HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Ke Lembaga Penelitian



Pak Van Hill di gotong ke dalam ruangan lab, beberapa dokter forensik dan profesor mengelilinginya, Pak Van Hill hanya menundukkan wajah, tak berani memandang orang-orang ternama London itu.


"Lapisan epidermis kulitnya dari sini saja sudah berbeda, kau dapat Kakek ini dari mana?" tanya pria itu ke dokter forensik.


"Ada seorang gadis yang hilang di perpustakaannya, sampai saat ini belum ditemukan jejaknya, apakah dia telah membunuh nya atau menyembunyikannya di suatu tempat," jelas dokter Forensik.


"Baiklah, sepertinya dia sengaja menyembunyikan sesuatu, ambil sempel darahnya lagi," ujar Profesor berkepala plontos itu.


Pak Van Hill di perintahkan untuk berbaring, kedua tangannya di regangkan, di ikat dari dua sisi. Profesor mulai memeriksa bola matanya, sesekali Profesor itu mengerutkan alis karena terheran dengan reaksi tubuh Pak Van Hill.


"Hei Kakek, lebih baik kau jujur sebelum kami lebih jauh menganalisis tubuh mu," kata dokter forensik.


Pak Van Hill tetap pada pendiriannya, dia pasrah ketika darahnya diambil. Setelh iti dokter membawa darah Pak Van Hill di mikroskop. Profesor iti tercengang dengan darah Pak Van Hill.


"Sial! Ini sangat mencengangkan." Profesor itu seketika mengumpat.


"Ada apa, Prof?"


"Darahnya mengandung bakteri menular, dia menularkan sejenis bakteri yang bisa memberhentikan kinerja organ tubuh manusia, ini masih dugaan ku, tapi saya yang tiga puluh tahun di dunia PhD ini tahu resiko bakteri lain," jelas Profesor.


Pak Van Hill tegang karena jati dirinya telah diketahui, orang-orang yang berada di laboratorium itu memandanginya. Profesor mendekatkan wajahnya ke wajah Pak Van Hill.


"Kau monster.." bisiknya.


Pak Van Hill tak merespon, Profesor itu sengaja ingin memancing Pak Van Hill untuk berbicara. Namun Pak Van Hill tetap mengunci mulutnya. Geram karena tak di gubris, Profesor itu kembali mengambil siletnya, menyayati kulit Pak Van Hill.


"Ahhgggg!" Pak Van Hill mengerang kesakitan.


"Aku mengambil kuliu untuk dideteksi, apakah kau tidak menyebarkan infeksi dengan sentuhan," kata Profesor itu.


Pak Van Hill meringis kesakitan, dokter forensik tak tega melihatnya namun itulah prosedur yang harus mereka jalankan.


"Kau seharusnya mengakui, tapi sudahlah.. obati dia," sambung Profesor itu.


Dokter forensik mengobati luka bekas sayatan kulit Pak Van Hill, di sela-sela kelopak matanya, menetes air mata, selain kesakitan, Pak Van Hill mengenang keluarganya.


"Kami obati, tahanlah.." kata dokter forensik itu.


Mereka kembali meneliti jenis kulit Pak Van Hill, menyatukan hasil lab sempel darahnya, serta rambut, juga air liur. Profesor saat itu bahkan semuanya lembur karena teramat penasaran dengan sosok Pak Van Hill.


"Tolong, saya haus.." Pak Van Hill mengeluarkan suaranya.


Profesor itu melarang dokter forensik memberikannya air putih.


"Tanyakan apa yang dia ingin minum?"


"Air saja.." Sahut Pak Van Hill.


Profesor itu tak percaya, dia tahu monster tidak bergantung dengan air saja. Profesor mendekati lagi Pak Van Hill.


"Katakan sejujurnya, apa yang ingin kau minum dan makan?"


Pak Van Hill kehilangan tenaga, sudah seminggu ia tidak meminum suplemen kesehatannya, salah satu yang dapat membuatnya bertahan hidup di Inggris selama ratusan tahun.


"Aku ingin kantong darah yang dari ruang sakit saja," jawab Pak Van Hill sangat pelan.


***


Sementara di kantor polisi ada Tommy yang datang menanyakan proses Pak Van Hill. Saat itu hanya Emma yang mengajaknya bicara. Dengan suara pelan, Emma malah Mengintrosi Ayah Hazel itu.


