
Hazel memiliki jadwal pemotretan di pinggiran kota, ia memaksakan diri untuk mengikuti keinginan managernya karena itu jadwal pemotretan terakhir untuk bulan ini. Dengan tubuh yang ia paksa beraktivitas, Hazel ditemani Emma, saat itu tak ada Collins yang lagi memunculkan dirinya setiap pagi, tetapi rpia itu tetap saja memantau Hazel dari jauh.
"Kamu sangat pucat, lebih baik kita undur saja pemotretan hari ini," kata Emma khawatir.
"Kita selesai kan saja, Bibi. Setelah ini aku akan pulang istirahat," ucap Hazel.
Hazel disiapkan tenda, tema hari itu dengan pemandangan hutan hijau, dipinggiran kota itu hanya ada beberapa rumah mewah yang disinyalir tempat para pensiunan yang menikmati masa tuanya.
"Kamu istirahat di tenda, nanti kita lanjutkan lagi," ujar Irena.
Para tim sedang mengatur latar belakang, sedangkan Hazel ditemani Emma di tenda. Irena saat itu berkeliling bersama dua orang pria, mereka mencari latar belakang yang cocok untuk menjadi tema foto mereka.
"Kayaknya itu bagus," kata pria itu menunjuk ke rumah kaca.
Irena mengiyakan, mereka menuju ke rumah kaca itu, yang disampingnya tepat berdiri ruang mewah. Menujukkan tata krama, tim Irena melihat ada sosok Nenek yang sedang membersihkan rumah kacanya, yang tak lain itu adalah Nenek Grace.
"Bisakah kita mengobrol sebentar, Nyonya?" tanya pria itu yang mengajak Nenek Grace keluar dari rumah kacanya .
Nenek Grace mengindahkan itu, dia keluar menemui Irena dan teman lainnya. Irena terhenyak, dia merasa familiar dengan Nenek Grace.
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi .." Kata Irena berusaha mengingat momen itu.
!Meskipun sudah lanjut usia, ingatan Nenek Grace masih kuat, dia tersenyum lalu mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Terimakasih Tuhan.. harapan cucuku kau kabulkan," ucapnya mendongakkan wajah ke atas langit.
Mendengar itu, Irena teringat momen bertemu Nenek Grace dan Alaric di supermarket. Irena tercengang dengan takdir yang memudahkan Hazel bertemu Alaric.
"Nenek, apakah kau masih bersama Alaric?" tanya Irena.
"Tentu saja," jawab Nenek Grace terharu.
Sementara Hazel ada di tenda, dia lebih banyak berdiam diri, Emma sampai kebingungan harus berkata apa, namun sebagai calon Ibu sambung, Emma harus terbiasa menjadikan dirinya figur Ibu untuk Hazel.
"Apakah aku termasuk penting bagimu?" tanya Emma memulai percakapan.
"Tentu, Bibi.." Hazel menjawab tanpa menoleh.
"Tidak, aku tidak penting bagimu, jika penting, kau akan menganggapku ada," ketus Emma.
Hazel tertampar itu, dia memadangi Emma, sorot matanya digelayuti kesedihan, lelah, dan putus asa.
"Apa karena cintamu? ataukah ada hal lain? seharusnya kau berbagi dengan kami," kata Emma sembari mengusap pipi Hazel.
Gadis berusia 19 tahun itupun menceritakan kejahatan Collins terhadapnya, ia tidak mempercayai jika ia meminta Collins untuk menemaninya minum hanya karena stress. Emma tersentak, dia mengecam perbuatan Collins itu.
"Aku benci dengan dia," ucap Hazel.
"Siapa yang kau benci?" Tiba-tiba ada suara pria yang ikut nimbrung dari arah belakang.
Hazel dan Emma membalikkan badan mencari asal suara itu. Hazel menangkup kan tangan ke mulutnya.
"Alaric..." lirihnya. Alaric datang bersama Irena dan Nenek Grace.
"Kau menyusulku? ini sangat berbahaya bagimu," ucap Hazel.
"Kau bisa merubah Castor, mengapa aku harus takut datang di dunia mu?" tanya Alaric.
