
Hazel ke kantor agensi yang menanganinya, bersama Collins ia akan melakukan pertemuan karena ada beberapa produk yang akan Hazel promosikan. Hazel duduk di bagian ujung, bersama seorang wanita yang bertugas menjelaskan tugas-tugas Hazel. Setelah membuat Hazel paham dengan teknik promosi mereka, wanita itu teringat dengan peristiwa kemarin malam.
"Kemarin aku bertemu dengan salah satu fans fanatik mu, kau sudah memiliki banyak fans pria pasti," ujar wanita itu.
"Ya, mereka hanya melihat sekilas di gambar," ketua Hazel.
"Tapi pria itu tampan banget, seperti pria-pria dari negeri dongeng," lanjut wanita itu yang memang terkesima dengan ketampanan Alaric.
Hazel terhenyak, mendengar kata "Negeri Dongeng" ia teringat Negeri Castor, terutama Alaric. Namun bagi Hazel, sangat tidak masuk akal jika pria yang dimaksud wanita itu adalah Alaric.
"Hmmm.. yah.. banyak pria tampan berkeliaran akhir-akhir ini," ketua Hazel. Dia tidak ingin berharap banyak dengan angan-angannya bertemu Alaric.
"Mungkin saja pria bernama Alaric itu hanya penggemar yang ingin..." Belum sempurna kalimat wanita itu, Hazel memotongnya.
"Alaric? pria yang kamu maksud itu Alaric?" tanya Hazel dengan antusias.
"Iya, dia mengaku sebagai tunangan mu, aku bilang tidak mungkin, karena kau dan Collins sepasang kekasih," sahut wanita itu.
Hazel terkejut, dia menarik tangan wanita itu menepi di ujung ruangan. Ia tidak mau ada seseorang pun yang mendengar percakapan mereka.
"Kamu yakin dari mengatakan namanya Alaric?" tanya Hazel.
Wanita itu menangkap sesuatu yang rahasia di balik sikap Hazel, wanita itu sudah yakin dengan kebenaran Alaric yang memang memiliki hubungan dengan Hazel.
"Apakah benar dia tunangan mu?"
Hazel menganggukkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca karena mendengar nama Alaric mencarinya.
"Dia sedang bersama Nenek tua, aku bertemu dia di supermarket Higienis, kamu harus temui dia, dia sangat merindukan mu, tapi aku lupa mereka kemana saat itu," kata wanita itu lagi.
Hazel memohon agar rahasianya bersama Alaric itu dirahasiakan, ia ingin menemukan Alaric dengan caranya sendiri.
"Bantu aku, ku mohon.." pintar Hazel. Dia ingin wanita itu mengingat sosok wanita tua yang bersama Alaric.
Wanita itu mengiyakan, dia akan membawa Hazel untuk mengunjungi supermarket itu, berharap Hazel dapat bertemu Alaric ketika Alaric mengunjungi supermarket itu dengan Nenek Grace.
"Lalu siapa Collins? Bukankah dia kekasihmu?"
"Bukan, dia hanya teman ku, Alaric lah tunangan ku, dia sangat mencintai ku, aku juga mencintainya."
Tiba-tiba ada Collins yang masuk ke ruangan itu, mencari keberadaan Hazel, karena tidak ingin Collins mengetahui keberadaan Alaric di London, Hazel meminta wanita itu merahasiakannya.
"Hazel.. kau ada di dalam?" Collins memanggil sembari mengetuk pintu di ruangan itu.
Hazel keluar menujukkan dirinya, seolah-olah tak ada yang terjadi, namun di raut wajahnya ada kesedihan dan kekhawatiran, Hazel memikirkan keadaan Alaric. Kedatangan Alaric di London bukti cintanya, rela menembus dimensi hanya untuk mencari Hazel. Meningalkan kebangsawanannya demi menemui Hazel.
Sepanjang syuting iklan, Hazel tidak dapat konsentrasi, dia selalu saja mendapatkan teguran oleh sutradara, wanita yang bernama Irena itu, ikut prihatin jika Hazel tidak dapat menyelesaikan dengan baik syuting hati itu.
"Hazel, fokuslah dulu, kamu hatis profesional," bisik Irena.
