HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Sangat Menyakitkan



"Kau bahagia?" tanya Alaric.


Sembari mengukir senyum, Hazel menjawab dengan suara pelan, "Aku sangat bahagia.."


Alaric memberikan pelukan sembari berdansa, dia sangat bahagia karena keluarga dan rakyatnya menyetujui hubungannya dengan Hazel.


"Aku harap kita akan selalu bersama.." Ucap Alaric kembali, harapannya masih tetap sama.


Hazel tersenyum lagi, ia pikir itu akan mengubah pikirannya, jika dia memutuskan untuk tinggal di Castor saja, mungkin tidak akan banyak hati yang terluka, pikir Hazel.


Para tamu pesta saat itu satu per satu ikut serta berdansa. Kesenangan mulai menghangatkan istana Castor, di sisi pojok kanan. Ada Valencia yang memakai topeng. Dia teramat malu menujukkan dirinya, Valencia hanya ingin memastikan jika Alaric benar-benar bahagia saat ini.


"Seharusnya aku yang ada disana, tapi kau sudah memutuskan untuk memilih dia.." gumam Valencia.


Valencia di tawari menuman oleh salah satu pelayan, para pelayan itu tidak menyadari bahwa itu adalah Valencia. Gadis itu berusaha menghindari pelayan-pelayan itu, namun saat ia hendak keluar dari ruangan pesta, topeng Valencia tersingkap hingga wajahnya terlihat.


"Hei kamu Valencia," teriak pelayan itu.


Seruan itu di dengar oleh para tamu kerajaan, termasuk Alaric dan Hazel. Pesta dansa itu terhenti, semua mata tertuju kepada Valencia. Seketika prajurit istana mengelilinginya untuk memastikan keamanan. Valencia telah di ketahui sebagai pengkhianat kerajaan.


"Berhenti!" Alaric memberi peringatan kepada prajuritnya agar tidak menyakiti Valencia.


Hazel berbisik kepada Alaric agar memberikan Valencia ruang untuk berbicara. Alaric yang menyimpan kasih sayang sebagai sahabat kepada Valencia juga menginginkan itu. Dia menghampiri Valencia seorang diri.


Valencia bergetar menahan tangis, bukan karena ketakutan, tetapi memandangi Alaric yang terlihat masih melindunginya.


"Jangan sakiti dia..biarkan dia duduk untuk sementara waktu," pintar Alaric kepada prajuritnya.


Valencia di suruh untuk duduk oleh pelayan di tengah keluarga kerajaan. Dia tidak dapat berkutik sebab para prajurit memantaunya sisi kanan dan kiri. Mereka tidak melepaskan pandangan dari Valencia, sementara Alaric kembali ke Hazel.


"Biarkan dia untuk sementara waktu, aku ingin menikmatinya bersamamu.." Ujar Alaric kepada Hazel.


Alaric kembali mengajak Hazel berdansa, dari jauh Valencia memandangi keromantisan sepasang kekasih itu. Dia mengenyahkan Kecemburuannya, berusaha berdamai dengan keadaan jika memang Alaric bukan miliknya.


Ratu Florida menghampiri Valencia, dia duusk di samping gadis yang pernah ia anggap sebagai anak itu. Wajah Ratu tak melayangkan senyum sedikitpun kepada Valencia.


"Kau masih bisa menujukkan dirimu setelah semuanya kau lakukan kepada Castor."


Valencia tak menyahut, dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Ratu Florida.


"Aku kira aku dulu beruntung memiliki putri, walaupun bukan dari rahimku, aku sangat menyanyangi dia.. tetapi dia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang kami."


Valencia gemeteran, kalimat Ratu Florida sungguh menampar nya, ratusan tahun menjadi keluarga kerajaan, Valencia diliputi kerasa ya cinta dan dendam. Ia merasakan tidak dihargai, tetapi kenyataannya orang-orang kerajaan menghargainya.


"Aku belum bisa memaafkan kamu, tapi aku tidak akan menghukummu, kami bukan orang yang tidak tahu berterimakasih, kau telah cukup berjasa di negeri Castor, kau berhak diperlakukan dengan baik. Biarkan penyesalan mu menjadi hukuman mu."


Ratu Florida beranjak dari tempat duduknya, dia meniggalkan Valencia seorang diri. Kembali ke samping Raja Carlos. Valencia menahan air matanya agar tidak tumpah, memang penyesalan itu teramat menggerogotinya. Valencia bahkan akan menghukum dirinya sendiri.


