
Nenek Grace hanya berdiam diri memandangi Hazel yang menangis sambil memegang buku ajaib itu. Dia terlalu takut untuk bertanya kepada Hazel tentang yang terjadi.
"Aku harus ke rumah sakit lagi, Nenek."
Nenek Grace hanya menganggukkan kepalanya sembari mengusap kepala Hazel. Istri Alaric biru kembali ke rumah sakit dengan membawa buku dan pena ajaib. Sementara buku itu terus-menerus bersinar, membuat sopir taksi terheran-heran.
"Itu buku apa?" tanyanya.
"Ini hanya buku uji coba, dipasangkan lampu," sahut Haze yang berusaha baik-baik saja agar sopir itu tidak curiga.
Teringat dengan perkataan Valencia, Hazel memberanikan dirinya membaca buku dihalaman yang terlewati, ada tulisan yang secara otomatis tertulis sendiri yang sudah mereka lalui.
Takdir yang berkesinambungan, tidak dapat di ubah oleh pena ajaib, dimana letak kaki hatus berpijak pada bumi masing-masing. Negeri yang penuh derita itu kembali menangis, dikala mendalam dirasakan oleh pihak kerajaan juga Rakyat Castor.Alaric diwajibkan kembali ke Castor untuk meneruskan kepemimpinan kerajaannya, setelah meninggalnya Raja Carlos. Diwajibkan atas Alaric untuk memulai kepemimpinan baru.
Hazel menutup mulutnya sendiri, karena matanya menetes di buku ajaib itu. Dia tidak menyangka ada peristiwa duka besar yang dia dan Alaric tak sadari telah tertulis di buku ajaib itu.
"Raja Carlos meninggal dunia," lirih Hazel yang teramat berduka. Ia tidak dapat membayangkan kesedihan Alaric setelah mengetahui Ayahnya meninggal dunia. Ada satu paragraf dibawa yang masih ada tertulis dengan sebuah kisah lanjutan, entah itu sudah terjadi atau akan baru saja terjadi, Hazel juga tidak mengerti siapa yang dimaksud buku ajaib itu.
Seorang wanita yang telah memiliki hati murni akan mendapatkan celaka, itu semua untuk menyeimbangkan antara kehidupan Castor dan Kehidupan manusia lainnya. Inilah takdir yang berkesinambungan, semua memiliki hubungan untuk mencari jalan damai ditempat masing-masing yang ditentukan.
"Siapa wanita yang dimaksud buku ini?" Hazel bertanya-tanya seorang diri.
Hazel membacanya sekali lagi, seorang wanita yang memiliki hati murni, setelah menemukan jawaban atas versinya, Hazel mengusap perutnya sendiri.
"Aku yang akan mati.." gumamnya. Hazel memeluk buku ajaib itu, dia tidak menyangka untuk membuat semua bahagia, dia yang harus tersingkirkan, Hazel merasa itu adalah bentuk pengorbanan sebagai tokoh utama di cerita Castor, dia hanya dijadikan pahlawan untuk mengembalikan Castor menjadi negeri damai seperti semula.
"Kita sudah sampai," ucapan Sopir itu.
Hazel menyadari bahwa perjalanan ke rumah sakit begitu singkat, dia berlari ke lantai dua sembari memeluk buku ajaib yang terus bersinar itu. Di luar kamar observasi, tidak ada lagi Emma dan Valencia belajar berdiri. Ada seorang perawat keluar, dia meminta Hazel untuk ikut masuk di ruangan itu.
"Alaric..."
Hazel melihat Alaric sudah koma, karena sakit didadanya, pria itu sudah berada di fase koma. Dengan terisak tangis, Hazel menyerahkan buku itu kepada Valencia. Kedua wanita yang mencintai Alaric itu menangis di sisi kanan- kiri Alaric.
"Kita harus memulangkan dia," ucap Valencia.
Hazel mengangguk, dia pasrah jika harus berpisah dari Alaric. Namun sebelum melepas Alaric, Hazel mengeluarkan segala isi hatinya, berapa dia mencintai pangeran Castor itu.
