
Alaric menyambut tangan Hazel, mengajaknya naik kuda Jasper. Hazel senyum-senyum tipis, walaupun tangan Alaric dingin, tetap saja ada aliran setrum mengontak jiwa Hazel. Dia dan Alaric akan melakukan perjalanan menuju ke kastil utama, tempat Raja Carlos dan Ratu Florida berada. Hazel gugup karena dirangkul dari belakang oleh Alaric.
"Kau merasa ada yang aneh?" tanya Alaric.
Hazel menyelidik, ia tak mengerti keanehan yang dimaksud oleh Alaric.
"Detak jantung mu memompa cukup kencang, kau gugup?" tebak Alaric menggoda.
"Lebih tepatnya aku ketakutan," Hazel berkelit.
Alaric semakin mengencangkan pelukannya dari belakang, dia menguji Hazel agar jujur dengan perasaan gugupnya.
"Kau ingin membunuhku pangeran," ketus Hazel.
Alaric mendekatkan bibirnya ke telinga Hazel, "Kebohongan membuat seseorang cepat mati."
Hazel berdecak kesal, bukan tak menyukai godaan Alaric, tetapi tak terbiasa di goda oleh pria. Semua pria di dunianya memandangnya sebagai si buruk rupa, tak ada yang meliriknya, apalagi mengajaknya berkencan.
"Kau harus jadi pengantin ku, Hazel .." Bisik Alaric.
Bersemu merah pipi gadis itu, mata warna hazelnut nya memancarkan hati yang telah kasmaran. Jasper yang jahil malah memilih terbang lagi, Hazel memekik karena terkejut. Dia ingin membuyarkan keromantisan tuannya.
"Jasper adalah pengawalku yang memang usil," kata Alaric.
"Pengawal? Benarkah? Apakah dia dulu manusia sama seperti mu?"
Alaric menceritakan bahwa Kudanya adalah jelmaan dari pengawal pribadinya dulu. Memiliki keberanian melawan Zhietta, disaat virus Vampir merebak, hanya Jasper yang berhasil menghindarinya, Zhietta yang mengetahui itu mengutuk Jasper menjadi kuda hingga negeri Castor kembali seperti semula, burung merpati yang Jasper pegang sebelum di kutuk menyatu pada dirinya, sayap itu melekat di sisi kiri-kanan Jasper walaupun telah menjelma menjadi kuda.
"Jasper, kau akan kembali seperti semula, yakinlah .." Ucap Hazel seraya mengusap kepala Jasper.
Alaric malah frontal menciumi pundak Hazel dari belakang, Vampir itu tak dapat menutupi kekagumannya. Hazel mendelik, tak berani menoleh ke Alaric, bila menoleh, maka bibirnya akan bertabrakan dengan bibir Alaric yang menempel di kupingnya.
Angin kencang mengibas wajah cantik Hazel, suara Alaric berseru, mereka berdua menikmati keahlian terbang Jasper yang semakin luar biasa.
"Ini luar biasa," puji Hazel.
"Ini belum seberapa, kau akan melihat kehebatan dunia Castor setelah semua kembali semula," ujar Alaric.
Dari jauh penampakan kastil utama Castor terpampang megah, ada banyak sinar-sinar menyilaukan mata Hazel. Karena Hazel tak nyaman dengan sinar kastil, Alaric menutup mata Hazel dengan tangannya.
"Jika belum terbiasa, mata mu akan sakit, itu mantra pelindung istana," kata Alaric.
Jasper bertengger di menara, perlahan turun ke bawah, tepat di halaman istana dia berhenti. Alaric lebih dulu turun memandu Hazel ikut bersamanya. Para pelayan istana menyambut kedatangan Alaric, Hazel senyum tipis, segan karena seluruh pelayan istana berwujud Vampir sama seperti Alaric.
"Kau ingin bertemu Ayah dan Ibuku?" tanya Alaric.
Hazel hanya mendelik, bingung harus menjawab apa, tangannya di genggam pria itu menuju ke lantai atas. Istana megah terpampang nyata, Hazel berdecak kagum dengan kemegahan kastil utama Castor.
"Dia Hazel, gadis yang aku ceritakan, Ayah, Ibu."
