
Pusaran angin itu membawa Alaric tiba di sebuah ruangan, ada buku dony yang tergeletak di atas meja, Alaric terkejut dengan keadaan disekitarnya, terdengar suara wanita yang sedang berbicara dengan seorang pria di sebelah ruangan sana. Alaric yang tidak ibgun ketahuan, bergegas ia keluar dari ruangan itu lewat jendela. Dia berlari menjauh keluar dari halaman rumah itu.
"Ini tempat siapa, aku harus pergi sebuah mungkin, aku nanti di kira perampok," gumamnya sembari berlari keluar dari halaman rumah itu.
Alaric berjalan kaki di pinggir jalan, dengan style baju yang bernuansa kerajaan Eropa, Alaric tentu menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ia lewati saat itu.
"Ternyata dunia Hazel bajunya berbeda denganku, itu baju lampau 'kah?" Alaric bertanya-tanya dalam hatinya. Dia terheran melihat orang-orang yang memakai baju yang berbeda dari negeri Castor.
Alaric bahkan terkejut dengan beberapa kendaraan, seperti mobil yang bertebaran di jalanan, di Negeri Castor, kendaraan mereka hanya kuda dan tandu, rakaat da satupun transportasi modern yang ia kenali saat itu.
Alaric menjadi pusat perhatian karena ketampanannya pula, karena tak tahu dimana tempat Hazel, Alaric berinisiatif bertanya kepada seorang Nenek tua yang duduk di bangku taman saat itu.
"Permisi Nyonya, apakah kau mengenali Hazel? dia pahlawan dari negeri Castor, wajahnya cantik dan berambut panjang," tanya Alaric.
Si Nenek itu hanya diam mengerutkan alisnya, dia memandangi Alaric dari ujung atas hingga ujung kaki.
"Kau mahkluk dari negeri mana? apakah kau sudah pentas?" si Nenek itu balik bertanya.
Alaric terdiam, dia memandangi pula cara berpakaiannya, tentu dipandang aneh oleh orang-orang di dunia Hazel.
"Kalau begitu, berikan saya baju seperti laki-laki disana," pinta Alaric menujuk ke arah kumpul pria yang sedang bersantai.
Si Nenek merasakan ada yang berbeda dari pria yang dihadapannya. Dia merasa iba melihat Alaric berkeliaran dengan tampilan seperti itu.
"Ikutlah denganku, kau akan dianggap orang gila jika kau bertanya seperti itu," ujar si Nenek.
Alaric mengikuti si Nenek, mereka masuk ke dalam taksi, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Alaric ketakutan, dia bahkan terkadang berteriak-teriak ketika mobil itu mengerem mendadak.
"Ini apa? aku ingin turun," katanya.
"Kau harus terbiasa, sudahlah.. diam dan berpegang erat," kata si Nenek.
Sopir taksi itu menoleh, "Kau mendapatkan pria tampan penakut ini dari mana? apakah ini kali pertama menaiki taksi?" tanya sopir taksi itu kesal.
Si Nenek mengabaikan pertanyaan sopir taksi, dia meminta agar segera di antar ke rumahnya. Setiba di rumah mewah itu, si Nenek meminta Alaric membawakan barang-barangnya masuk ke dalam rumah.
"Taroh disana, dan minumlah teh ini," ucap si Nenek. Dia memberikan teh hangat yang ia buat untuk minum bersama Alaric.
Si Nenek meminta Alaric masuk ke kamar yang ada di lantai atas.
"Masuklah ke kamar itu, kamar bekas cucuku yang sudah meninggal setahun yang lalu, kau bisa memakai baju-bajunya," ucap Si Nenek.
Alaric masuk ke kamar itu, sementara si Nenek pergi ke rumah kacanya untuk memeriksa tanaman-tanaman yang menemani kesibukannya. Ketika masuk ke kamar itu, Alaric
terperangah karena ada banyak foto-foto almarhum cucu Nenek itu.
