tempat keluar Zhietta dari negeri Castor.


"Ck, dimana buku dongeng itu di simpan oleh Ibu?" Hazel kewalahan mencarinya. Tak ada satupun jejak Zhietta yang ia temukan di kamar bekas Ibu angkatnya itu.


"Aku harus bagaimana? tak ada buku dongeng di kamar Ibu," keluh Hazel.


***


"Aku harus bagaimana, Kek? rakaat da buku dongeng yang bisa buat aku bertemu Hazel," ucap Alaric yang juga ikut berkeluh kesah.


Pak Van Hill yang ada di ruangan santainya hanay bisa tersenyum, ia geleng-geleng kepala karena setiap hari Alaric tidak pernah berhenti memikirkan Hazel. Disaat Alaric memiliki tugas berat sebagai seorang pangeran, Alaric tetap ingin bertemu Hazel.


"Kau harus fokus saja dengan tugasmu sebagai Pangeran, tidak lama lagi kau akan dinobatkan sebagai Raja," ketua Pak Van Hill.


"Aku tidak memiliki semangat hidup lagi, Kek. Aku ingin bertemu Hazel."


Pak Van Hill menghela nafasnya, dia beranjak agar lebih dekat dengan Alaric, cucunya itu setiap hari gelisah sebab menahan kerinduan terhadap Hazel.


"Lalu bagaimana? hanya ada satu cara kau bertemunya, carilah jalan dimana jalan keluar Zhietta dulu, itu memiliki kesempatan Hazel untuk kembali ke Castor, ketahuilah Alaric, bukan hanya kau yang merindukannya, aku juga merindukannya."


Alaric memahami maksud dari Kakeknya, dia pamit untuk pergi mencari informasi ke lembah Zhietta. Bersama Panglima Jasper, Alaric ke lembah Zhietta yang mungkin tidak berpenghuni lagi. Raja Carlos hanya melihat anaknya dari kejauhan, ia tak banyak bicara untuk menghalangi putranya.


"Ayah, sepertinya Alaric tidak dapat berfokus mengurus kerajaan jika belum bersatu dengan Hazel," ucapnya pada Pak Van Hill.


"Karena mereka saling terhubung satu sama lain, jiwa mereka sudah menyatu," sahut pria lanjut usia itu.


"Maksudnya, Ayah? apakah mereka memang berjodoh?" tanya Raja Carlos yang bingung. Sangat sulit dimengerti hubungan antara batin Alaric dengan Hazel.


"Kita lihat saja nanti.." Hanya itu yang diucapkan Pak Van Hill membuat Raja Carlt kian penasaran dengan kisah percintaan putranya.


Alaric menunggangi kuda, bersama Jasper dua kuda itu dan beberapa pengawal lainnya mengikuti Alaric. Dia berjalan menyusuri hutan dengan menjalarkan pandangan ke setiap arah. Jasper kebingungan apa yang di cari Alaric saat itu.


"Pangeran, apa yang akan kita lakukan di hutan ini? bukankah lembah Zhietta masih jauh?"


Alaric tak menyahut, dia masih mencari-cari sesuatu di hutan itu, mengendalikan kudanya agar turut di setiap tempat yang ingin ia telusuri. Jasper dan pengawal lainnya mengikutinya.


"Efrat keluar kau!" Alaric menyeru nama Efrat.


Seketika ada pria tampan memunculkan dirinya dibalik pohon, dia Efrat yang sudah memutuskan untuk tinggal di hutan itu untuk sementara waktu, ia ingin menenangkan suasana di lembah Zhietta sebelum merubah lembah itu menjadi normal lagi.


"Kau telah melanggar banyak aturan, tapi aku tidak akan menghukummu, ikut aku ke lembah Zhietta," ucap Alaric.


Panglima Jasper saat itu tercengang, bukankah Efrat telah banyak membantu Zhietta, harusnya Efrat di gotong ke kerajaan lalu di masukkan ke penjara istana.


"Saya tidak ingin disangkut pautkan lagi, Pangeran.." Jawab Efrat. Dia tidak ingin kesalahan Zhietta di masa lalu di ungkit, baginya kesalahan Zhietta telah mendapatkan hukuman dengan kematian kekasihnya itu.


Alaric tidak senang mendengar itu, ia tetap ingin Efrat mematuhinya sebab Efrat tetap rakyat di negeri Castor.


"Ikutlah denganku ke lembah kekasihmu, jangan banyak bicara." Alaric memberi ketegasan lewat nada bicaranya. Efrat pun turut, dia diberikan satu kuda untuk ia tunggangi ikut bersama Alaric dan rombongannya.