
Kaki pria itu perlahan sembuh, semalaman Hazel meginap dirumahnya, dia layani secara istimewa oleh penduduk Desa. Mereka bahkan menganggap Hazel sebagai Ratu sesungguhnya sebab dialah yang mampu bertindak menyelamatkan penduduk Castor.
"Kau dari pihak Kerajaan?" tanya seorang Nenek yang menyapa Hazel.
"Aku gadis dari London, yang sangat jauh dari sini," jawab Hazel sejujurnya. Dia tidak ingin berbohong atas identitasnya.
"Tidak penting, dialah Ratu kita, menyelamatkan kita dari bencana ini," ujar salah satu warga Desa.
Karena tak ingin membuat nama pihak Kerajaan buruk di mata penduduk Castor, Hazel menjelaskan bahwa Alaric sedang berjuang menghancurkan penyihir jahat itu.
"Tapi yang menyebabkan semua ini terjadi itu Raja Carlos, serasa kami tidak berharga untuk hidup," keluh mereka serentak.
"Semua ini akan terlewati, hanya butuh waktu saja, bersabarlah .."
Para penduduk Desa malah menangis, mereka bercerita tentang ketidakpedulian pihak keraj., bahkan anak-anak banyak yang mati karena tak dapat suplemen kekebalan tubuh, mereka juga tak memiliki darah untuk mempertahankan hidup anak-anak nya.
"Pangeran juga sedang berjuang, dia mati-matian memperjuangkan kesejahteraan kalian," ucap Hazel.
Candi dan para harimau Hazel mengaung dari luar, tampaknya mereka meminta Hazel untuk segera melanjutkan perjalanan, waktu mereka kian menipis. Canso tak ingin keselematan Alaric terancam hanya karena keterlambatan mereka tiba di lembah kegelapan.
"Kami harus melanjutkan perjalanan, kalian baik-baik, jangan keluar rumah jiwaku tidak penting," pesan Hazel.
Hazel sudah memahami bahwa virus Zhietta tak dapat menembus rumah, itulah kelemahan dari sihir Zhietta. Penduduk Desa memeberikan Hazel buah tangan, ada juga yang memberikannya pasir hitam untuk di kantonginya.
"Ini pasir untuk apa, Bi?" tanyanya.
"Ini pasir sangat pedih di mata, mungkin kamu akan membutuhkannya," sahut wanita yang suaminya disembuhkan oleh Hazel.
Hazel naik ke punggung Canso, melambaikan tangan melepas kepergiannya dari Desa terpencil id Negeri Castor. Hazel menyadari ternyata Castor tidak dapat menyisir baik pemerintahannya, mereka tak mengetahui ada Desa yang diselimuti kepedihan, harapan yang menggantung.
"Canso, apa perjalanan kita masoh jauh lagi?" tanyanya.
Hazel menghentakkan kakinya, kuda cerdik itu menjawab tidak lama lagi.
Namun tiba-tiba suara pekik wanita dari dalam pohon terdengar, Canso berhenti berjalan, para harimau juga ikut berheti mencari asal suara itu.
"Kau dengar itu?" tanya Hazel.
"Suaranya seperti tidak asing," sambungnya.
Kelima Harimau itu mencari asal-muasal suara wanita, Hazel juga ikut turun dari Canso karena ingin memastikan suara wanita itu.
"Ajhhgggg tolong," teriaknya.
Wanita itu terperangkap di dalam pohon, tubuhnya diselimuti semua merah, semua itu mengigit tubuhnya. Hazel yang ingin menolong langsung di cegat para harimau, mereka tidak ingin Hazel celaka.
"Tolong aku, tolong .." pinta wanita itu.
"Kita harus menolong dia," kata Hazel kepada Canso.
Saat hendak mendekatinya, wanita yang ada didalam pohon itu menyiram ingin Hazel dengan air keras, namun secara dihalau oleh para harimau, alhasil kelima tubuh harimau terbakarterbakar. Perlahan ke-lima harimau musnah dengan sisa abu diatas tanah.
"Canso , apa itu?" tanya Hazel. Hazel baru menyadari itu adalah jebakan Zhietta untuk mencelakai nya.
Canso mendesak Hazel naik ke punggungnya lagi, tanpa banyak bertanya, Hazel segera pergi bersama Canso di tempat itu, walaupun ada kesedihan sebab kelima harimau itu mati demi melindunginya.
"Kau yakin aku bisa menaklukkan lembah itu, Canso?" tanya Hazel ragu.