"Apa saja yang anak mu lakukan? Apa kau tahu Tuan?" tanya Emma.


"Dia hanya mahasiswi biasa, pendiam, dan tidak bergaul, Hazel anak yang tidak neko-neko," jawab Tommy yang sudah memahami karakter putrinya.


Emma melirik ke CCTV kantornya, " Pelan kan suarai menjawab Tuan, ini antara kita berdua," ucap Emma.


Tommy tidak mengerti yang dimaksud oleh polisi wanita itu. Dia dimintai foto Hazel juga beberapa daftar kebiasaan Hazel. Setelah itu Emma kembali berbicara serius dengan Tommy.


"Apa kalimat terakhir Tuan Pak Van Hill katakan padamu, Tuan?"


Tommy merasa yang dikatakan Pak Van Hill hanya bualan, namun ia merasa harus menceritakan semua itu kepada Emma.


"Dia berpesan kepadaku dengan cara rahasia, katanya Hazel masuk ke dalam buku dongeng ajaib, Negeri Dongeng.." Papar Tommy laku di barengi tertawa.


"Hahahah.. dia pikir kita percaya bualan nya," sambung Tommy.


Emma tersenyum masam, dia ikut tertawa namjn bukan menertawakan Pak Van Hill, nilainya Tommy.


"Aku mengasihani mu Tuan, tapi hatimu terlalu tertutup meraba kebenaran," ujarnya.


"Apa maksud mu? Harukah aku mempercayai dia? Itu karangan dia saja," imbuh Tommy.


"Bagaimana jika itu benar? Dengarkan aku Tuan Tommy, Pak Van Hill bukan manusia sama seperti kita, dia makhluk yang belum diketahui jenis apa, bisa saja omongan dia benar, di dunia ini ada banyak misteri yang sulit terpecahkan oleh nalar manusia," jelas Emma. Dia sangat berempati dengan keselematan Pak Van Hill.


Tommy mengingat kembali cerita Pak Van Hill tentang Hazel yang akan keluar dari dongeng setelah misinya selesai, putrinya sedang berjuang dengan tugas yang memang ditakdirkan untuknya. Bunyi lainnya ialah gaun favorit Hazel hilang diwaktu yang sama.


"Sulit untuk ku Terima, tapi .. " Tommy kebingungan. Ingin rasanya mempercayai itu, tetapi logikanya bertolak arah.


Emma memberikan surat kuasa, ada beberapa pernyataan Tommy akan ia catat untuk jadi pertimbangannya.


"Kau tahu Pak Van Hill sedang dalam bahaya, dia mahluk yang tidak berbahaya untuk manusia, justru manusia berbahaya baginya, ilmuwan akan meneliti dia habis-habisan bahkan mereka tidak akan memperdulikan nyawa Pak Van Hil," tutur Emma dengan suara bergetar.


Tommy terhentak, dia tidak menyangka akan sepanjang iti permasalahan Pak Van Hill. Emma menarik nafas dalam-dalam, ia melihat ada rasa penyesalan di wajah Tommy.


"Pikirkan jika itu benar, bagaimana jika hanya Pak Van Hill dapat mengeluarkan Hazel, maksudku mengembalikan Hazel bila tiba waktunya," tanya Emma memberikan gambaran.


Tommy mengusap wajah dengan kasar, pikirannya sudah kalut, sementara Emma menyerangnya dengan kalimat agar lebih menyesal lagi.


"Di sana Pak Van Hill akan dijadikan bahan eksperimen ilmuwan."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin putriku kembali," kata Tommy.


"Apa dengan begini Hazel kembali? Kita harus cari cara mengeluarkan Pak Van Hill dari Laboratorium Negara," usul Emma. Dia akan mempertaruhkan gelarnya sebagai polisi demi membantu Pak Van Hill.


Emma mengeluarkan identitas Pak Van Hill, mulai dari data Kakek Pak Van Hill, saudara, hingga saat ini Pak Van Hill yang meneruskan perpustakaan.


"Kenapa keturunan ini mirip semua?" tanya Tommy heran.


Emma melirik ke Tommy, "Buka mirip, tapi dia orang yang sama, hanya saja datanya selalu diperbarui, dia membayar orang-orang penting di London, Tuan tahu ini pertanda Pak Van Hill ingingj melakukan sesuatu yang teramat rahasia," jelas Emma panjang lebar.