HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Berjuang Mengungkapkan



Alaric mendatangi Jasper di kantor Kerajaan, Jasper saat itu sedang membuat dena pembagunan Castor sesuai intruksi Pak Van Hill. Alaric tahu memperbaiki takdirnya bersama Hazel hanya tersisa beberapa halaman lagi, setelah itu, lanjutan kisah mereka ditentukan oleh diakhir cerita babnya.


"Apa yang membuatmu kemarin, Pangeran?" tanya Jasper menyambutnya.


Alaric menarik tangan Jasper untuk menepi, memastikan tidak ada satupun orang yang mendengar percakapan mereka berdua.


"Bantulah aku, hanya aku satu-satunya mengerti," Ucapnya.


Jasper tidak mengerti, karena visi itu amat rahasia Alaric membisikkan permintaannya. Jasper dibuat terkesiap oleh permintaan Alaric, dia ingin menolak tapi Pangeran itu teramat sangat memohon.


"Baiklah Pangeran, saya selesaikan denau ini dulu, karena malam ini Yang mulia Raja Van Hill akan memeriksanya," Ujar Jasper.


Usia memberitahu Jasper, Alaric ke tempat lembaga pendidikan Kerajaan, disana dia mencari Efrat, para guru besar lembaga itu terkejut dengan kehadiran Alaric tanpa di kawal oleh pengawal kerajaan.


"Panggilkan Efrat," Titah Alaric kepada guru besar di lembaga itu.


Tidak lama kemudian, Efrat datang dengan wajah yang lebih cerah dan bahagia dari sebelumnya.


"Tampaknya kau sudah merasa lebih baik," Sapa Alaric.


"Seperti yang mulia lihat, aku sekarang jauh lebih baik dan menemukan tujuanku," Sahut Efrat.


Alaric meminta para guru besar di lembaga itu agar meninggalkannya bersama Efrat, ada hal privasi yang ingin ia utarakan kepada mantan kekasih Zhietta itu.


"Dimana satunya lagi? Apa kau menyimpannya?" tanya Alaric.


Efrat terhenyak, sudah lama dia tidak memikirkan permasalahan masa lalu, namun Alaric kembali mengingatkannya.


"Apa lagi yang akan kau lakukan, Pangeran? Itu satu-satunya cadangan yang tersisa, semua akan benar-benar berakhir jika kita salah langkah," Kata Efrat khawatir, dia tidak ingin Alaric gegabah.


Alaric paham kekhawatiran Efrat, tetapi jika tinggal diam dan pasrah juga, mereka juga tidak akan dapat apa-apa.


"Aku ingin berusaha, aku ingin meraih segala kebahagiaan dihidup iini, aku, Hazel, kamu, Jasper, dan semua berimbang, tunjukkan saja dimana letaknya, aku yakin kau tidak membawanya ke lembaga ini," Jelas Alaric.


Efrat ingin juga yang terbaik, tapi dia takut jika Alaric salah langkah lagi, metuska buku dongeng cadangan lainnya adalah kelalaian.


"Sisa itu, Zhietta hanya membuat tiga cadangan, dan keduanya telah kau bawa ke dunia Hazel, hanya ini yang tersisa, pikirkan baik-baik. pangeran," Lagi-lagi Efrat mengingatkan.


Alaric menatap Efrat, "Kali ini kita harus bertindak, kau harus berjuang sebelum bab itu berakhir, Hazel sedang mengandung anakku," uhar Alaric.


Efrat berpikir sejenak, dia pun menyetujui itu, Efrat memberikan arahan kepada Alaric posisi buku dongeng terakhir itu berada, setelah mengetahui Alaric memerintah pengawal pribadinya untuk segera ke tempat yang Efrat katakan.


Perjalanan ke lembah Zhietta memakan waktu sehari semalam, istana itu dijaga oleh beberapa prajurit kerajaan, istana Zhietta akan dijadikan sekolah untuk para penduduk Desa setempat.


"Segera cari buku yang dimaksud oleh Pangeran, lalu kita kembali ke istana secepatnya," kata Kepala prajurit kerajaan.


Mencari-cari di berbagai lemari buku Zhietta, mereka belum juga menemukannya, tempat yang disebut Efrat juga hanay menyisakan potongan kertas saja. Prajurit sudah kewalahan mencarinya.


