HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Menemani Tidur



Hazel mengitari kastil itu sembari meminta tolong, dia memanggil-manggil nama Alaric. Sesaat dia tercengang dengan bayangan yang mendekatinya dari arah belakang. Hazel yang mencurigai bayangan itu berbalik seraya menendang, tepat mengenai dada seseorang itu.


"Auhh ..Hazel ini sakit," tenyata bayangan itu adalah Alaric.


"Kau mengagetkan ku," kata Hazel protes.


"Aku menghampiri mu karena kau meminta tolong."


Hazel mengusap dada Alaric, pria itu tersentak karena area sensitifnya di sentuh oleh Hazel. Alaric tersenyum, rasa sakit di dadanya perlahan sirna.


"Kau masih ketakutan?" tanyanya.


Hazel mengangguk, dia menceritakan tentang makhluk yang ingin menyerangnya, makhluk yang mengeluarkan bola api. Alaric berusaha untuk mempercayai itu, tetapi baginya tidaklah masuk akal sebab Kastil pribadinya adalah kastil rahasia.


"Ini kastil rahasia, dilindungi mantra, sihir Zhietta tidak dapat menembusnya, ini mantra dari Kakek moyang kami," tutur Alaric.


Hazel ternganga, penuturan Alaric meragukan ceritanya,


"Yang aku alami itu fakta, aku melihat makhluk itu sejenis kelelawar," tegas Hazel.


Alaric mengalah, malam sudah larut, dia menggendong Hazel menuju ke kamarnya, gadis itu terkejut dengan sikap Alaric.


"Lebih baik kita tidur, kau terlalu lelah, aku akan menemanimu," ujar Alaric. Dia membawa Hazel masuk ke kamarnya, meletakkan Hazel di atas ranjang.


Alaric di tepi ranjang memandangi Hazel, karena tak nyaman Hazel menutupi wajahnya dengan selimut.


"Aku akan tidur di sofa, tidurlah, akan ada banyak kegiatan esok yang harus kau lakukan," ucap Alaric.


Sebelum tidur, Alaric melirik ke jendela, memikirkan cerita Hazel tentang mahkluk menyerupai kelelawar. Untuk mempercayainya sangat sulit, namun Alaric juga tidak meragukan bila Hazel berbohong. Dengan peristiwa itu, Alaric akan lebih waspada lagi menjaga Hazel.


"Kau mencurigai sesuatu, Pangeran?" tanya Hazel.


Alaric beranjak lagi menghampirinya, "Kau yakin dengan yang kau lihat?"


Hazel meletakkan tangan Alaric di kepalanya, dia bersumpah dengan hal itu. Hazel kembali menceritakan bahwa mahkluk itu terlihat hanay ingin menakut-nakutinya.


"Kalau begitu, mulai besok berjanjilah untuk belajar ilmu bela diri, kau adalah pahlawan di negeri ini," ujar Alaric. Ia takut jika suatu saat dirinya tak mampu melindungi Hazel, dia hanya seorang pangeran yang sudah di kutuk, Alaric tak memiliki kekuatan sihir apapun.


Hazel menganggukkan kepalanya, dia haruslah mengandalkan dirinya sendiri, tidak terus-menerus berlindung dibalik Alaric, tercetus di benak Gazel tetnag blur yang ada di buku "The Castor's Land", ada yang mengusik jiwanya.


"Apakah benar akulah pemeran utama di buku ini?" tanya Hazel.


Alaric menyeka rambut gadis itu, meskipun bekum mengetahui kisah akhir di Negerinya sendiri, tetapi dia yakin Hazel mampu mengalahkan Zhietta.


"Kau pemeran utamanya, dan .." Alaric belum bisa melanjutkan kalimatnya.


Hazel menelaah, "Dan apa?"


"Sudahlah, kita tidur," sahut Alaric. Dia berkelit untuk menutup pembicaraannya.


Alaric menelan ludahnya, menatap nanar Hazel. Tanpa berucap sepatah katapun Alaric mencium bibir ranum Hazel, karena terkejut Hazel menghindar, tetapi wajah ditekan oleh Alaric. Dari dalam mulut Alaric mengeluarkan gelembung cahaya, gelembung cahaya itu berpindah ke dalam mulut Hazel. Setelah semuanya selesaiz Alaric melepaskan ciumannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Hazel protes.


"Aku adalah pengantin mu, tadi adalah energi agar kau tetap memiliki tenaga."