"Aku minta maaf, pikiran ku sedang kalut."
Collins menghampiri Hazel yang terlihat linglung, "Kamu kenapa Hazel? kau sakit atau ada sesuatu yang merusak pikiran mu?"
Hazel hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak akan menceritakan apapun kepada Collins. Kisah cintanya dengan Alaric tetap akan jadi rahasia, sebab itu akan membahayakan keselamatan Alaric. Pria itu tentu tidak memiliki identitas apapun, Alaric dapat menjadi orang ilegal tanpa identitas, tentu hal itu sangat membahayakan Alaric.
"Sebaiknya kamu duduk dulu, kuat istirahat," ucap Irena. Dia meminta Collins untuk membelikan Hazel buah segar untuk jadi cemilan. Itu cara jitu agar Collins enyah dari mereka untuk sementara waktu.
Setelah Collins keluar dari ruangan pemotretan, Irena kembali membahas tentang Alaric.
"Ayolah Hazel, kamu harus kuat, jika Alaric ada disini, tentu ia akan menyemangati mu, mendorong mu agar cepat selesai."
Hazel tak sanggup menahan air matanya, dia menutupi wajahnya, menangis sejadi-jadinya sambil membayangi wajah Alaric.
"Kak Irena, dia pasti kebingungan, dia tidak memiliki siapapun di dunia kita, aku takut Alaric dalam bahaya."
Irena menjelaskan bahwa ada sosok Nenek Grace yang mendampingi Alaric saat itu. Irena berusaha meyakinkan bahwa Alaric akan baik-baiks saja.
"Ayo Hazel, semangat. Kita selesaikan pekerjaan ini dulu, setelah ini kita cari Alaric. Aku akan menemani mu."
Hazel mengiyakan, dia memaksakan dirinya untuk tersenyum di depan kamera, sementara Collins mulai curiga dengan tingkah laku Hazel.
"Aku sangat merindukanmu, aku mohon kita bertemu..." ucap Hazel dalam hati.
***
Alaric yang sedang makan bersama Nenek Grace merasakan getaran hati Hazel, suara Hazel seakan berbisik memanggil namanya Alaric menghentikan aktivitas makannya.
"Kamu kenapa? kau sedang sakit?" tanya Nenek Grace.
"Aku merasakan Hazel sedang memanggil ku, Nenek.."
Nenek Grace yang percaya itu meminta Alaric untuk tetap tenang, dia akan membawa Alaric untuk merasakan energi Hazel yang memang juga sedang merindukannya.
"Kemana kita harus mencarinya? ini sulit, tetapi kamu harus menemukannya, dia pasti juga merindukanmu," kata Nenek Grace.
Alaric menyalakan TV, berharap ada Hazel yang nampak dilayar kaca, namun berjam-jam ia lalui, tak ada Hazel yang nampak, mata Alaric bahkan sembab memperhatikan layar Televisi berjam-jam, Nenek Grace yang tidak tahan, ia bergegas mencabut kabel TVnya.
"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, kau pangeran tampan yang sangat menyedihkan," kata Nenek Grace.
Alaric mengusap wajahnya, dia tersadar hal-hal. konyol ya g ia lakukan, ternyata hidup di dunia Hazel memang tidak mudah, dia tidak memiliki kekuatan, kekuasaan, dan harta yang dapat ia andalkan. Alaric sangat kecil dan tidak memiliki apa-apa, seperti seorang anak kecil yang pertama kali hidup di dunia baru.
"Aku seperti orang bodoh di dunia ini, Nenek.."
"Tidak, kau tidak bodoh, kau roia cerdas, ini memang bukan tempat mu, tapi kamu lebih tinggi dibandingkan mereka, aku, dan siapapun di dunia ini, kau harus gunakan kecerdasan mu untuk itu," Nenek Grace memberikan semangat.
Alaric tidak mampu berpikir keras, namun di sisi lain getaran di dadanya semakin membuat dia yakin Hazel juga sedang menyebut namanya.
"Aku akan ke supermarket itu lagi, aku akan menunggu di disana, aku yakin dia ada disana mencariku juga," ucap Alaric.
Nenek Grace akan menemani Alaric malam ini, apapun yang akan ia lakukan untuk membantu Alaric.