HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Misteri



Collins menunggu Hazel di ruang ganti, disaat itu Hazel mengira Collins sudah pulang karena berkali-kali ia meminta pria itu untuk pulang saja, karena Hazel mengatakan ingin ke suatu tempat bersama Irena, tetapi Collins tetap kukuh untuk menemani Hazel kemanapun ia pergi.


"Biarkan aku ingin bersamamu, aku ingin menjagamu," kata Collins.


"Collins, biarkan aku menjalani kehidupan ku secara mandiri, tidak selalunya merepotkan kamu, ku mohon.."


"Aku tidak merasa direpotkan, justru aku suka menemani mu," ujar Collins.


"Stop Collins, aku juga memiliki urusan pribadi, ku mohon.. kamu sebagai teman harus mengerti itu."


Ketegasan Hazel meredam ego Collins, pria itu menutup perdebatan dengan memberikan ruang untuk Hazel secara pribadi. Namun tidak untuk berdamai dengan dirinya, Collins akan menelusuri urusan apa yang membuat Hazel tidak ingin melibatkan dirinya.


Ketika Hazel bertemu Irena, mereka sepakat untuk mengendarai mobil Irena saja menuju ke supermarket itu, Collins sigap menguntit dari belakang, memakai mobil salah satu karyawan yang ada di agensi modeling itu.


"Kamu yakin kita akan bertemu di sana?" tanya Irena yang saat itu mengemudi.


"Aku yakin, Alaric seseorang yang cerdas, dia pasti sudah menebak jika Kak Irena sudah memberitahu aku soal dirinya," sahut Hazel. .


Perjalanan yang hanya menyita setengah jam, mobil Irena telah terparkir di halaman supermarket itu. Collins juga ikut memberhentikan mobilnya, dia juga mengikuti Hazel dan Irena yang juga sudah masuk di supermarket.


"Mereka ingin belanja atau apa?" Collins bertanya-tanya seorang diri.


Hazel dan Irena memilih berdiri di depan papsn iklan yang bergambarkan Hazel yang sedang memegang buah dan sayuran. Sementara Collins memilih tempat persembunyian yang dapat memantau Hazel dari kejauhan.


"Apa yang mereka berdua lakukan disitu?" Collins kebingungan melihat tingkah Hazel dab Irena.


"Alaric.. datanglah, aku menunggumu disini," gumam Hazel.


Di tempat yang berbeda, Alaric dan Nenek Grace sudah bersiap-siap untuk ke supermarket juga, di tengah perjalanan, taksi mereka tiba-tiba mendapatkan kendala, Alaric keluar dari mobil itu bersama sopir taksi, ban mobil mereka tiba-tiba pecah di tengah kesunyian jalan.


"Alaric kita akan terlambat untuk kesana," ucap Nenek Grace.


Alaric meredam keinginannya, dia melihat di sekeliling mereka, ada rumah yang di ujung jalan, Alaric merasa terpanggil untuk meminta bantuan kepada pemilik ruang itu.


"Mungkin saja pemilik rumah itu dapat membantu kita," ujar Alaric.


Alaric sekali lagi mengamati keadaan sekitar, tempat itu seperti tidak asing baginya. Seolah dia pernah ada di wilayah itu.


"Ini daerah apa namanya?" tanya Alaric.


"Pterolophia," jawab Sopir itu.


Alaric terhenyak, timbul di benaknya ingatan disaat ia pertama kali keluar dari buku ajaib Castor, didalam rumah itulah pertama kali ia lihat. Alaric mengingat bentuk dan warna dinding rumah, semuanya persis, bahkan tidak ada bedanya.


"Kau kenapa Alaric?" tanya Nenek Grace le at jendela kaca.


Alaric menggelengkan kepalanya, bukan tidak ingin menjawab jujur, hanya saja saat itu ada sopir taksi yang berdiri disampingnya, ia tidak ingin sopir taksi itu mengetahui dari mana iia berasal.


"Aku akan masuk ke rumah itu meminta bantuan, kalian tunggu disini," ucap Alaric.


Nenek Grace sebenarnya ingin k


"Kenapa rumah ini seolah-olah memiliki aroma Castor," Alaric bergumam sembari menelusuri setiap sudut di halaman rumah itu.