Sementara Alaric dan Hazel masih tetap berdansa, sesekali Hazel melirik kasihan kepada Valencia. Alaric tidak peduli hal itu, dia hanya berfokus memandangi kecantikan Hazel.


"Jangan memikirkan dia, kita nikmati waktu ini saja.."


Di tengah kemeriahan mereka berdansa, suara gemuruh petir tiba-tiba menggelegar, kilat silih berganti menunjukkan diri di langit Castor. Di menit kemudian, pusaran angin meliuk-liuk masuk ke dalam istana, merusak pintu ruang pesta dansa itu.


Hazel memandang, semuanya mematung. Angin ****** beliung itu pecah mengelilingi Hazel. Seluruh pasang mata itu tercengang dengan fenomenal alam yang terjadi di depan mata mereka. Bahkan mereka tidak dapat bergeming karena terkejut, sementara Alaric berusaha ingin menghampiri Hazel, tetapi Alaric tak dapat menembus pecahan angin itu.


"Hazel... ayo raih tanganku."


Hazel berusah meraih tangan Alaric, tetapi pecahan angin itu tetap menjebaknya dalam suatu lingkaran. Hazel mengamati keadaan dirinya, ia terhenyak sedikit demi sedikit dari ujung kakinya menghilang dari permukaan, Hazel menyadari bahwa ia telah ditahap proses pengembalian dirinya ke London.


"Alaric..." Suara teriak Hazel yang matanya sudah berkaca-kaca.


Alaric menyadari Hazel telah diproses pengembalian diri kembali ke dunia asalnya. Alaric yang tidak ingin berpisah dari Hazel, bergegas mencari cara agar dapat menembus pecahan angin itu.


"Tolong bantu saya!" Pinta Alaric.


Para prajurit kerajaan berusaha masuk ke dalam lingkaran angin itu, akan tetapi usaha mereka tidak ada yang berhasil, sementara bagian kaki Hazel mulai menghilang sedikit demi sedikit.


"Alaric..." Ucap Hazel mengulurkan tangannya. Namun Alaric tak memiliki daya saat itu.


Raja Carlos dan Ratu Florida histeris karena Hazel akan menghilang dari Castor. Rakyat Castor pun ikut bersedih menyaksikan pahlawan mereka akan menghilang dari Castor.


"Hazel... jangan pergi.. Hazel.." Alaric sudah berteriak histeris. Dia mengelilingi lingkaran angin itu untuk mencari celah agar dapat menarik tangan Hazel.


Hazel mencoba melangkahkan kakinya, namun semakin ia melangkah, angin itu semakin cepat melenyapkan tubuhnya. Hazel berurai air mata, ia tidak sanggup berpisah dengan Alaric. Hazel telah mencintai pria itu.


"Tolong aku Alaric.. aku ingin bersamamu.."


Alaric ingin menerobos ke dalam lingkaran itu, tetapi lingkaran angin itu malah mendorongnya untuk menjauh, Alaric terpental. Sementara dibagian kaki Hazel keseluruhannya lenyap.


"Hazel... jangan pergi," ucap Alaric.


Tubuh Hazel mulai menghilang, Hazel mengulurkan tangan pertanda tidak ingin berpisah. Namun angin itu kian melenyapkan tubuhnya, Alaric berontak ingin mencapai tangan Hazel tetapi angin itu seperti sengatan listrik bila disentuh.


"Alaric... huhuhu..." Hazel menangis. Sedikit demi sedikit angin itu menelusuri tubuhnya.


Alaric dan seluruh yang ada di diruangan itu terkesiap melihat Hazel lenyap bersama lingkaran angin itu.


"Hazel! Hazel.." Alaric berteriak histeris lalu jatuh tersungkur ke lantai.


Suara liontin terdengar jatuh ke lantai tepat tempat Hazel berdiri tadi. Kalung yang diberikan Ratu Florida dan batu kalung batu Ruby itu tergeletak di lantai. Alaric beranjak mengambilnya, memandangi kalung Hazel dengan air mata yang berderai.


Ratu Florida dan Raja Carlos menghampiri anaknya, mereka ikut menangis sembari memeluk Alaric. Pangeran Castor itu teramat menyedihkan, cintanya dipisahkan oleh dunia yang berbeda. Entah kemana ia harus menemui Hazel. Alaric siap melakukan apa saja demi bertemu gadisnya, tetapi itu tidak mungkin lagi. Semuanya telah berakhir.


"Anakku... dia hanya datang untuk membantu kita," ucap Raja Carlos.