***
Di Kerajaan Castor, Raja Carlos jatuh Sakit, keadaannya semakin memburuk, dia terus meminta Pak Van Hill mengembalikan Alaric ke Kerajaan Castor, tetapi Kakek Alaric iti tak memiliki daya lagi. Dia sudah tidak memiliki akses ke bumi sebelah.
"Buku ajaib itu bukan yang asli, kita tidak bisa sesuka hati lagi untuk pindah ke dunia Hazel, hanya Alaric yang mampu, dia memegang pena itu." Jelas Pak Van Hill.
Raja Carlos terbatuk-batuk, penyakitnya paru-parunya kian parah. Ratu Florida hanya duduk mematung di sampingnya.
"Tapi apakah Alaric bisa kembali? dia seorang pangeran, sangat berbahaya hidup di dunia Baru baginya." Ratu Florida tetap khawatir.
Pak Van Hill baru menyadari bahwa ada yang akan menimpa cucunya, perihal tentang tidak memiliki satu buku ajaib apapun. Karena tidak ingin menampakkan kegelisahannya di depan Raha Carlos dan Ratu Florida, Pak Van Hill pamit keluar dari kamar itu.
Jasper mengikuti langkahnya ke ruangan pribadi, Pak Van Hill yang lanjut usia masih saja gesit karena kurangnya racun udara yang ia hirup di Negeri Castor ketika dikuasai Zhietta.
"Alaric tidak akan bisa kembali, dia tidak memiliki buku dongeng itu," ujarnya.
Jasper juga mulai gelisah, dia yang memegang ketiga buku dongeng itu, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
"Cucuku bukan lagi Vampir yang bisa hidup lebih lama di dunia Hazel, dan keluar dari negeri dongeng memakai tubuh manudi biasa tentu memiliki resiko tersendiri, Alaric akan merasakan resiko itu, tapi kita tidak tahu apa yang akan menimpanya," jelas Pak Van Hill.
"Perintahkan sesuatu yang bisa saya lakukan yang mulia," ucap Jasper.
Pak Van Hill memandangi Jasper, "Tidak ada, kecuali kau memiliki pena ajaib itu juga."
Jasper tahu, pena itu hanya ada satu dibuat oleh Zhietta, tetapi ia yakin Efrat tahu segalanya jika berhubungan dengan Zhietta. Jasper pamit lagi dari Pak Van Hill, dia menuju ke lembaga pendidikan Kerajaan.
"Dimana Efrat?" tanyanya.
Jasper diantar oleh pembimbing menuju ke ruangan Efrat. Kekasih Zhietta itu terkejut dengan kehadiran Jasper menemuinya secara pribadi.
"Kita hanya berdua disini, aku ingin sekali menegaskan bahwa seharusnya kau berterimakasih kepada pihak Kerajaan karena masih membiarkanmu hidup."
Efrat tidak mengerti perkataan Jasper.
"Jelaskan semuanya rahasia Zhietta, kau sudah tidak memiliki hak sebagai pengikutnya, kau sepenuhnya mengabdikan dirimu pada Kerajaan sekarang," kata Jasper bernada tegas.
Efrat menghela nafas, itu pilihan yang sulit, tetapi bukanlah dia sejak awal meminta Jasper untuk membunuhnya saja, dia tidak ingin menjadi pengkhianat cinta, mengungkapkan rahasia Zhietta sama saja dengan mengkhianati cintanya.
"Aku sudah jelaskan semuanya, apalagi?" tanya Efrat.
Jasper mendekati Efrat dengan tatapan tajam, "Kau masih menyembunyikan sesuatu, kenapa kau masih menjaga rahasia Zhietta sedangkan dia sudah menjadi abu? ataukah Zhietta belum mati?"
Efrat terhenyak, dia tahu jiwa Zhietta tak dapat lagi kembali ke Castor, yang hangus itu adalah iblis yang membelunggunya, tetapi jiwa dan raga Zhietta asli hidup di dunia Hazel, tidak dapat lagi kembali hidup di Castor. Sehingga itulah perpisahan yang amat menyedihkan bagi Efrat.
"Dari kediamanmu, kau menjawab Zhietta masih hidup, aku bersumpah jika dia melakukan hal buruk lagi, aku akan membuat dia menderita hingga kau akan tersiksa melihat penderitaannya," kata Jasper yang bersungguh-sungguh.