
Foto dan video Hazel telah tersebar di berbagai iklan billboard, dia menjadi pusat perhatian karena memiliki aura bintang yang membuat setiap pasang mata terkagum-kagum melihatnya. Sementara Tommy dan Emma terkejut melihat Hazel menjadi model yang sedang di gandrungi pihak majalah atas. Ada banyak tawaran yang memintanya untuk menjadi model produk mereka.
"Kenapa kau tidak bilang pada Ayah, jika kau memutuskan untuk menjadi model?" tanya Tommy. Dia sangat mengenali Hazel, anaknya itu tidak terlalu suka dikenali, atau di sorot, tentu itu jadi suatu keanehan.
Dengan mengambil sehelai roti Hazel menjawab, "Jika bukan karena gaun Hazelnut itu, aku tidak mungkin menjadi model."
Emma yang bijaksana memberikan saran, "Tapi kamu sudah tahu konsekuensinya, kamu harus hadapi, karena kamu sudah memutuskan untuk masuk dunia modeling."
Hazel menggelengkan kepalanya, "Tidak ada satupun yang berhak mengatur hidup seseorang, Bibi Emma. Aku hanya menjadi model enan bulan, setelah itu aku tidak akan menerima job lagi."
Emma dan Tommy saling melirik sejenak, rupanya gadis itu tumbuh dengan pendirian tegar. Dia memiliki prinsip yang sesuai dengan tujuan hidupnya.
Di luar ada Collins yang juga bertamu, dia datang untuk menjemput Hazel, ada jadwal pemotretan Hazel hari ini. Tommy meminta Collins untuk bergabung dengan mereka untuk sarapan.
"Kamu pasti belum sarapan, bergabunglah dengan kami," pinta Tommy.
Tommy ikut bergabung, Hazel hanya tersenyum kecil, bukan tidak menyukai kehadiran Collins, hanya saja ia tidak ingin pria itu berharap banyak terhadapnya. Hazel tidak akan bisa membalas perasaan Collins.
"Kau meluangkan waktu mu untuk mendampingi Hazel setiap saat, terimakasih. Collins.."
"Iya Tuan Tommy, karena saya sangat menyukai Hazel." Collins tak malu-malu lagi untuk mengatakan itu secara langsung kepada Tommy.
Mendengar itu Hazel bermuka masam, dia benar-benar tidak nyaman dengan spontanitas Collins. Baginya, dia sudah memiliki tunangan, Alaric tetap tunangannya sampai kapanpun.
"Kamu pria baik, sangat baik," puji Tommy.
Emma yang memahami mimik wajah Hazel, anak dari kekasihnya itu sangat jelas tidak menyukai percakapan antara Ayahnya dengan Collins. Namun Emma tidak ingin terlalu jauh ikut campur, dia hanga orang luar yang sedang menjalin hubungan dengan Tommy.
Usia sarapan, Hazel bergegas ke tempat pemotretan lagi, Collins mengantarnya, diperjalanan mereka lebih banyak diam, hanya sesekali Collins melontarkan pertanyaan yang membuat Hazel menjawab seadanya.
"Kalian siap-siap, kamu Hazel terimakasih telah datang tepat waktu," Ucap manager itu.
Hazel yang malas berbasa-basi hanya tersenyum kecil. Dia memulai berganti pakaian untuk melakukan pemotretan, sementara Collis menunggunya. Pria itu diberikan kursi pelayanan khusus dari pihak agensi.
"Duduklah disini, Tuan.." Ucap asisten yang akan mendampingi Hazel selama pemotretan.
"Kamu pacarnya Hazel?" tanya pria yang berperawakan gemulai itu.
Collins tersipu malu, dia tidak berniat menjawab agar orang-orang disekitarnya menganggap ia adalah pacar Hazel, Collins akan bangga jika orang-orang menganggapnya kekasih Hazel, model cantik dan dikagumi banyak orang.
"Kalian pasangan yang serasi, kamu tidak apa jika Hazel menjadi terkenal dan dikagumi banyak pria? "
"Tidak apa, aku akan selalu ada disampingnya."
Usai pemotretan itu, Hazel diberikan kursi oleh asistennya, tepat disamping Collins ia meregangkan badannya. Ada banyak tawaran wawancara untuk Hazel, tetapi gadis berlesung pipi itu enggan melayaninya. Hanya Collins yang dimintai untuk menjawab pertanyaan sebisanya.
"Apakah dia kekasih mu?" tanya wartawan kepada Collins.
