HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kembalinya Hazel ke London



Emma masih mengompres air hangat di setiap lengan Hazel. Gadis cantik itu sudah sadarkan diri, dia terheran dengan kehadiran Emma di dekatnya, wanita yang asing bagi Hazel. Emma tersenyum mengusap kepala Hazel.


"Aku Emma.. teman Ayahmu, ada banyak yang harus aku ceritakan selama kepergianmu di negeri Castor," ucapan Emma memulai.


Hazel terhenyak ketika Emma mengungkapkan negeri Castor, dia mengingat semuanya itu hanya mimpi, dia merasa masuk dalam dunia mimpi yang telah lama ia idam-idamkan.


"Aku ternyata dari negeri Castor, ternyata itu bukan mimpi.." Lirih Hazel tapi dapat di dengar oleh Emma.


"Kamu merasakan itu hanya mimpi? berarti kamu memang masuk kedatangan negeri itu, bagaimana keindahannya?" tanya Emma penasaran. Dia penasaran dengan cerita Pak Van Hill tentang kedudukannya sebagai Raja kedua di negeri Castor.


Hazel mengingat semua yang ia lalui di negeri Castor, mulai tersesat di hutan hingga berakhirnya pesta dansa karena ia di jemput oleh pusaran angin. Hazel tiba-tiba bersedih setelah mengingat kisah cintanya yang kandas dengan Alaric.


"Alaric..." Lirih Hazel mengingat wajah Alaric yang teramat tulus mencintainya.


Emma melihat guratan kesedihan di wajah Hazel. Dia tahu Hazel sedang mengingat pangeran yang dimaksud oleh Pak Van Hill adalah cucunya.


"Kamu harus kuat, ini takdir kalian.."


Hazel menutupi wajahnya menangis, dari luar ada Tommy bergegas masuk ke kamar putrinya, dia menghampiri Hazel lalu memeluknya dengan erat. Tommy tidak mau bicara apapun, kan tahu kepedihan putrinya yang baru pertama kali mencintai, tetapi telah kandas karena perbedaan dunia.


"Ayah.. aku terpisah dengan Alaric.." Ucapan Hazel menangis sesenggukan.


"Iya sayang, Ayah memahami perasaan mu," sahut Tommy.


Setelah menenangkan putrinya, Tommy kembali duduk di samping Emma. Dia baru menyadari kulit Hazel telah berubah, kulit yang dulunya penuh cacar air telah berubah menjadi bersih dan bersinar,Hazel tanpak cantik seperti artis.


"Kulitmu berubah Hazel, kau sudah sembuh.."


Hazel memastikan perkataan Ayahnya, memandangi seluruh area tubuhnya. Benar, kulitnya sama seperti di negeri Castor. Hazel teringat bahwa serpihan batu Ruby itu sebagian tertelan olehnya. Itulah penyebab bentuk fisiknya tetap sama pada saat di Castor.


"Ini karena baru Ruby Ayah."


Tommy dan Emma sejenak saling bertatapan, mereka penasaran dengan hal-hal yang Hazel lalui di negeri Castor.


"Kau melakukan apa saja di negeri Castor? Apakah kau menemukan sosok wanita yang dimaksud oleh Pak Van Hill, penyihir?" tanya Emma spontan.


Hazel terhenyak, ada banyak yang ingin ia ketahui dengan keadaan Pak Van Hil, Emma dan Tommy pun menceritakan keadaan Pak Van Hill semenjak Hazel menghilang dari London. Haru Hazel bak teriris mendengar cerita tentang Pak Van Hill.


"Tetapi dia sudah bahagia di Castor, dia telah berkumpul dengan keluarga juga Rakyatnya," ucapan Hazel menguatkan diri.


Kesedihan Emma sedikit lenyap, setidaknya dia telah mengetahui Pak Van Hill sudah baik-baik saja di negeri Castor. Pak Van Hill telah terlindungi, dan dikelilingi orang-orang yang mengasihinya.


"Lalu penyihir itu apakah kau benar-benar mengalahkannya?" tanya Tommy. Dia berharap anaknya tidak terluka ketika menjalankan misi itu.


Hazel tergugu, dia mengingat kebohongan Zhietta terhadap Ayahnya, penyihir itu menjelma sebagai manusia hanya untuk mencari sosok Hazel.


