
Hazel duduk memandangi lilin yang rela membakar dirinya sendiri, malam yang begitu indah dipersembahkan oleh Alaric. Pria itu bahkan memasak sendiri untuk Hazel. Ini memang kali pertama Hazel diperlakukan bakal Ratu secara langsung oleh Pangeran.
"Makanan tadi semua enak, kau luar biasa, aku yang ke berapa?" puji Hazel beberselimut candaan.
Alaric tersipu malu menjawab,
"Kau yang pertama."
Hazel tersenyum masam, tak mempercayai jawaban Alaric, di mata Hazel seorang pangeran tampan tentu tak terlepas oleh gadis-gadis yang mengaguminya, sangat mustahil bila Alaric belum pernah mengencani gadis-gadis itu.
"Kau tidak percaya?" tanya Alaric menebak.
Senyum tipis Hazel mewakili jawabannya, Alaric berdiri mendekatinya, pria itu mengeluarkan kalung yang peninggalan dari Neneknya, hadiah dari Raja Van Hill.
"Ini kalung turun temurun, dibuat khusus dari Raja Van Hill kakekku untuk Nenek ku, Ratu Florida memberikannya kepadaku, memberikan ku ini sebagai bukti bahwa kamu satu-satunya, Hazel.."
Ketika Alaric hendak ingin memasangkan di leher Hazel, gadis berambut coklat itu menolak, bukan tak menghargai pemberian Alaric, namun Hazel merasa tidak berhak menerima perhiasan berharga dari Kerajaan Castor.
"Alaric, aku hanya tamu di negeri mu, aku takut ini hanya harapan sia-sia, aku tidak ingin di antara kita ada yang kecewa, simpan untuk calon Ratu Castor selanjutnya,"ujar Hazel.
Nampak kecewa tersemat kan di wajah Alaric, bukan karena penolakan Hazel, namun cerita mereka selanjutnya, akankah Hazel meningalkan Castor setelah misinya berhasil? Akankah Hazel akan kembali ke dunianya hingga tak dapat lagi kembali ke Castor? Deretan pertanyaan Alaric bertarung dalam batinnya.
"Sebaiknya kita tidak terlalu jauh untuk itu, aku takut dengan perasaan itu Alaric," sambung Hazel.
Alaric tetap bertekad, dia memberikan kotak kalung itu ke Hazel. Memaksa Hazel untuk menerimanya.
"Jika kau tak menerimanya akan akun hancurkan, peganglah untuk sementara waktu, jika kau menerimaku, pakailah kalung ini, kapan pun."
Hazel tidak ingin melanjutkan perdebatan perihal hati, jika ditanya, hatinya pun sudah bertaut terhadap Alaric, namun bila menatap masa depan, semuanya terlihat suram. Dia bukanlah manusia yang ada di dalam dongeng, Hazel memiliki kehidupan versi nyata yang harus ia jalani selanjutnya setelah keluar dari Castor.
"Pakai jika kau menyadari perasaan yang sama dengan ku, pakailah jika kau menerimaku," ucap Alaric sekali lagi.
Hazel terenyuh, dia memeluk Alaric seperti sahabat yang menyambut kebaikan sahabatnya. Hazel mengerti perasaan Alaric timbul begitu saja karena kebersamaan mereka belakang ini. Hazel tak menampik bila rasa suka Alaric mungkin setara dengan perasaannya saat ini.
"Kau tidak tertarik padaku atau kau ragu?" tanya Alaric berbisik.
"Aku tidak tahu, di dunia ku, aku tidak ada waktu untuk jatuh cinta," sahut Hazel dengan kenyataan sebenarnya.
Alaric menarik kursi untuk duduk di dekat Hazel, dia penasaran dengan bentuk kehidupan yang Hazel jalani di dunia berbeda dengannya. Ia ingin tahu pola kehidupan Hazel, apakah ada kesamaan dengan gadis-gadis di Negeri Castor sebelum di kutuk.
"Ada pria yang kau suka di dunia mu?" tanya Alaric lagi. Wibawanya sebagai Pangeran runtuh di hadapan Hazel.
"Tidak ada, hanya saja aku terlalu sibuk meraih mimpi ku."
Alaric meneliti sesuatu di leher jenjang Hazel, setelah menemukan jawaban dari rasa penasaran nya, ia mengukir senyum bahagia, ternyata Hazel masih tersegel aman. Pantas saja Hazel menjadi tokoh utama di cerita Negeri Castor.
