
Hazel bangun mengucek matanya, dia mengerjap, mulai mengamati keadaan sekitar. Ternyata dia sedang di kamar, tapi bukan dikamarnya, melainkan hotel, ketika ia hendak bangun dari perbaringannya, dia merasakan sedang menyentuh seseorang dibalik selimut. HHazel menoleh, dia terkejut mendapati Collins ada disampingnya yang tertidur pulas, pria itu tak memakai sehelai kain.
"Apa ini?!" Hazel melihat tubuhnya juga sudah polos tanpa kain dibalik selimut.
Amarahnya tersulut memandang Collins yang masih menutup mata.
"Sial! Kau apakan aku?!" Hazel menampar wajah Collins yang tertidur.
Dengan mata yang mengerjap, Collins terbangun. Dia tahu Hazel sudah marah besar kepadanya. Bunga Collins hanya diam menunduk, tidak dapat berkata lagi karena ia memang sengaja melakukan itu.
"Kau lancang kepadaku! Kau pria brengsek yang memanfaatkan kelengahan wanita!" Hazel memaki-maki, tetap saja Collins tidak bereaksi apapun, pria itu hanya tertunduk seolah menyesali perbuatannya.
"Kau menjebak ku?!" tanya Hazel membentak.
"Tidak, kau yang mengajakku untuk minum di club, katanya kamu sedang ada masalah, tapi kamu juga tidak ungkn cerita, aku mabuk, kamu mabuk, lalu inilah yang terjadi.." Collins menjelaskan dengan mimik yang serius.
Hazel tidak mempercayai itu, dia turun dari ranjang dengan melingkari tubuhnya dengan selimut. Memakai pakaiannya kembali yang tadinya berserakan di lantai.
"Ini tanpa kesengajaan Hazel, aku juga tidak sengaja menumpahkan benihku di dalam, aku minta maaf.." ucap Collins yang memang itu sudah ia rencanakan.
Hazel kehilangan akal sehat, dia melempari Collins dengan asbak, hampir mengenai kepala pria itu.
"Jangan pernah menampakkan diri lagi dihadapan ku dan keluarga ku!" Hazel memperingatinya lalu memilih pergi dari kamar hotel itu.
Sepanjang perjalanan, didalam taksi ia tak berhenti menangis. Dia belum bertemu Alaric, tetapi tubuhnya malah dijajah oleh pria lain, Hazel merasa melakukan kesalahan karena telah memberikan Collins peluang untuk mendekatinya.
"Andaikan dari dulu aku jaga jarak dengannya," Lirih Hazel penuh sesal.
Dia bahkan tidak mengingat apapun, tetapi dia merasa telah mengkhianati cinta Alaric. Hazel kini bingung, apakah ia akan tetap diterima Alaric setelah melakukan hubungan badan bersama Collins.
Setiba di rumah, Hazel langsung menuju ke kamarnya, dia melewati Tommy dan Emma yang baru saja sepulang bekerja. Hazel bahkan membanting pintu kamarnya dengan keras, namun beberapa detik kemudian, dia membuak pintu iti lagi, memunculkan separuh tubuhnya di balik pintu.
"Ayah, jangan biarkan Collins masuk ke rumah ini, jika Ayah masih menerimanya, maka aku yang pergi dari sini." Ucapnya lalu menutup pintu itu kembali.
Mendengar itu Collins dan Emma tersentak, kini Hazel sangat terlihat marah, baru kali ini Tommy melihat sikap putrinya yang mengamuk bak singa betina yang imgin menerkam.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang besar," Kata Tommy ke Emma.
"Iya, kamu harus menuruti permintaan Hazel, lagipula memaksakan perasaan seseorang itu sulit," Ujar Emma.
Hazel mengurung diri di kamar, menangis hingga suaranya terdengar oleh Tommy dan Emma. Kedua orang yang peduli padanya itu khawatir dengan kondiis Hazel dengan mental yang tidak baik-baik saja. Beberapa kali Tommy mengetuk pontu kamarnya, namun Hazel hanya berkata tidak ingin di ganggu.
"Biarkan saja dia sendiri dulu, tidak semuanya harus kita tahu, dia memiliki pertimbangan sendiri untuk mengungkapkan peristiwa yang menimpanya."Saran Emma kepada Tommy.
Tommy mondar-mandir di depan kamar putrinya, baru kali ini Hazel berlaku demikian, dia ingin pergi menanyakan kepada Collins secara langsung, tetapi Emma melarang itu agar menjaga perasaan Hazel.