Cukup lama Collins terdiam, karena tidak ada jawaban dari Collins, pria gemulai itu turun tangan untuk menjelaskannya. Dia mengatakan bahwa Hazel dan Alaric sepasang kekasih, dia mengucapkan itu dengan tegas dan dapat dijadikan berita.
***
Alaric menemani Nenek Grace belanja di supermarket, menemani Nenek Grace memilah-milah buah, Alaric melihat papan iklan yang menggambarkan Hazel, dia meningalkan Nenek Grace untuk mendekati papan iklan yang bergambar Hazel itu.
Alaric tanpa sadar Mengusap-usap papsn iklan itu, Nenek Grace yang melihatnya terkejut, orang-orang disekitar Alaric menertawakannya sebab mereka menganggap Alaric terlalu berhalusinasi dengan model cantik.
"Eh kenapaa seperti itu, kamu akan dianggap orang gila," kata Nenek Grace menarik tangan Alaric menjauh dari gambar Hazel.
"Tunggu Nenek, tunggu itu gambar tunanganku, Hazel," ujar Alaric.
Nenek Grace terheran, dia tidak mempercayai ucapan Alaric, menganggap Alaric salah orang.
"Mungkin kamu salah orang, dia itu seorang model," kerusakan Nenek Grace.
Alaric tetap bertahan, dia malah mengajak Nenek Grace ke security mencari tahu infromasi kebenarannya.
"Permisi, Pak. Nama wanita di gambar itu Hazel?"
Security itu tidak mengenali nama model-model yang ditampilkan, pria bertubuh gempal itu mengatakan tidak mengenalinya. Tidak putus asa , Alaric menanyakan kepada beberapa pengujung, Nenek Grace terkejut dengan sikap Alaric, pria itu tampak bahagia tetapi juga kebingungan.
"Iya, dia namanya Hazel, model baru di kota ini," ucap salah satu dari pengunjung supermarket yang nimbrung saat itu.
Alaric menghampiri wanita yang sedang menenteng sayuran di tangannya itu, berharap wanita itu memberitahu keberadaan Hazel.
"Kau tahu dia, kau tahu Hazel, dimana dia?" tanya Alaric.
Nenek Grace ikut disamping Alaric, dia ingin mengetahui seberapa kebenaran yang dikatakan Alaric itu.
"Kau mengenalinya?"
"Tentu, dia adalah model di agensi kami, kamu siapanya Hazel?" tanya wanita itu.
"Saya tunangannya, nama saya Alaric," jawab Alaric yang sejujurnya.
Wanita itu malah mengerutkan alisnya, dia menganggap Alaric sedang berguyon atau berhalunisasi, sebab wanita itu tahu, Hazel telah memiliki kekasih bernama Collins, pria itu setiap saat mendampingi kegiatan pemotretan Hazel.
"Jangan bercanda seperti itu, semuanya menyangkut karir Hazel, jangan mengaku kalian tunangan, itu berarti bohong, karena Hazel telah memiliki kekasih bernama Collins, aku juga mengenal Collins," jelas wanita itu.
Alaric tergugu, dia memandangi Nenek Grace sejenak, wajahnya tampak bingung, tetapi di sisi lain ada keyakinan bahwa yang dikatakan oleh wanita itu bukanlah kebenaran. Nenek Grace yang paham akan kondisi Alaric mengajak cucunya itu kembali ke rumah.
"Lebih baik kita pulang, disini keadaannya sudah tidak bagus," bisik Nenek Grace ke Alaric.
"Tapi.. Nenek, aku harus bertemu Hazel," kata Alaric dengan tubuh yang memelas.
Nenek Grace menarik paksa Alaric keluar dari supermarket itu, dia memanggil taksi untuk mengantarkan mereka pulang.
"Aku harus bertemu Hazel, Nenek.."
Nenek Grace menggelengkan kepalanya, bukan tidak ingin mempertemukan Hazel dengan Alaric, hanya saja Alaric harus mencari waktu buang tepat untuk bertemu secara pribadi dengan Hazel. Nenek Grace sedikit tahu tentang dunia modeling.
"Hazel telah menjadi model, dia akan sulit ditemui, kau dengar wanita tadi? kau tidak mengenali kehidupan Hazel seutuhnya, apakah dia mengatakan bahwa dia adalah seorang model disini?" tanya Nenek Grace.
Alaric teringat cerita Hazel dan Pak Van Hill, bahwa hari-hari Hazel hanya dihabiskan ddikampus juga di perpustakaan. Hazel hanya gadis biasa yang seringkali menjadi bahan olokan oleh teman-temannya.