"Apa Ibu pernah pulang selama aku di Castor?" tanya Hazel.


Raut wajah Tommy seketika berubah, dia mwrasa telah salah menuduh Kammy bahwa telah menyembunyikan Hazel.


"Aku telah jahat pada Ibumu, aku menuduh dia menyembunyikan mu," ucapnya serak.


"Lupakan Ibu, dia bukan Kammy, dia Zhietta."


Emma dan Tommy terkejut, Hazel menjelaskan scera detail siapa sosok Kmany sebenarnya, bagaimana ia berjuang untuk menjelma sebagai manusia dan menikah dengan Tommy. Itu dikarenakan ia mencari sosok pahlawan Castor. Tommy terpukul, patah hati hebat melanda nya, istri yang teramat ia cintai jelmaan penyihir dari negeri Castor.


"Selama ini aku hidup dengan kebohongannya.." lirih Tommy yang terluka hatinya.


"Ayah.. itu lebih baik, daripada Ayah terus berharap.. aku terpaksa mengatakan ini."


Hazel memeluk Ayahnya, mereka saling menguatkan dengan kisah cinta yang kandas itu. Ketika telah usai menceritakan segala yang terjadi di Castor, Hazel tiba-tiba kepikiran dengan cara Zhietta keluar dari Castor.


'Apakah Zhietta lewat dari buku dongeng yang ada di perpustakaan?' Dia bertanya-tanya dalam hati.


***


Suasana pesta usai, Alaric kembali ke istana rahasianya, dia berada di kamar yang pernah Hazel tempati. Membayangkan ada Hazel disana dengan suara mungilnya yang seringkali bertanya.


"Kamu bagaimana sekarang? Apakah aku baik-baik saja disana?" Alaric bergumam sembari menutup matanya.


Dari luar kamar, ada suara ketukan pintu dari prajurit istana. Alaric keluar sembari menghapus lelehan air matanya,


"Ada apa?" tanyanya.


"Kami ada berita gembira kepada Pangeran, Raja Van Hill telah ditemukan di sebuah Desa," jawab prajuritnya.


Alaric tersentak, dia tak percaya dengan perkataan Prajuritnya, dia bergegas menuju ke bawah istana untuk mencari kebenaran dari informasi itu. Jasper yang telah kembali menjadi panglima istana menyambut Alaric.


"Apakah itu benar? Kakekku ditemukan? mayatnya sudah ditemukan?" tanya Alaric dengan suara bergetar.


"Tidak pangeran, tepatnya bukan mayat, tetapi Raja Van Hill masih hidup, para prajurit dan Tuan Ernest telah menjemputnya," ujarnya.


Alaric seolah tidak percaya, tetapi dia berharap semua itu benar-benar adanya. Dengan menggunakan kuda, Alaric bergegas menuju ke istana utama. Di istana, sudah banyak Rakyat Castor yang menunggu kedatangan Raja Van ill, kabar itu cepat menyebar karena sangat menggemparkan Castor. Raja Van Hill dikira telah terbunuh. oleh Zhietta ratusan tahun yang lalu telah ditemukan di sebuah Desa terpencil.


"Raja Van Hill.. Raja Van Hill.." Suara sorak Rakyat Castor bergemuruh.


Terlihat dari kejauhan ada kereta kuda dan beberapa pengawalan ketat telah memasuki halaman istana. Di dalam kereta itu ada Raja Van Hill yang melambaikan tangan, rasa harunya tak tertahankan karena melihat Rakyatnya kembali setelah sekian tahun lamanya.


"Itu Kakek Ayah, itu benar Kakek.." Ucap Alaric kepada Raja Carlos.


Alaric berlari seperti anak kecil menghampiri Kakeknya yang belum keluar dari kereta kuda. Raja Van Hill terhenyak melihat cucunya yang sudah dewasa.


"Kau tumbuh menjadi pria yang gagah cucuku.." pujinya.


"Kakek kami selalu mencarimu, terapi.." Belum usai kalimat Alaric, Raja Van HillHill memotongnya dengan mengucapkan kalimat membuat Alaric bersedih.


"Kita masuk dulu.. akan aku ceritakan tentang dia padamu."


Ratu Florida menyambut Ayah mertuanya dengan kudapan lezat. Raja Van Hill tak henti di sapa oleh orang-orang disekelilingnya.


"Aku ingin menikmati semuanya.."