Dia lebih memberanikan diri masuk ke teras rumah itu, mengintip, mencari seseorang didalamnya.


"Apa yang dia lakukan? dia bertingkah seperti pencuri," kata sopir taksi itu.


Nenek Grace meminta sopir taksi otu untuk masuk ke dalam mobil, dia tidak ingin kehadiran mereka diketahui oleh si pemilik rumah. Nenek Grace juga merasakan ada sesuatu yang menarik perhatian Alaric.


"Biarkan saja, cucuku juga tahu apa yang harus dua lakukan," ucapnya.


Alaric mengintip dibalik jendela kaca, gorden jendela itu terbuka sedikit, menujukkan sesosok wanita yang sedang duduk di kursi goyang sembari menikmati alunan musik klasik. Alaric mengamatinya dengan seksama, betapa terkejutnya dia mendapati sosok wanita yang kau tidak sangka.


"Dia..." Lirih Alaric. Dia yang terkejut tidak sengaja menyenggol pot bunga yang ada disampingnya.


Wanita yang ada di kursi itu tersadar, dia bangkit dari kursi goyangnya dengan tatapan tajam. Mengetahui wanita itu menyadari kehadirannya, Alaric bergegas berlari kencang ke taksinya kembali.


"Sembunyikan aku, ku mohon.." Ucap Alaric. Sopir taksi itu meminta Alaric untuk bersembunyi di bagasi mobilnya.


Setelah Alaric tidak terlihat lagi, wanita yang ada di dalam rumah itu keluar untuk mengecek keadaan. Sopir taksi dan Nenek Grace seolah sedang memeriksa mobilnya yang sedang kempes. Sementara wanita itu berjalan menghampiri mereka.


"Kalian siapa?" tanya wanita itu.


Sopir taksi itu berfokus kepada wanita yang sedang bertanya kepada mereka, "Ban mobil kamu kempes, kami membutuhkan bantuan. Akan ada teman ku yang akan datang untuk membantuku," ujar sopir itu.


Wanita itu melirik sejenak ke Nenek Grace, dia menatap tajam ke arah wanita berusia lanjut itu. Karena tidak suka di tatap, Nenek Grace protes kepadanya.


"Ehi wanita, kenapa kau menatapku seperti itu? aku memiliki hutang kepadamu?" tanya Nenek Grace nyolot.


Karena tidak ingin berdebat dengan seorang Nenek-nenek, Wanita itu memilih berdecak kesal lalu kembali lagi masuk ke dalam rumahnya. Dia mematikan lampu teras agar tak ada seorangpun yang lancang memasuki halaman rumahnya. Sedangkan Alaric masih tetap bersembunyi di bagasi.


"Ah.. itu dia," ucap. Sopr taksi itu ketika melihat mobil temannya sudah tiba.


Setelah menggantikan ban, Alaric diminta keluar lalu masuk ke dalam mobil. Sopir taksi itu bergegas meninggalkan tempat yang membuat Alaric ketakutan.


"Kau kenapa tadi?" tanya sopir taksi itu.


"Aku melihat dia yang akan menghancurkan aku kembali dengan tunanganku," jawab Alaric yang masih terkejut dengan yang ia temukan.


"Menghncurkan? kau kenal dengan wanita itu?" tanya sopir iti lagi.


"Mungkin hanya mirip, atau aku yang terlalu trauma," kata Alaric.


Nenek Grace tidak mengerti itu juga, dia meminta Alaric untuk menjelaskan kepadanya jika tiba di rumah. Mereka melanjutkan perjalanan lagi ke supermarket, berharap seseorang yang mereka tuju ada disana, menunggu dengan sabar.


"Aku rasa dia tidak datang," ucap Hazel yang pesimis. Sedari tadi dia menunggu Alaric bersama Irena.


Irena juga merasa bersalah, mengapa ia katakan bahwa Hazel telah berpacaran dengan Collins, "Mungkinkah itu penyebabnya tunanganmu tidak datang karena mempercayai hubungan mu dengan Collins."


Hazel terdiam, ia tidak dapat membayangkan betapa sakitnya hati Alaric ketika mempercayai itu, dia telah berjuang sekuat tenaga untuk mengunjunginya, namun yang di temukan hanya kekecewaan dari segala pengorbanannya saat ini.