Hazel tercengang saat Alaric mengatakan bahwa mereka adalah sepasang pengantin. Namun pria itu malah kembali ke sofa untuk tidur, meninggalkan Hazel yang kebingungan seorang diri.


***


Tommy menanti kepulangan Hazel, sejak kemarin ia tidak tenang sebab anak angkatnya itu tak kunjung pulang. Kekesalan Tommy kian membuncah kepada istrinya, Kammy. Dia pikir karena Kammy sehingga Hazel enggan lagi pulang ke rumah. Kammy saat itu hanya bersantai di depan TV, berharap Hazel memang pergi dari kehidupan mereka.


"Jika Hazel tak lagi pulang, kau sudah menjadi wanita terjahat di muka bumi ini," ucap Tommy pada istrinya.


Kammy mengabaikan, dia lelah berdebat dengan suaminya hanya karena membela Hazel. Tommy memutuskan mencari Hazel ke kampus juga ke perpustakaan. Ia berangkat tanpa memberitahu kepada Kammy.


Setiba di kampus, dosen itu menceritakan bahwa Hazel sejak kemarin tidak masuk mengikuti pelajaran. Teman-teman kampusnya juga tak mau ambil pusing dengan kehilangan Hazel.


"Berarti satu-satunya informasi yang bisa kudapatkan dari pemilik perpustakaan," gumam Tommy. Meskipun Hazel anak angkatnya, bagi Tommy Hazel segalanya, gadis yang sejak kecil menjadi anaknya adalah penyemangat hidupnya.


Tommy menuju ke perpustakaan, saat itu ada Kakek Van Hill sedang menyiram tanaman, Pak Van Hill tak henti batuk-batuk, sesekali menghirup aromaterapi. Tommy menyapa Pak Van Hill, si Kakek berusia tujuh puluh tahun itu menyipitkan matanya.


"Kau siapa?" tanya Pak Van Hill.


"Saya, Tommy. Ayah Hazel, apakah anakku ada disini?"


Pak Van Hill tertegun, dia juga kebingungan saat itu, sejak kemarin menantikan kedatangan Hazel membantunya, tetapi gadis itu tak kunjung datang.


"Apakah Hazel tidak pulang?" Pak Van Hill malah balik bertanya.


Tommy menggelengkan kepalanya, pertanyaan itu membuatnya paham bahwa Hazel tak ada di perpustakaan. Seketika Tommy kian panik, dia duduk di bangku perpustakaan memikirkan keberadaan putrinya.


"Apakah sudah terjadi sesuatu dengan Ibu angkatnya? Mungkin dia hanya lelah, atau butuh sendiri," kata Pak Van Hill.


Tommy menyadari kelakuan istrinya keterlaluan, sengaja tak membuat Hazel nyaman di rumah. Pak Van Hill menepuk-nepuk pundak Tommy, dia tahu pria itu sangatlah menyayangi Hazel.


"Jika dalam dua hari ini Hazel tidak ditemukan, laporkan ke pihak kepolisian, berarti ada terjadi sesuatu pada gadis kecil mu itu," saran Pak Van Hill.


Tommy menerima saran itu, tanpa menunggu, ia langsung berangkat ke kantor polisi melaporkan kehilangan Hazel. Pak Van Hill pun juga dirasuki khawatir, dia mengelilingi setiap sudut perpustakaannya mencari jejak Hazel.


Pak Van Hill juga memeriksa gudang, dia melihat ada tas Hazel yang ada di dekat perapian. Pak Van Hill memeriksa tas Hazel, barang-barangnya masih lengkap, telepon genggam Hazel sudah lowbat. Namun ada satu yang menarik perhatian Pak Van Hill, buku dongeng rahasia yang selama ini disimpannya tergeletak di lantai.


"Kenapa buku ini ada di lantai?" gumam Pak Van Hill.


Matanya terbelalak ketika tak ada batu Ruby lagi menempel di sampulnya. Pak Van Hill mencoba membuka buku dongeng itu, tetapi tak dapat lagi terbuka. Isi buku dan sampulnya menyatu, sulit untuk dibuka lagi. Pak Van Hill tersentak, dia menyadari bahwa Hazel telah masuk ke dalam buku "The Castor's Land."


"Hazel, kau, kau .." Pak Van Hill menitikkan air matanya. Seakan tak percaya ternyata gadis yang selalu menemaninya adalah pemeran dari utama di buku dongeng ajaibnya.