
Alaric meminta Efrat untuk menjelaskan hal itu, Efrat sedikit tahu tentang buku dongeng ajaib yang di sambung oleh tulisan tangan Zhietta. Alaric ingin mengetahui bagaimana Zhietta menuliskan buku itu hingga dapat menjadi sebuah cerita sambungan, matanya begitu tajam menatap Efrat.
"Bagaimana cara Zhietta menulisnya? katakan?!" Alaric tidak lagi memberikan nada lembut ke Efrat.
Mendengar itu Jasper tersenyum miring, sedari tadi ia sudah sangat kesal dengan ketidaksopanan Efrat ke Pangeran Alaric. Efrat menyerah, ia membuka laci yang ada di bawah rak buku Zhietta. Alaric dan Jasper memantaunya, mereka tidak melepaskan pandangan dari Efrat.
"Ini yang pena yang dipakai Zhietta, seperti yang ku lihat, selebihnya aku tidak tahu bagaimana cara selanjutnya," ucap Efrat.
Jasper menggelengkan kepalanya, dia tidak mempercayai ucapan Efrat.
"Berhentilah berbohong!" Jasper membentak.
"Aku tidak berbohong, ini faktanya. Zhietta itu orangnya cerdas, tidak semua hal yang dilakukannya dibocorkan ke orang lain, termasuk aku."
Alaric meminta pena ajaib itu dari Efrat, dia mencoba menulis di kertas biasa, namun pena itu tak bereaksi menuliskan tintanya. Alaric dan Jasper saling berpandangan sejenak, mereka bingung dengan pena itu.
"Pena itu tidak akan berfungsi di sembarang kertas, kau harus menulis di kertas ajaib," ujar Efrat.
"Maksudnya di buku dongeng negeri Castor ini langsung?" tanya Alaric yang sedikit tegang. Masalahnya apa yang tertulis di buku dongeng itu berhubungan langsung dengan takdir negeri Castor.
Jasper menahan tangan Alaric, "Tunggu dulu Pengeran, mungkin saja ada mantra yang perlu di baca," ujarnya.
Alaric mengerti maksudnya Efrat, ia mencoret sedikit untuk mengetes pena itu di buku ajaib, disaat menempelkan pena itu ke buku "Then Castor Land", pena itu bercahaya, ada tinta yang tercoret sesuai dengan coretan Alaric. Mereka bertiga terkesiap, melihat hasil coretan itu.
" Itu berhasil Pangeran," kata Jasper.
"Kita mulai sekarang atau nanti?" tanya Alaric bingung. Saking senangnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan, dipikirannya hanya ada bayangan bertemu Hazel.
"Tulis saja cerita apa yang ingin kau jalani bersama Hazel.." Tukas Efrat memberi saran.
Alaric tersenyum, dia menepuk-nepuk pundak Efrat seraya mengucapkan terimakasih. Efrat sebenarnya tidak ikhlas membantu Alaric, karena ia berpikir Zhietta terluka dengan tindakannya demikian.
"Aku harus menulis kisah cinta yang indah diantara aku dan Hazel," ucap Alaric.
Pena itu mulai menulis kata demi kata yang ingin menyambungkan lagi, hingga menuliskan paragraf yang menyambung kalimat terakhir tulisan Zhietta.
Ketika mereka berdua terpisah, ada jalan lain menuju ke dunia Hazel yang ada di London, Alaric melewati pintu itu dengan begitu mudah lalu...
Belum sempurna kalimat Alaric, tetapi pena itu berhenti mengeluarkan tintanya.
"Ini kenapa? " tanyanya.
Jasper mengintip ke arah bawah mata pena itu, sudah tidak mengeluarkan cahaya lagi. Jasper melirik ke Efrat. Pria itu sudah tahu bahwa pena itu hanya dapat menulis beberapa kalimat saja dalam seminggu.
"Pena ini hanya dapat menulis paragraf dalam seminggu, ini bukan seperti pena biasa, ini terhubung dengan takdir manusia." Jelas Efrat.
Alaric terhenyak, dia membaca ulang kalimat yang ia tulis itu, Alaric tidak cukup luas sebab tulisan itu tidak ia jelaskan secara detail.
"Aku lupa menulis pintu ajaib itu menaruhnya dimana, haruskah aku mencari di setiap sudut negeri Castor?" gerutu Alaric.
