
Malam panjang telah Hazel lalu dengan Alaric, Hazel bangun lebih awal, ketika ia hendak membuka gorden, dia terhenyak dengan sinar cahaya berasal dari laci, rupanya itu buku ajaib yang sedang bersinar lagi. Hazel bingung, mengapa buku itu akhir-akhir ini bersinar, adakah sesuatu yang terselubung? batinnya.
"Alaric, bangun," ucapnya.
Namun pria yang telah menjadi suaminya itu tetap meringkuk dibalik selinut. Hazel mengambil buku itu lalu membukanya, seolah buku ajaib memeberikanmu pertanda bahaya untuk dipahami oleh Hazel.
"Kamu kenapa buku? Adakah sesuatu yang akan terjadi?" tanyanya.
Tidak lama kemudian pekikan suara Alaric terdengar oelu Hazel, buku itu disimpannya lalu bergegas mengecek suaminya.
"Kamu kenapa?"
"Tadi dadaku sakit," Sahut Alaric seraya memegang dadanya.
Hazel mengusap-usap dada suaminya, benar saja, jantung Alaric berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Apa masih sakit? Kita ke dokter saja sekarang," tanya Hazel.
Namun seketika sakit di dada Alaric lenyap, ia kembali berbaring karena jngin merilekskan tubuhnya. Baru kali ini ia merasakan sakit yang teramat sakit seperti itu. Hazel bertanya apakah Alaric memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi pria itu mengatakan tidak sama sekali.
"Aku tadi melihat buku ajaib itu bercahaya, apa pertanda itu?" tanya Hazel.
Alaric yang tidak ingin membahasnya membangunkan diri dari tempat tidur, ia menguatkan dirinya agar terlihat baik-baik saja di hadapan Hazel.
"Aku sudah baik-baik saja Hazel, tenanglah.."
Hazel mengucap syukur, namun tetap memeriksa bagian dada Alaric, detak jantungnya masih memompa dengan cepat. Alaric melepaskan tangan Hazel, dia menujukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ayo kita buat sarapan, setelah itu aku akan memperlihatkanmu tempat romantis Nenek Grace bersama mendiang suaminya," Kara Alaric yang sangat semangat.
Alaric lebih dulu ke dapur, meninggalkan Hazel yang mematung, perasaannya sungguh tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu.
"Ini hari pertama aku menikah, hilangkan hal-hal buruk itu," Ucapnya dalam hati.
Dibawah Nenek Grace dan Alaric mulai membuat sarapan, Nenek itu meminta Hazel agar tinggal bersama Alaric saja di rumahnya, jika ia telah tiada, rumah besar itu akan diwariskan saja kepada Alaric.
"Umur Nenek akan panjang, aku akan selalu disini bersama Alaric," kata Hazel setuju. Alaric tersenyum kecil mendengar itu, ada perihal yang mengusik jiwanya.
Usai sarapan, Alaric membawa Hazel berjalan-jalsn di tepi danau, menggunakan sepeda ia membonceng Hazel dengan sangat hati-hati. Saat itu akan masuk musim semi, suasana mulai tampak indah.
"Kau bahagia bersamaku?" tanya Alaric.
"Tentu, ini impian para gadis, menikah dan memiliki suami tampan dan baik seperti mu," sahut Hazel yang memeluk dadi belakang.
Alaric merasakan lingkaran tangan Hazel yang hangat, dia berhenti mengayuh sepedanya, mengajak Hazel duduk dibangku kayu.
"Ternyata Castor dan Kotamu cukup berbeda, ada banyak gal-hal yang belum dibuat di Castor, tapi telah ada disini," kata Alaric membuka percakapannya. Dia memiliki ide, berharap Kakeknya, Pak Van Hill mengubah Castor menjadi kerajaan modern namun tetap berbudaya setelah tinggal di London.
"Kamu suka disini? jadi kamu akan tinggal bersama kami disini? melihat anak kita lahir, dan membesarkan anak kita," ucap Hazel penuh harap.
"Semakin hari, kamu semakin cantik setelah menjadi model," pujinya.
Hazel tersipu malu, meskipun telah menjadi istri, dia tetap malu dipuji oleh Alaric. Pria tampan itu tak melepaskan pandangannya dari Hazel.
"Kau melihatku seolah kau tidak akan melihatku selamanya," ketua Hazel.