"Sebelum bertemu kamu, hidupku tidak memiliki tujuan, aku hidup dengan olokan orang-orang sekitar, tidak ada yang benar-benar mencintai ku, namun setelah menganalmu, aku menjadi wanita berharga, dihormati, dicintai.. Kamu kembalilah.. pimpin Castor menjadi kerajaan terbaik, jadilah Raja yang bijak, aku dan anak kita ikhlas melepasmu kembali ke Castor, cinta itu akan selalu bersama kami.."
Valencia membuka buku ajaib itu, dia membaca halaman yang usai dibaca oleh Hazel, Valencia terkejut dengan kematian Raja Carlos, sedangkan tulisan tentang wanita itu, dia tidak mengerti "seorang wanita yang telah memiliki hati murni"
'Apakah yang akan mati juga itu Hazel?' tanyanya dalam hati.
"Kembalikan dia Valencia, aku tidak ingin Alaric menderita disini," pinta Hazel.
"Kamu hari kembali ke Castor," bisik Valencia. .
Valencia mulai meraih tangan kanan Alaric, dia menggenggamkan Alaric pena ajaib itu, dipandunya untuk menulis dua kalimat dibawa diatas paragraf kosong.
Seorang Pangeran Castor yang mencintai Hazel sepenuh hati berusaha ikhlas untuk kembali ke Castor, dia membawa cinta itu bersamanya. Kembali dengan keadaan sehat dan jiwa yang kuat..
Hazel melihat tulisan Valencia yang juga penuh makna untuk kebaikan dirinya juga Alaric, putri Tommy itu yakin, Valencia sebenarnya wanita yang sangat baik, hanya saja dia juga mencintai Alaric, menimbulkan kecewa yang teramat menyakiti hatinya.
"Aku ingin lebih menuliskan lagi, tapi pena inisiatif udah terhenti, sepertinya sudah cukup untuk paragraf," kata Valencia kepada Hazel dan Emma.
"Itu sudah cukup," sahut Hazel.
Valencia segera memasukkan pena ajaib itu ke kantong celana Alaric. Tiba-tiba pusaran angin yang bersinar terang mengelilingi Alaric, Valencia dan Hazel telah terpental, mereka dijauhkan oleh Alaric yang telah siap diangkut angin itu masuk kedalam buku ajaib.
"Alaric.." Lirih Hazel terisak tangis.
Emma memeluk Hazel dengan kuat, dia takut jika Hazel sampai nekat mendekati Alaric, itu malah akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kembalilah.." Ucap Valencia melihat tubuh Alaric semakin lenyap ditelan pusaran angin itu.
Di menit kemudian, ranjang pasien iti sudah kosong, buku ajaib pun telah berhenti bersinar. Hazel histeris menangis memanggil nama Alaric, begitupula Valencia, mendengar jeritan itu, dokter dan perawat masuk dengan tergesa-gesa ingin mengecek kondisi Alaric.
"Ada apa? Mana pasiennya?" tanya dokter itu.
Emma yang merasa memiliki tanggungjawab atas hal itu sekarang berusaha mengajak domter itu mengobrol.
"Dia dibawa kembali oleh keluarganya, tenanglah diabaikan baik-baik saja, jangan bertanya lagi, ini pihak kepolisian langsung yang menanganinya," jelas Emma.
Dia kembali berfokus pada Hazel yang tidak berhenti menangis, sesekali wanita berambut pirang itu mengelus perutnya yang telah dinaungi anak Alaric.
"Takdir baik ternyata menyakitkan," ucap Hazel.
"Ini kebaikan kalian, aku yakin, kalian akan mendapat bahagia versi mencintai walaupun tidak bersama secara fisik," ujar Emma.
Air mata yang berlinang memang sebuah bukti sedihnya hati putri Tommy itu, sebuah kisah yang mldia usahakan berakhir bahagia hanya sebuah ilusi, menjadi rencana yang tidak akan pernah buku ajaib itu wujudkan.
"Sebentar lagi aku juga akan pergi, aku mohon jagalah Ayahku," plucap Hazel lagi.
"Kemana kamu akan pergi? kau akan tetap disini, aku akan menjadikanmu adikku," tanya Emma.
Valencia yang bersandar ditembok teringat dengan seorang wanita yang dimaksud oleh buku ajaib, dia pun sendiri tidak yakin wanita yang dimaksud oleh buku itu adalah Hazel.