Jasper juga ikut pusing dengan kisah cinta Alaric dengan Hazel, sementara Efrat melihat tulisan Alaric, membacanya dengan seksama, memahami maksud tulisan "Alaric melewati pintu itu dengan begitu mudah.. "
"Dengan begitu mudah," gumam Efrat.
"Ambil ramuan yang bermanfaat untuk kerajaan, kau Efrat ikut ke istana, aku akan melatihmu untuk menjadi manusia yang sebenarnya," ucap Alaric.
Jasper menarik paksa Efrat untuk keluar, Efrat di kawal oleh pengawal agar ia ke istana mengikuti Alaric. Jasper ikut dibelakang untuk mengawasinya.
"Setidaknya aku dan Hazel memiliki jalan untuk bersama, ini harus aku lakukan," lirih Alaric yang sudah menunggangi kuda.
Efrat yang juga menunggangi kuda dipandu oleh pengawal sedang berpikir arti dari tulisan Alaric, ternyata Alaric tidak memikirkan terlebih dulu segala makna sebelum ia menulis kisah cintanya dengan Hazel di buku ajaib itu.
***
Pagi itu Hazel enggan keluar rumah, saat itu Ayahnya dan Emma memilih lari pagi di sekitar taman, Hazel seorang diri di rumahnya, tetapi ada ada pesan yang masuk di ponselnya, pesan dari toko baju favorit Hazel. Itu dari pemilik toko, menanyakan keputusan Hazel.
"Aku harus jawab apa," gumam Hazel.
Di menitkemudian, pemilik toko itu menelpon Hazel, tak ada pilihan lain lagi, Hazel menjawabnya dengan hati tenang.
"Bagaimana? aku tidak ingin membuang waktu menunggu keputusan mu itu," kata pemilik toko di balik telepon.
"Baiklah.. aku menyetujui itu, tapi aku ingin di kontrak hanya beberapa bulan saja," kata Hazel. Dia menyetujui menjadi model karena ingin memiliki gaun Hazelnut yang menyimpan banyak kenangan dari negeri Castor.
Pemilik toko itu meminta Hazel datang ke toko pagi itu juga, Hazel akan menandatangani kontrak, dan mengambil gaun Hazelnutnya. Hazel mengiyakan, dia bergegas ke toko tanpa mengulur waktu lagi.
Ketika ia keluar dari pintu, ada Collins mengejutkannya, di tangan pria itu ada bingkisan berupa sarapan pagi. Senyuman hangat Collins menyapa Hazel yang termangu.
"Hai, aku dari tadi ingin mengetuk pintu, tapi takutnya kamu masih tidur," ucap Collins.
"Hmm.. aku tidak akan tidur jam seperti ini," sahut Hazel sembari mengikat tali sepatunya.
"Kau ingin kemana?"
"Aku ingin ke suatu tempat, ada yang ingin aku lakukan, kau ingin ikut?" tanya Hazel menawarkan.
Collins bahagia karena Hazel menghargai kedatangannya, dia membawa sarapan itu kembali ke mobil bersama Hazel. Sepanjang perjalanan ke toko, Hazel hanya bergumam mempersiapkan dirinya. Ia kana dijadikan model oleh penguasa besar.
"Aku akan menjadi model beberapa bulan ini, aku takut menjadi terkenal," gumamnya.
Suara gumaman Hazel dapat di dengar oleh Collins, dia ingin menanyakan itu langsung ke Hazel, namun perasaan segannya lebih dominan.
"Ini mobil siaps?" tanya Hazle tiba-tiba memecahkan kesunyian Collins.
"Ini mobil Ayahku, aku pinjam sebentar."
Hazel merasa tidak enak selalu merepotkan Collins, sejak kehilangannya, Collins selalu berada di samping Ayahnya untuk memecahkan misteri kehilangan Hazel.
"Stop Collins, ini toko bajunya," kata Hazel. Dia bergegas untuk turun juga meminta Collins ikut masuk ke dalam toko.
"Apa aku harus ikut?" tanya Collins.
"Jika kamu aku, ayo.. mereka menungguku di dalam," sahut Hazel, ia tidak tega jika Collins dibiarkan menunggu di mobil.
Hazel dan Collins masuk ke dalam toko, pemilik toko itu sudah menantinya di ruangan pribadi. Para pelayan toko menyambut kedatangan Hazel. Hazel di ajak masuk menemui pemilik toko itu.