HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Bertemu Sesaat



Alaric tiba di supermarket, saat itu tak supermarket hampir tutup, karena Nenek Grace tidak dapat berjalan cepat, Nenek Grace pun memutuskan untuk menunggu di dalam mobil saja, sementara Alaric yang masuk mencari Hazel. Para karyawan semuanya hampir pulang, supermarket itu telah sepi, Alaric bahkan tidak melihat Hazel ada di depan papan iklan itu.


"Ternyata Hazel tidak datang," lirih Alaric melihat tempat yang ia harapkan ada Hazel berdiri disana.


Alaric menunggu sejenak, tetapi satpam saat itu menghampirinya.


"Kami sudah mau tutup," ujarnya.


"Sebentar lagi, Pak. Saya ingin bertemu seseorang, wanita yang ada di gambar ini, dia tunangan ku, kami akan bertemu ditempat ini," pinta Alaric sembari menujuk ke gambar Hazel.


Satpam itu mengingat, bahwa dia memang sempat melihat Hazel tadi bersama seorang wanita berdiri disana, dia telah yakin bahwa Alaric benar-benar sedang menunggu.


"Dia tadi ada disini, berdua dengan seorang wanita, tapi mungkin dia sudah pergi, maaf.. kami akan tutup, ini peraturan perusahaan."


Alaric tidak dapat memaksa lagi, dia akhirnya keluar kembali ke parkiran, menuju ke taksi yang ada Nenek Grace menunggunya. Rayt wajahnya lemas ketika menghampiri Nenek angkatnya itu.


"Kau tidak bertemu dengannya?" tanya Nenek Grace.


"Dia sudah pergi, Nek. Kita terlambat," jawabnya.


Nenek Grace memutuskan untuk meminta sopir itu mengantarkan mereka pulang kembali ke rumahDi perjalanan, Alaric lebih banyak diam, ia mengatur kekecewaannya. Nenek Grace membiarkan Alaric menenangkan hatinya terlebih dulu, Nenek Grace yakin jika Alaric dengan Hazel ditakdirkan bersama, maka mereka berdua akan bertemu dengan cara alam semesta bertindak.


Sementara diparkiran supermarket, ada Collins masih memperhatikan pergerakan Hazel, namun sampai saat ini, belum ada Hazel dan Irena yang nampak keluar dari supermarket. Akhirnya Collins memutuskan untuk mencari tahu, tujuan Hazel ke supermarket malam itu. Karena tak ada yang bisa ditanya selain satpam yang sedang merapikan troli.


"Aku bisa meminta waktu mu sebentar?" tanya Collins kepada satpam berkulit hitam itu.


"Ya, ada apa?"


"Aku melihat ada wanita yang ada digambar ini. berdiri tadi, itu temanku, apakah kau tahu dia kemana?"


Satpam itu mengerutkan alisnya, "Siapa sebenarnya yang sudah berjanji bertemu dengan wanita itu? tadi ada seorang pria yang mengaku tunangannya, mereka berdua akan bertemu d i tempat ini, sekarang kamu juga?"


Collins meminta penjelasan lebih detail kepada satpam itu, Collins memang sempat melihat seorang pria tampan yang kelu dari supermarket seorang diri, lalu pergi menggunakan taksi, pria itu adalah Alaric.


"Berarti Pria tadi memiliki hubungan dengan Hazel, inikah yang dirahasiakan Hazel dariku?" gumam Collins.


Mendengar cerita satpam itu bahwa Alaric mengaku dia dan Hazel bertunangan, menimbulkan kecemburuan yang teramat sangat sakit dihati Collins. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Hazel menjalin hubungan dengan sosok pria yang bersamanya, sedangkan ia telah memberikan segala waktu, tenaga, perhatian kepada Hazel.


Terdengar suara Hazel yang menyapa satpam itu juga, Collins bergegas sembunyi dibalik tembok, ternyata saya itu Irena dan Hazel ke toilet untuk buang air kecil, karena suasana malam itu memang sangat dingin.


"Apakah ada sosok pria tadi datang di depan gambar ku?" tanya Hazel.