Dia mengambil buku dongeng yang sidah tertutup untuk selamanya itu. Berharap ada keajaiban untuk membuat ia dan Alaric bersatu, tetapi ketika ia berusaha memaksa untuk membuka buku ajaib itu, tangannya langsung merasakan kebas, seperti sedang memegangi bara api.
"Jika Alaric dapat keluar dari Negeri Castor, berarti ada buku dongeng yang lain," Gumam Hazel menelisik.
***
Alaric tidak menyerah, dia kembali lagi ke supermarket itu seorang diri, tanpa memberitahu Nenek Grace, ia nekat menunggu Hazel dengan bermodalkan harapan saja. Sejam telah berlalu, ia masih duduk di bangku tunggu, pandangannya menjelajahi setiap sudut di supermarket itu. Namun diantara puluhan orang yang lalu lalang, matanya tertuju ke sosok wanita yang berdiri memandanginya.
"Zhietta.." lirih Alaric.
Zhietta tak sengaja mendapati Alaric, dia memandang pangeran Castor itu tanpa berkedip. Perlahan ia melangkah ke arah Alaric dengan tatapan tajamnya.
"Apakah dia akan menggunakan sihirnya?" Alaric bertanya-tanya seorang diri.
Zhietta menyilangkan tangan menyapa Alaric.
"Sudah kuduga, kau yang keluar dari Castor, hanya untuk mengunjungi kekasihmu itu," ucap Zhietta.
Alaric tidak akan bertanya mengapa Zhietta tidak terbunuh juga, dia pikir itu akan membuatnya lemaah, Alaric akan mencari tahu kelemahan Zhietta di dunia Hazel.
"Pulanglah, lebih baik kamu pulang mengurus kerajaannu, jangan mengharapkan cinta dari seorang manusia lain di Negeri ini, kau akan kecewa," kata Zhietta dengan tersenyum miring.
Alaric tidak menggubris, dia mengalihkan pandangannya dari mantan penyihir itu. Alaric tetap menunggu Hazel, bagaimanapun caranya dan lelahnya, dia akan melakoni itu demi bertemu Hazel kembali. Sementara Zhietta memperhatikan pakaian Alaric, dia ingin tahu, apakah Alaric membawa pena ajaib itu keluar dari Castor, atau ada seseorang lagi yang memegangnya.
"Kenapa kau melihat ku? kau ingin menyihir ku disini?" tanya Alaric.
"Akan kulakukan jika aku bisa, lebih baik kamu pulang, kau tidak tahu resiko jika kau tidak menjadi vampir lagi, tetapi hidup berlama-lama disini, hahahah" Zhietta tertawa karena ia tahu akan ada resiko besar yang akan menantinya.
Alaric mengerutkan alisnya, Zhietta yang tahu Alaric kebingungan malah sengaja menertawakan pangeran Castor itu.
"Kau perlu tahu, kau melewati pintu cadangan keluar dari Castor, bukan asli, ada banyak resiko yang bisa saja terjadi, sebaiknya kau menuliskan takdir baikmu secepatnya, sebelum buku ajaib mengakhirinya," ucap Zhietta.
Alaric menelan air liurnya, setiap kata demi kata Zhietta mengandung makna, dia yakin Zhietta saat ini bukan menakut-nakutinya, melainkan peringatan, Alaric harus tahu resiko apa akan menimpanya bila ia menetap di London.
"Baiklah.. silahkan berpikir keras, kurasa kau cerdas untuk mendapatkan jawabannya," kata Zhietta yang memilih pamit dari hadapan Alaric. Dengan mendorong troli nya, Zhietta meningalkan Alaric yang sudah pusing. Wanita itu beranggapan bahwa Alaric membawa sal satu buku dan pena ajaib itu bersamanya ke London.
"Sepertinya Zhietta sudah menjadi manusia biasa, dia bukan lagi penyihir, apa yandimaksud tentang resiko itu.." gumam Alaric.
Dia teringat dengan pena ajaib, pena itu ia letakkan di dalam laci dirumah Meneh Grace. Namun kesalahannya tak ada satupun buku dongeng ajaib yang ia bawa, sulit untuk menuliskan takdir baik untuknya.
"Jalan satu-satunya ialah mencuri buku yang dimiliki Zhietta," lirih Alaric yang masih memandangi Zhietta dari kejauhan.