"Disini tidak ada, dimana lagi kita harus mencarinya?" tanya salah satu dari prajurit istana.


Sementara Alaric menunggu di istana, berharap prajuritnya dapat menemukan buku dongeng ajaib yang hanya tersisa satu itu.


***


"Lihat saja, jika Emma mengabaikan ini, maka aku akan memberikan dia kejutan, dia telah melanggar aturan negara, menyembunyikan orang-orang ilegal," gumam Albert.


Ada yang menggedor pintu, Albert mengintip dibalik tirai, ternyata itu Emma yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Cukup lama Albert mendiamkan Emma, tetapi ketukan itu kian keras.


"Aku tahu kamu ada di dalam, buka Albert, kita bicara," kata Emma dari luar.


"Apa yang kau inginkan? Kau ingin aku membiarkan perilaku mu?" tanya Albert dari dalam rumah, dia belum membukakan pintu Emma.


"Kita perlu bicara," Sahut Emma.


"Kau berusaha melindungi keluarga kekasihmu, aku tahu itu," Ucap Albert, dia cemburu atas penolakan cinta kepada Emma dimasa lalu.


"Dia bukan kekasih ku, pria itu sudah memiliki istri, apa kau tidak menelusuri statusnya?"


Albert menyimak pertanyaan Emma, dia memang belum memastikan status Tommy, karena luluh, Albert pun beranjak membuka pintu. Di balik pintu, Emma memasang wajah lesuh, wajahnya pucat, akhir-akhir ini memang sangat melelahkan baginya.


"Kau kehilangan akal," Kata Emma, dia mendorong Albert masuk ke rumah lalu mengunci pintu dari dalam.


"Apa yang ingin kau lakukan?


Emma hanya diam memandangi Albert, menatap pria berkepala plontos itu tanpa berkedip, perlahan ia maju mendekati Albert.


" Kamu kenapa, Emma?" Tanya Albert sambil mundur ke belakang.


Emma hanya maju ke arah Albert tanpa menyahut. Hingga langkah Albert buntu karena dibelakangnya ada dinding. Albert bukan takut dengan Emma, hanya saja dia tidak berani menyakiti Emma jika wanita itu sampai melakukan hal diluar dugaannya.


"Jangan melakukan sesuatu yang merugikanmu!" Albert memperingatinya.


Langkah Emma terhenti, "Kenapa kau mengerjakan yang bukan urusanmu? Aku rasa jika masalah uang, saat ini kau tidak kekurangan, katakan!"


Albert hanya tersenyum miring, dia tidak ingin membalas ucapan Emma, kediamannya cukup untuk Emma memahami bahwa dia masih sakit hati.


"Aku tidak menyukai sifat kasarmu, andaikan tidak, mungkin.." Emma yang tidak sanggup menyempurnakan kalimatny, mata hanya sayup memandang Albert.


"Jangan seperti ini, profesional lah," ketua Albert, dia lemah jika Emma menatapnya sangat dalam.


Emma meraih kerah baju Albert lalu mencium bibir Albert dengan rakus. Albert belum membalasnya, mata hanya terbelalak menanggapi kelakuan Emma.


"Ummm....ummmm le-lepaskan Emma," pinta Albert.


Namun Emma tak menggubris, dia semakin meningkatkan ritme ciumannya, naluri lelaki Albert bangkit karena perbuatan Emma, tangan Albert mulai meraba area punggung Emma dengan cekatan. Sejenak Emma menghentikan ciumannya, mereka berdua saling berpandangan.


"Aku tidak ingin mengasari wanita yang kucintai, apakah aku pernah seperti itu selama berteman dengan mu?" tanya Albert.


Emma menggelengkan kepala, dia hanya melihat cara Albert yang tegas ketika menghadapi masalah, ada beberapa orang yang memusuhi Albert karena mengungkapkan kebenaran yang ada.


"Aku akan menuruti permintaanmu, tapi bisakah kau menjelaskan siapa mereka?" tanya Albert lagi yang memang sangat penasaran dengan Zhietta dan Alaric.


Emma mengangguk, dia ingin memberikan kepercayaan kepada Albert, namun sebelum bercerita, Emma ingin melampiaskan hasratnya berdua dengan Albert. Mereka kembali melakukan adegan cinta itu diruangan yang sama.