Canso mengusap-ngusap kepalanya di wajahmu Hazel.
"Aku mengerti Canso, hanya saja aku takut jika tidak dapat selamat, aku tidak bisa bertemu Ayah dan Ibuku lagi, dan juga Pak Van Hill, " ujar Hazel. Di London ada banyak kesedihan, namun orang-orang yang ia cintai menumpuk di sana.
Canso membawa Hazel turun dari puncak, Hazel memeluk Canso dengan erat. Canso berlari cepat dikejar oleh waktu, ia meyakini Alaric sudah berada dalam cengkraman Zhietta.
"Berhati-hatilah Canso, kita bsoa terjatuh nanti," Pekik Hazel.
Canso yang tak mampu mengimbangi curam nya jurang, kakinya terperosok ke dalam lubang. Canso menjerit kesakitan, persendian nya patah, Hazel ikut terjatuh terguling ke dasar jurang.
"Ahhgg.." Keluh Hazel.
Tangan dan kakinya lecet, perih, karena batu cadas tajam. Namun Hazel berusaha membangunkan diri mengecek kondisi Canso. Hazel mengeluarkan kaki Canso dari lubang yng cukup dalam itu.
"Kaki mu terluka parah, Canso. Kau tidak boleh membawa ku melanjutkan perjalanan," ucap Hazel.
Kuda coklat itu mengeluarkan air matanya, dia memang tak mampu lagi berjalan menuju ke istana Zhietta. Hazel mencoba mengobati kaki Canso dengan batu Ruby nya, namun tak ada reaksi baik terhadap kaki Canso.
"Ada apa dengan batu Ruby ini," gumam Hazel yang masih menempelkan batu Ruby di kaki Canso.
Canso menggeleng kepalanya, seolah memberikan isyarat bahwa batu Ruby itu tak berfungsi. Hazel menelaah, ternyata batu Ruby itu hanya berfungsi pada luka sihir saja dan semacamnya. Tidak akan berfungsi pada luka yang biasa seperti luka kaki Canso.
"Maafkan aku Canso, aku tidak dapat menyembuhkanmu," ucap Hazel dengan linangan air mata.
Memastikan Canso merasakan tidak kesakitan lagi, Hazel terpaksa meninggalkan Canso untuk sementara, dia melanjutkan perjalanan menuju ke istana Zhietta yang sudah tidak jauh lagi.
"Kamu tidak takut Hazel, kamu tidak takut," ucapnya pada dirinya sendiri.
Suara burung berkicau seram menyambut kedatangan Hazel. Dari mereka ada yang masuk ke Istana melaporkan kedatangan Hazel kepada Zhietta. Hazel yang belum masuk ke halaman Istana Zhietta, ia menunggu Zhietta untuk keluar menemuinya, Hazel yakin ada banyak jebakan yang Zhietta telah persiapkan karena kedatangan Hazel.
"Alaric," teriak Hazel. Gadis berusia 19 tahun itu sengaja memanggil Alaric agar memancing Zhietta keluar dari Istananya.
Terdengar dari dalam isatan, lengkingan suara wanita, segerombolan burung keluar dari dalam istana, mereka membawa percikan bara api di jatuhkan ke halaman, mereka menjatuhkan bara api itu ke Hazel.
"Ahhh," Hazel berlindung. Saat itu dia memilih merunduk di bongkahan batu. Tubuhnya bergetar melihat ribuan burung menyerangnya.
"Ini tidak mudah.." lirihnya. Nyalinya menciut karena pasukan Zhietta yang begitu banyak.
Hazel mengintip ke dalam istana, berharap ada Alaric saat itu menjemputnya. Kalung batu Ruby Hazel bersinar, ia tak tahu harus berbuat apa dengan kalung itu.
"Kau kenapa bersinar? redupkan cahaya mu, kita bisa ketahuan disini," kata Hazel.
Dia manusia biasa yang memiliki ketakutan.
Batu Ruby itu tetap menyala, seolah meminta Hazel melakukan sesuatu, Hazel teringat dengan kalimat Tuan Ernest, kalung itu akan menyelamatkan sendiri Hazel, dia akan berguna pada waktu tertentu.
"Inikah saatnya," gumam Hazel bingung.
Hazel bertekad, bersembunyi pun tidak akan menjamin keselamatannya. Hazel keluar dari bongkahan batu, ia melepaskan pedangnya dari sarungnya. Burung-burung itu menyerangnya namun pedang Hazel menghunuskan pedang.