"Ternyata benar, Nenek itu memiliki cucu tapi sudah tiada," lirih Alaric memandangi foto-foto pria yang usianya sepantaran dengannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Alaric mencari keberadaan si Nenek, terlihat wanita yang lanjut usia itu sibuk di rumah kacanya, Alaric menghampirinya menawarkan bantuan. Ketika melihat Alaric memakai pakaian cucunya, si Nenek itu tersenyum, seolah cucunya dekat dengannya saat itu.
"Apa kau tinggal sendiri di rumah ini?"
Si Nenek itu memilih duduk, mengatur nafasnya yang terengah-engah karena lelah membersihkan daun kering.
"Semenjak cucuku meninggal, aku sudah tinggal sendiri, aku tidak memiliki keluarga dekat lagi, kau sepertinya orang asing, apa yang kau cari disini?"
Alaric ikut duduk disamping Nenek itu, dia mengingat wajahnya Hazel yang membuatnya bertekad untuk keluar dari negeri Castor.
"Aku mencari tunangan ku, dia gadis yang cantik, dan bernama Hazel.."
Si Nenek menganggukkan kepalanya, ternyata itu persoalan hati yang sedang rindu dengan kekasihnya, batin si Nenek.
"Kau pasti sangat mencintainya," ujar si Nenek.
"Tentu, aku bahkan meninggalkan kerajaanku untuk mencarinya saat ini, itulah bukti cinta 'kan Nenek?"
Si Nenek itu tersenyum, Alaric memanggilnya Nenek, semakin mengingatkannya dengan mendiang cucunya.
"Selama kau mencarinya, kau boleh tinggal disini bersamaku, anggaplah aku Nenekmu," ucap Is Nenek itu dengan senang hati. Dia merasa kehadiran Alaric mengobati kerinduannya dengan Cucunya.
"Terimakasih, Nenek. Aku harus memanggilmu Nenek siapa?"
"Nenek Grace, Aku Nenek Grace.."
Alaric tidak peduli dengan gelar kebangsawanannya di Negeri Castor, dia mencium tangan Nenek Grace dengan tulus. Dia berjanji akan merawat Nenek Grace dan menjaganya.
"Kata Ibuku, dimanapun kamu berada, jika kamu berniat baik, kamu akan bertemu dengan orang yang baik pula," kata Alaric yang teringat nasehat Ratu Florida.
"Ibumu pasti seorang Ratu yang bijak," puji Nenek Grace.
Alaric tidak tahu harus mulai dari mencari Hazel, dia bahkan tidak tahu jalan dan cara hidup yang benar di London. Sementara Nenek Grace menebak kekhawatiran Alaric.
"Aku mana membantumu, tenang saja.. kau akan bertemu dengan tunangan mu itu," ucap Nenek Grace melenyapkan perasaan gelisah Alaric.
"Tapi bagaimana kau bisa sampai disini? bagaimana caranya?" tanya Nenek Grace penasaran.
Alaric baru menyadari bahwa ada rumah dimana ia keluar dari buku dongeng, dia teringat buku dongeng ada ternyata ada juga di rumah itu. Tercetus di benak Alaric, siapa pemilik pemilik buku dongeng itu, mengapa ia harus terdampar di ruangan yang kotor dan sempit bersama biku dongeng itu? siapa pemiliknya? apakah pemilik buku dongeng itu berhubungan dengan Negeri Castor? Sekelumit pertanyaan batin Alaric yang memaksanya mencari jawaban.
"Lupakan dulu masalah mu, mari kita makan, aku akan membuatkan mu makanan enak hari ini," ujar Nenek Grace.
Alaric melihat saat itu ada TV besar di ruang tamu Nenek Grace. Dia melihat keindahan dan kemegahan Kota London, wanita-wanita cantik dan beberapa tempat clubbing lainnya. Alaric sempat berpikir, apakah Hazel juga sering ke tempat demikian, apakah Hazel masih mengingatnya atau mencintainya.
"Apakah dunia ini luas?" tanya Alaric pada Nenek Grace yang sedang menata makanan di meja.
"Sangat luas, bahkan kau perlu pesawat untuk berpindah-pindah, ke negara lain, ada miliaran manusia di dunia ini," jelas Nenek Grace yang tak kenal lelah untuk menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui Alaric.