HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kematian



Collins mengemudi mobil itu dengan kecepatan tinggi, dibelakang Valencia mengumpatnya karena dia tahu Collins sengaja melakukan hal demikian.


"Kau terlalu melaju kencang, pelan-pelan banjingan!"


Collins tersenyum licik, malah makin menambah kecepatan mobilnya, Jasper tersentak kaget, ini pertama kali dia menaiki transportasi modern menyebabkan Jasper takut bergerak.


"Jasper akan menembakmu jika kau tidak mendengar peringatan kami!"


Collins tertawa lalu berkata, "Tembak saja, jika aku matimati, mobil ini akan masuk ke jurang dan kita akan mati bersama."


Valencia dan Jasper sesaat saling bertatapan, mereka ketakutan dengan aksi nekad Collins. Pria itu memang tabiatnya mengerikan.


"Pantas saja Hazel tidak dapat mencintaimu, karena memang aku tidak pantas untuknya!" Valencia menghardik.


Collins menganggap ucapan Valencia hanya hiburan sehingga membuatnya tertawa, dia semakin menambah kecepatan mobilnya. Jasper yang marah memukul kepala Collins dengan pistol.


"Hentikan kendaraan ini!" Kata Jasper.


Collins yang merasa dianiaya membanting kemudi mobilnya ke arah kanan, mobil mereka terperosok ke dalam jurang yang tidak terlalu terjal. Valencia terlempar keluar dari mobil, nyaris tertusuk dahan pohon. Sementara Jasper dan Collins tetap berada di dalam mobil.


"Brengsek!" Collins memukul wajah Jasper dengan keras, berusaha merebut pistol itu.


Tenaga panglima kerajaan Castor tidak sebanding dengan Collins, kemarahan Jasper terpancing, dia memukuli Collins sehingga tangannya lepas dari kemudi mobil.


"Ahhk.." Valencia menjerit.


Mereka bertiga menjerit ketika mobil itu terperosok ke dalam jurang. Mobil sedang warna merah itu mengepulkan asap, ketiganya terjebak dalam mobil. Jasper yang berada di jok depan menoleh ke belakang, Valencia telah mengeluarkan darah, didadanya menancap serpihan kaca jendela mobil yang pecah.


"Valencia, bangunlah," Ucap Jasper. Tangannya berusaha menggapai kepala Valencia.


Jasper mencari jalan lain untuk keluar dari mobil, sekuat tenaga ia mendendang pintu mobil yang terhalang barang pohon. Namun terdengar suara Collins terbatuk-batuk, pria itu juga mulai sdara dari para pingsannya. Mulut Collins mengeluarkan darah.


"Kau brengsek!" Collins memukuli punggung Jasper.


Jasper keluar dari mobil dengan mengantongi pistol itu. Dengan langkah yang gontai, dia menghampiri Valencia disisi kanan, mengeluarkan Valencia dari mobil.


"Bangun Valencia," Jasper menepuk-nepuk pipinya.


Tak tega Valencia kesakitan, Jasper mencabit serpihan kaca yang menancap di dada Valencia. Dia memeriksa detak jantung gadis yang ia cinta itu, masih mengeluarkan detakan.


"Kita pergi dari sini, kita kembali ke Castor," Ucapnya.


Jasper mengerahkan tenaganya menggendong Valencia untuk menanjak ke atas jalan lagi. Namun suara teriakan Collins menghentikannya sejenak. Jasper menoleh, dia tidak akan memberikan kesempatan Collins lagi menghalangi langkahnya menyelamatkan Valencia. Jasper mengambil pistol dari saku celananya,


"Kini kejahatanmu akan kuakhiri.. Tidurlah selamanya," Jasper menarik pelatuk pistolnya lalu menembakkan ke kepala Collins.


Seketika mantan sahabat Hazel itu tergeletak gak berdaya di dekat pintu mobilnya, langkah kejahatannya terhenti dijurang itu. Ambisinya menghancurkan Hazel sudah terbang bersama rohnya.


"Bangun Valencia, kita pulang.."


Jasper menapaki tanjakan yang dipenuhi bebatuan itu. Hingga dia sampai kembali di pinggir jalan, menarik nafas sejenak karena kelelahan menggendong Valencia.


"Kita harus kemana," Gumamnya.


Valencia menggerakkan tangannya, perlahan matanya terbuka memandangi Jasper.


"Valencia, kamu sadar, kita harus bagaimana?" Tanya Jasper.


"Hentikan mobil yang lewat," sahut Valencia dengan suara berat.