Alaric tertawa, dia mengeyahkan kekhawatiran dari perkataan Hazel.
"Ternyata malam itu telah membuahkan hasil, kau telah mengandung anak kita, Ayah dan Ubu Ratu pasti akan senang, termasuk Kakek," Kwta Alaric membayangkan betapa bahagianya keluarga kerajaan jika mengetahui bakal cucu mereka.
"Aku juga merindukan mereka, akankah aku bisa bertemu lagi dengan mereka? Apakah itu memungkinkan?" tanya Hazel.
Alaric lagi-lagi terdiam, dia juga tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu, tak ada Kakeknya di sampingnya, sosok yang selalu memberikan jalan titik gemu dari permasalahannya adalah Pak Van Hill.
"Kenapa kamud diam?"
"Aku tidak bisa menjawabnya, semua akan dilihat setelah akhir dari buku itu, tapi. Jangan khawatir, tak ada kisah dongeng yang yang berakhir sedih, yakinlag itu," Sebisa mungkin Alaric menghilangkan rasa khawatir Hazel tentang akhir kisah mereka.
Hazel meneliti ada ketakutan di kata Alaric, namun ia tidak ingin melanjutkan pertanyaannya lagi, dia ingin menikamati Waktu-waktu bersama Alaric. Sang Pangeran itu memang terlalu mencintai Hazel, matanya tak lepas memandangi gadis berambut pirang itu.
"Apakah kau tidak menikamati pemandangan disini? Mengapa kau melihat ku terus?"
"Pemandangan disini terlalu biasa untuk menandingi keindahanmu," Alaric merayu dengan kekagumannya.
Alaric mengelu-ngelus perut Hazel, dia berharap dalam hati agar selalu tinggal bersama anak dan istrinya. Berharap Hazel dan anaknya bisa diboyong ke Castor untuk memulai kehidupan yang semestinya dirasakan oleh keluarga kerajaan pula.
Dari jauh ada sosok mata dari dalam mobil memantau mereka, dia Collins, impiannya bersama Hazel benar-benar berantakan karena kehadiran Alaric. Sampai saat ini dia belum mengetahui siapa dan darimana Alaric berasal, Valencia dan Tommy belum mengatakan secara gamblang.
"Aku kehilangan Hazel karena pria asing itu, apakah ketika Hazel menghilang, dia pergi bersama dia," Collins bertanya-tanya seorang diri di dalam mobilnya. Berusaha menelusuri dari mana Alaric berasal.
Collins memukul kemudinya, dia benar-benar kacau dan cemburu melihat Hazel bahagia bersama Alaric.
"Pengorbanan waktu dan tenagaku tak dianggap oleh Hazel! Sial! Seharusnya aku yang ada disana, sejak SMU akulah yang selalu ada untuknya," Ucapnya protes.
Collins memiliki rencana untuk mencari tahu asal-usul Alaric, dia penasaran dengan latar belakang pria yang sangat memiliki kharisma pria bangsawan itu. Collins penasaran bagaimana kehidupan Alaric sebenarnya.
"Kameraku dimana," gumamnya, Collins mencari kameranya yang tergeletak di jok belakang.
Setelah mendapatkannya, dia memotret Alaric dan Hazel secara diam-diam, Collins berusaha mengambil potret Alaric secara dekat, agar ia mengetahui retina dan beberapa DNA lainnya. Mendapatkan hasil gambar dari Alaric, dia menyimpannya, akan ia telusuri secara detail pria asing yang telah merebut pujaan hatinya itu.
"Aku memiliki pekerjaan untukmu, aku akan bayar kamu dengan beberapa pilihan jika kamu bisa mendapatkan riwayat keluarga dari orang itu," kata Collins yang menelpon seseorang.
Seorang pria yang ada ditelepon itu menyahut, dia mengatakan bersiap untuk tugas itu asalkan ia diberi waktu, suli mencari latar belakang seseorang hanya mengandalkan dari gambar saja.
"Itu gak gampang bagi kalian, bukankah kamu seorang yang akan naik pangkat sebagai detektif?" tanya Collins. Dia menelpon Kakak dari temannya untuk membantunya.
Setelah sepakat, Collins menutup telepon itu, dia tersenyum miring melihat Alaric dan Hazel tertawa di pinggir danau, mereka menikmati bulan madu mereka yang amat sederhana itu.