"Apa yang kau lihat di leher ku?" Hazel meraba lehernya, melihat itu Alaric mengalihkan pandangannya.
"Aku mencari kejujuran atas jawaban mu tadi."
"Kau butuh waktu menyadari itu.." Lirih Alaric mendekatkan wajahnya ke wajah Hazel.
"Aku takut dengan keadaan," sahut putri Tommy itu.
"Aku sudah ratusan tahun menanti pengantin ku, kau jangan tega membuatku patah."
Semakin dekat dia pasang mata indah bertautan, hembusan nafas mulai menburu di keduanya, Alaric meluapkan tatapan cintanya, keinginannya memiliki Hazel. Tangan kejar yang dingin itu menarik pelan wajah Hazel untuk di rapatkan lagi dekat dengannya. Bibir Alaric menempel perlahan di bibir ranum Hazel. Adegan ciuman itu perlahan dilakukan Alaric, karena pertama kali menerima perlakuan romantis, Hazel malah menikmatinya.
"Aku aku masuk!"
Di luar ruangan, ada suara Valencia yang membentak pelayan. Sahabat Alaric itu meminta ingin bertemu dengan Alaric, namun pelayan tidak mengizinkannya masuk karena akan mengusik kencan Pangeran.
"Kau sialan! Biarkan aku masuk, ini sangat penting!" Valencia tetap kukuh dengan keinginannya.
Alaric melepaskan ciumannya dari Hazel, gadis itu menutupi wajahnya karena malu. Sementara Alaric berdecak kesal karena Valencia menganggu momen romantisnya dengan Hazel.
"Ada apa Valencia? " tanya Alaric yang telah membuka pintu ruangan pribadinya.
Dengan wajah semringah, Valencia membawa sebotol ramuan hasil eksperimennya.
"Aku berhasil membuat yang lebih baik dari Hazel, memang bahannya sama tapi ini lebih--" Belum usai kalimatnya, Valencia di kejutkan dengan kehadiran Hazel di ruang pribadi Alaric.
Valencia mengamati keindahan ruangan Alaric yang berbeda dari biasanya. Ia tekejut dengan puluhan lilin yang berada di sekeliling Hazel.
"Ka-kau dengan dia ada hubungan apa?" tanya Valencia kepada Alaric.
Valencia menatap bibir Alaric dengan teliti, ada noda lipstik yang melekat di bibir Alaric, Valencia terhenyak dengan kebenaran yang ia dapatkan secara langsung, ternyata sahabatnya sudah jatuh hati kepada Hazel.
"Valencia, kau baik-baik saja 'kan? Mana ramuannya?" tanya Alaric.
Valencia menyerahkan ramuan itu dengan terpaksa, hatinya teramat sakit tapi tak ingin tunjukkan kepada Alaric. Valencia melirik ke Hazel, ada sumpah serapah yang ia ucapkan dalam hati untuk Hazel.
"Valencia, terimakasih. Jika sudah tak ada yang ingin kau sampaikan, istirahatlah.. kau sudah bersusah-payah untuk Castor," kata Alaric sembari mengusap pundak Valencia.
Tangan Alaric di tepis oleh Valencia, tak sudi disentuh karena ia sedang memendam sakit hati yang mendalam.
"Jangan sentuh aku seperti itu Alaric, bukankah aku hanya pelayan mu? pembuat obat untuk Castor," ujar Valencia.
Dia meningalkan Alaric yang sedang kebingungan, bahkan tidak ingin lagi melihat Hazel. yang di kelilingi lilin indah. Alaric yang tidak memahami bahasa tubuh Valencia menganggap sikap sahabatnya itu karena efek kelelahan.
"Jahat! Jahat kamu Alaric!"
Valencia mengamuk di dalam kamarnya, melemparkan barang-barangnya ke lantai. Tangis becampur amarah menjadi kesatuan yang melemahkan dirinya, Valencia terjebak dengan cinta yang terpendam. Ratusan tahun mencintai Alaric namun kenyataannya pangeran itu malah jatuh ke dalam pelukan wanita lain.
"Ini tidak adil, aku yang mencintaimu selama ratusan tahun, mengabdikan diri di Castor, tetapi wanita iu malah yang mendapatkan perhatian mu.." Valencia menangis sesegukan.