
Hazel duduk bersama Alaric dibalkon rumah Nenek Grace, dia banyak menceritakan tentang perjalanannya setelah dari negeri Castor, begitupun dengan Alaric. Tetapi ada satu yang ingin Alaric ceritakan, bukan ingin membuat Hazel khawatir, tetapi dia ingin Hazel berhati-hati setelahnya.
"Kamu percaya Zhietta telah mati?"tanya Alaric.
Hazel terdiam, lalu menggelengkan kepalanya, " Tidak, aku pernah melihatnya sepintas, aku tidak. yakin itu dia.. tapi.."
"Itu dia Hazel, itu Zhietta. Aku bertemu dua hari yang lalu, tapi bukan sebagai penyihir, tetapi sebagai manusia biasa," ujar Alaric.
Hazel pun juga teringat dengan peristiwa yang menimpanya atas perbuatan Collins. Namun ia malu menceritakan hal itu kepada Alaric.
"Aku harus berbuat sesuatu untuk menjadikan kisah bahagia, kuncinya ada di buku dongeng ajaib itu."
"Tapi ini bukan Castor, kamu akan kesulitan untuk itu, hukum kita berbeda, jika kau melukai Zhietta, itu akan mencelakaimu juga."
Alaric tidak akan menjelaskan rencananya kepada Hazel, diam-diam akan melakukannya seorang diri tanpa memberitahu siapapun. Alaric bersiap menanggung resiko itu bila terjadi kegagalan.
"Kamu tetap disini dengan Nenek Grace, aku akan pergi membelikan kamu sesuatu, aku sudah ada cukup uang untuk itu."
Hazel menurut saja, efek kehamilannya membuat dia ingin lebih banyak tidur, karena belum mengetahui dirinya hamil, Hazel pun tidak terlalu berfokus mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Alaric menelpon sopir taksi langganan Nenek Grace, dia meminta mengantarkan ke rumah Zhietta yang cukup jauh dari wilayah rumah Nenek Grace.
"Kenapa kau ingin kesana? Bukankah wanita itu sedikit menyeramkan?" tanya sopir itu.
"Tenang saja, tetaplah anda di luar saja, biar saya yang masuk," sahut Alaric.
Hanya dia yang akan bertindak untuk mengambil buku ajaib itu. Lagipula, tak ada gunanya lagi Zhietta memegang bukunya, Zhietta juga tak dapat lagi menyihir apapun, tak dapat juga masuk ke dalam negeri Castor.
Setuba di wilayah rumah Zhietta, Alaric keluar dari taksi, dia meminta sopir itu tetap menunggunya agar ia dapat pergi dengan cepat dari kejaran Zhietta nantinya.
"Tunggulah, saya akan masuk."
Alaric mulai membuka pagar rumah bercat coklat itu secara perlahan, seperti biasanya, rumah Zhietta selalu gelap, seolah tidak berpenghuni, setelah berada ditepi jendela, Alaric mendengar suara musik klasik lagi. Terdengar suara Zhietta bernyanyi, menikmati aluan musiknya.
'Tampaknya mantan kekasih Ayah menjalani hidup normal,' ucap Alaric dalam hati.
"Tolong ambilkan teh hangatku," terdengar suara Zhietta meminta tolong kepada seseorang.
Alaric menebak jika Zhietta tinggal dengan seseorang, karena penasaran, Alaric. mengintip dibalik jendela kaca yang tertutupi sedikit gorden itu. Alaric membelalakkan mata ketika melihat wanita yang datang membawakan Zhietta minuman.
"Valencia.." ucapnya terkejut melihat Valencia yang juga keluar dari negeri Castor.
"Ternyata selama ini Valencia tidak kembali ke Desanya, dia keluar dari Castor juga," gumam Alaric lagi.
Alaric menundukkan kepalanya, dia menyusuri setiap sudut di luar rumah Zhietta. Mencari ruangan yang tempat pertama kali ia keluar dari Castor. Alaric melihat ruangan itu, di bagian ruangan rahasia, Alaric melihat ada ruangan yang tempatnya keluar pertama kali dari Castor.
"Itu dia, tapi apakah buku itu masih ada di laci?" gumamnya.
Sayangnya Alaric tidak dapat masuk ke ruangan itu, jendela ruangan itu dikunci rapat oleh Zhietta. Jalan satu-satunya ialah memecahkan kaca jendelanya, itu ia harus lakukan lalu pergi dari tempat itu segera mungkin. Sementara mulai petang, jika ia tidak bersikap, Alaric takut jika rencananya gagal.