Jasper menanti mobil yang lewat, dari. jauh terdengar suara deruan mobil yang kian. mendekati mereka. Valencia kembali membuka matanya, dia meminta Jasper untuk menghentikan mobil itu segera.


"Tolong, berhentilah!" Jasper menghadang sembari menggendong Valencia.


Mobil yang dikendarai seorang pria itu berhenti, sesaat dia memandangi Jasper dan Valencia yang berlumuran darah.


Pria itu menganggukkan kepala, "Naiklah," serunya.


Perjalanan ke rumah Hazel menempuh jarak lima kilometer, pria yang mengemudi mobil menawari Jasper dan Valencia untuk mampir saja ke rumah sakit, namun Valencia menolak karena dia tidak ingin identitasnya diketahui oleh pihak rumah sakit.


"Bertahanlah Valencia," ucap Jasper. Hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya.


"Kau ingin apa kemari?" tanya Valencia.


Sepasang mata nanapnya memandangi Jasper.


"Aku mencarimu, aku ingin banyak mengungkapkan cintaku kepadamu."


Valencia mengukir senyum di wajahnya, berusaha mengangkat tangan lalu mengusap air mata Jasper.


"Kau harus tahu, aku mencintaimu sejak dulu, sejak aku pertama kali masuk ek istana Castor, kau harus tahu Valencia," ucapnya lagi.


"A-aku tahu, aku tahu sejak lama, maafkan jika aku tidak peduli akan hal itu, aku terlalu fokus pada ambisiku."


Jasper mengangkat Valencia elbo dekat lagi dengan wajahnya, dia mencium bibir Valencia yang bergetar menahan sakit di tubuhnya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Valencia.."


Valencia hanya menitikkan air mata, ia kerasa terlambat bila harus memiliki cinta itu. Dia sudah merasa tak berharga di mata Jasper.


"Kita harus ke alamat mana?" tanya pria itu yang sudah berada di area komplek rumah Hazel.


"No. 132 C," jawab Valencia.


Mengitari komplek pria itu akhirnya menemukan rumah Hazel. Jasper melihat Hazel berdiri dengan Emma di teras rumah, mereka nampak khawatir menunggu kabar dari Ayahnya.


"Hazel," teriak Jasper.


Hazel dan Emma terkejut ketika Valencia datang digendong oleh rpai bertubuh kekar.


"Jasper," lirih Hazel.


Mereka berlari menyambut kedatangan Valencia yang sudah berlumuran darah. Mata Valencia tak bergerak lagi ketika sudah berada di ruang tamu Hazel. Jasper berusaha memompa jantung Valencia, namun tak menuia hasil.


"Dia sudah tidak bernafas lagi," ucap Emma.


"Kita coba sekali lagi," kata Jasper.


Berkali-kali dia memberikan nafas buatan kepada Valencia, memompa jantung Valencia, namun hasilnya nihil. Jantung Valencia sufah berhenti berdetak, pecahan kaca yang menancap didadanya merusak jaringan sel di jantungnya.


"Tidak, bangunlah Valencia," Jasper memeluk erat tubuh Valencia.


Hazel dan Emma lunglai, mereka benar-benar terkaget dengan kematian Valencia yang mendadak. Penculikan yang dilakukan Collins mengakhiri hidupnya sendiri dan juga Valencia.


"Aku keluar dari Castor untuk menemuimu, i gin mengajakmu kembali Valencia, ku mohon bangunlah.."


Hazel mengusap-usap punggung Jat, menenangkan hati panglima kerajaan Castor itu. Namun tangisan Jasper tetap meraung-raung, dia tidak bisa menerima kematian Valencia yang mata tragis.


"Pria itu membunuh Valencia, pria itu membunuhnya," Jasper meracau.


Perlahan-lahan tubuh Valencia mengenai seperti batu, dari ujung kaki Hi gga kepala retak lalu menjadi debu. Hazel meminta Jasper menjauh dari mayat Valencia.


"Menjauhlah, itu cara kematian kalian dari negeri Castor bila keluar dari buku dongeng," ujar Hazel.


Jasper menangis sejadi-jadinya, tubuh Valencia musnah menjadi abu. Jaspy merangkak mendekati abu Valencia. Mengangkatnya dengan seraya mengucapkan kalimat maaf karena tidak dapat melindungi Valencia sewaktu kecelakaan itu.


"Dunia kejam, dunia ini kejam untukmu," ucap Jasper.


Haze dan Emma hanya bisa tertunduk. Hazel mulai tahu akhir dari kisah di buku dongeng Negeri Castor.