Satpam itu sudah sangat lelah meladeni mereka, dengan helaan nafas panjang, dia menjawab dengan nada ketus.


"Ada, pria pertama mengaku tunangan mu, pria kedua mengaku temanmu, tapi mereka semuanya sudah pergi."


Satpam itu menjelaskan ciri-ciri kedua pria yang mencari Hazel, Irena menyakini bahwa pria itu Alaric dan Collins. HHazel duduk terkulai lemas di bangku, menangis sesenggukan mengingat Alaric. Saat itia tidak peduli dengan Collins yang juga ikut menelusuri dirinya.


"Hazel, kamu baik-baik saja?" tanya Irena mengamati Hazel yang teriska tangis.


"Aku tidak habis pikir, apa hubungan mu sebenarnya dengan pria itu Hazel!" Collins memukuli kemudi mobilnya.


​​​


Collins bertekad ingin mencari tahu pria yang mengaku tunangan Hazel itu, dia tidak ingun perjuangannya sia-sia hanya karena sosok pria asing.


"Aku tidak akan rela Hazel dimiliki pria lain, dadaku serasa sesak, ini tidak boleh terjadi," Kata Collins.


Hazel dan Irena malah kembali ke kantor agensi, mereka masuk untuk mengambil barang-barang pribadi mereka hang sempat dilupakan. Sementara Collins juga masuk, menunggu di lobby, seolah-olah tidak kemana-mana. Setelah mengambil pakaian dan barang-barangnya, Hazel dan Irena milih Collins sedang duduk berbincang dengan manager.


"Itu Collins.." ujar Irena memberi tahu Hazel.


Dari jiah Hazel memandangi Collins, ada rasa jengkel sekaligus rasa kasihan tertuju kepada pria yang hanya dijadikan sahabat itu. Hazel kecewa karena Collins diam-diam membuntutinya, jika ia sampai bertemu Alaric, tentu akan menjadi berita besar yang akan merugikan Alaric dikemudian hari.


"Kamu tidak menanyakan itu?" tanya Irena.


"Kita pura-pura tidak tahu saja," sahut Hazel. Dia lebih dulu keluar dari kantor agensi, meminta Irena untuk mengantarkannya pulang.


Hazel di antar ke rumah, dia menelisik dengan kehidupan Alaric selama di London, Hazel juga takut jika ada yang menjahati Alaric karena ketidaktahuannya tentang dunia modern ini.


"Bagaimana bisa kau bertemu dengan Alaric? Memangnya dia berasal dari negeri mana? mengapa dia tidak mengetahui rumah mu?" tanya Irena yang sebagai orang awam, sangat wajar kebingungan.


Hazel tersenyum masam, "Ada banyak yang sulit aku ceritakan dengan jujur, suatusaat kamu akan tahu."


Sementara Collins membiarkan hal itu, ia terpukul karena Hazel tidak meminta pamit darinya, padahal keberadaannya di kantor agensi, menunggu Hazel.


"Kau benar-benar mengabaikan ku, sesulit itu menembus hatimu," gumam Collins.


***


Setiba di rumah, Nenek Grace membuatkan Alaric teh hangat, Alaric merasa bersalah karena telah membuat Nenek Grace kerepotan dengan urusannya.


"Aku minta maaf, aku selalu merepotkan mu.."


Nenek Grace hanya melayangkan anggukan, dia duduk disamping Alaric.


"Kau tadi ketakutan, apa yang membuat mu takut?"


Alaric ketakutan bukan karena takut kalah, namun di dunia Hazel dan dunianya berbeda, ia tak dapat menggunakan perlindungan kerajaannya. Namun juaj bertemu dengan wanita itu lagi, tentu ia akan bertarung hingga wanita itu berakhir di versi wanita manusia.


"Aku melihat wanita jahat itu hidup lagi," tutur Alaric.


Nenek Grace tidak mengerti, "Wanita jahat? hidup lagi? apakah wanita itu yang ada dirumah tadi?"


Alaric telihat gelisah, iabtakut jika kehadiran wanita itu menjadi momok baru di kehidupan Hazel.


"Dia penyihir wanita yang telah Hazel bunuh di negeri Castor, namanya Zhietta."