Hanya sekali hantaman pot bunga, kaca jendela itu pecah berkeping-keping, Alaric memanjat untuk masuk ke dalam ruangan itu, bergegas membuka laci, benar saja, buku ajian itu ada didalamnya, sama seperti saat ia keluar dari Castor.
"Apa itu?" tanya Zhietta elpada Valencia yang duduk di ruang tamu.
"Itu mungkin pencuri, atau.." sahut Valencia.
Zhietta dan Valencia segera ke ruangan sebelah, ketika mereka berdua membuka pintu, terlihat ruangan itu kosong, tak ada siapapun disana, namun kaca jendela telah berserakan.
"Ada yang masuk," kata Zhietta dengan suara yang mulai emosi.
Zhietta bergegas membuka lacinya, dia melihat laci itu sudah kosong, tak ada buku dongeng ajaibnya di dalam.
"Alaric!" Pekik Zhietta. Dia sudah menebak seseorang yang mengambil buku ajaibnya adalah Alaric.
Valencia terkejut disaat Zhietta mengucapkan nama Alaric. Dia belum mengetahui jika Alaric keluar juga dari Castor.
"Apa maksud mu menyebutkan nama Alaric? dia juga ada disini?" tanya Valencia. Didalam hatinya masih ada Alaric bertahta, tidak dapat tergantikan.
Zhietta melirik kesla kepada Valencia, wanita muda itu sudah diangkatnya sebagai adik, namun ia membenci jika Valencia maaih mengharapkan Alaric yang jelas-jelas tidak pernah mencintainya.
"Iya, Alaric sudah ada disini, dia keluar dari buku ajaib ku, dan sekarang dia berani mencurinya dariku, anak itu memang selalu membuatku kesal!"
Valencia tersenyum kecil, walaupun ia tahu maksud Alaric datang ke dunia Hazel, tapi Valencia tetap bahagia, setidaknya dia memiliki kesempatan lagi melihat Alaric, semenjak keluar dari Castor, Valencia enggan keluar rumah karena tak bergairah untuk melakukan aktivitas seperti manusia normal pada umumnya, patah hati masih menguasai jiwanya.
"Kau masih mengharapkannya? bangunlah dari kebodohanmu?! Kau lihatlah aku, karena cinta, aku hancur, kau menyia-nyiakan orang yang mencintaiku, aku menyia-nyiakan Efrat, hingga kami tidak bisa bersatu sekarang." Jelas Zhietta yang suaranya purau bila mengingat Efrat.
Valencia tertunduk, dia meninggalkan Zhietta karena tidak ingin berdebat lagi perihal cinta dengan mantan Ibu tiri Hazel itu. Zhietta tak henti marah-marah karena ulah Alaric, dia tidak ingin Alaric menjadikan kisahnya buruk di buku ajaib itu.
"Dimana sebenarnya dia tinggal? apa aku harus mencari tahu? sihhht!"
Zhietta keluar menyusul Valencia, dia meminta gadis itu untuk membantunya, tetap saat itu Valencia enggan di ganggu.
"Valen, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa jika terus seperti itu." Zhietta mengingatkan Valencia untuk bangkit. Dia berucap dibalik pintu kamar Valencia yang terkunci.
"Aku sudah kalah, kita semua sudah kalah, itu faktanya." Valencia menyahut.
"Kita harus melanjutkan hidup disini, kita bulan lagi penduduk Castor. Tapi setidaknya bantulah aku untuk mengambil bukuku kembali, hanya itu satu-satunya kenangan dari Castor, kita akan mengetahui semuanya, aku sempat membaca Hazel bersama pria lain sebelum bertemu Alaric untuk kedua kalinya," jelas Zhietta.
Buku ajaib itu tertulis sendiri tentang kehidupan Hazel dan Alaric setelah menjalani takdirnya. Pria yang dimaksud Zhietta itu ialah Collins, pria yang setiap saat menemani Hazel. Zhietta sempat membaca tentang Collins menjebak Hazel di hotel bersamanya, membuat hubungan mereka renggang sebagai teman.
"Maksudmu Hazel mengkhianati Alaric?" tanya Valencia yang beranjak membuka pintu.
Zhietta tersenyum, penyemangat utama Valencia memang tentang Alaric, sungguh sulit melenyapkan perasaan itu dari Valencia.