Ratu Florida terenyuh, melihat wajah Hazel seolah melihat seberkas harapan yang akan terwujud. Seluruh harapan penduduk Castor bertumpu kepada Hazel, tak terkecuali Ratu Florida dan Raja Carlos.
"Kau sangat murni, selamatkan kami dengan kemurnian mu, Nak .." Ucap Ratu Florida mengusap pipi Hazel.
Ini kali pertama Hazel di sentuh oleh seorang Ibu, tenyata sentuhan seorang Ibu memiliki rasa yang berbeda dari Ayah. Sentuhan sayang dari Ratu Florida adalah hal yang inginkan dari Kammy, tetapi nyatanya, Kammy tidak mau menganggapnya sebagai anak.
"Aku akan berusaha, aku berjanji yang mulia Ratu," kata Hazel meyakinkan pula dirinya.
Raja Carlos saat itu hanya melemparkan senyum kepada Hazel, tak mampu berkata-kata lagi karena bahagia. Hazel yang duduk di samping Ratu Florida melihat lukisan Raja Carlos dengan Pak Van Hill, Hazel baru tersadar bahwa Raj Carlos lumayan mirip dengan Ayah Alaric itu.
"Dia Kakek Alaric, Raja generasi kedua, bernama Raja Van Hill," timpa Ratu Florida, dia mengamati Hazel yang sedari tadi memandangi lukisan Pak Van Hil.
"Iya, Yang mulia. Pangeran Alaric sudah menceritakan itu."
"Dan Alaric akan menjadi Raja generasi ke-empat setelah Ayahnya, anakku cukup tampan 'kan di matamu?" tanya Ratu Florida menggoda Hazel.
Hazel senyum masam, ternyata selain menyeramkan, Vampir juga memiliki sifat usil, batin Hazel.
"Ya, walaupun Pangeran Alaric memiliki gigi taring saat ini, tapi dia cukup tampan, lumayan untuk dibanggakan," sambung Ratu Florida melirik ke anaknya.
Wibawa Alaric diacak-acak oleh Ibunya, sebegitu senangnya Ratu Florida terhadap Hazel sehingga menawarkan ketampanan anaknya. Ratu Florida bahkan tak segan memberikan isyarat bahwa Alaric memiliki kepantasan bersama Hazel.
"Alaric, kau cukup tampan 'kan?" tanya Ratu Florida.
Sejak dulu Alaric selalu melayangkan candaan kepada Ibunya, bahwa dirinya pria tertampan di seantero Negeri Castor, lelucon itulah yang menjadi topik hangat Ratu Florida.
"Sudahlah, Ibu. Hazel sudah terbiasa melihat pria tampan di dunianya," ketus Alaric. Dia memalingkan pandangan dari Hazel.
Hazel menahan gelak tawanya, dalam hati mengakui bahwa Alaric memang sangat tampan. Tetapi perhatian Hazel tetap ke arah lukisan Pak Van Hill, dia ingin menyelidiki bagaimana Raja generasi kedua Castor itu keluar dari buku dongeng? Hazel membubuhi pikirannya dengan sekelumit pertanyaan.
'Pantas saja Pak Van Hill setiap minggu memesan kantong darah,' ucap Hazel dalam hati. Mengingat rutinitas Pak Van Hill memesan darah dari pihak rumah sakit secara ilegal.
Ternyata itu cara membuat Kakek Alaric tetap bertahan hidup di dunia manusia, Hazel menelaah bahwa Pak Van Hill bisa saja sudah puluhan tahun tinggal di dunianya, tentu bukan untuk bersenang-senang semata, tapi memiliki tujuan tertentu.
'Apakah dia mencari ku? Apakah Pak Van Hill sudah tahu sebelumnya aku adalah harapan Negeri Castor?' Hazel bertanya-tanya dalam hatinya.
"Hei," Alaric mengejutkannya, Hazel berdecak kesal. Jantungnya serasa ingin meledak.
"Kau sedang memikirkan apa? Kau melihat lukisan Kakekku terus? kau jatuh hati padanya?" tanya Alaric yang kembali usil.
Hazel tak menanggapi itu, dia mengenyampingkan rasa penasarannya, memilih untuk berbaur dengan Ratu Florida yang duduk mengupas buah bersama pelayan saat itu. Ibu Alaric yang rendah hati mengajak Hazel duduk disampingnya.