HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Penculikan



Usai melakukannya, Emma bergegas membersihkan badan, sementara Albert sedang men cocoklogi kan bukti-bukti yang mengantarkannya menebak bahwa Valencia dan Zhietta bukanlah penduduk London. Meskipun telah berdamai dengan Emma, tetap saja Albert penasaran dengan asal-usul kedua wanita yang sudah memalsukan identitasnya itu.


"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Emma yang sudah keluar dari kamar mandi.


Albert menoleh ke Emma, tatapannya meminta jawaban dibalik penyelidikannya.


"Apa salahnya menceritakan sejujurnya, kau tidak percaya padaku?"


Emma menyerah, dia mengambil tas ranselnya yang ada di sofa, mengambil buku dongeng yang telah merekat selama-lamanya. Albert tidak memahami maksud Emma. Dia mengambil buku dongeng itu lalu di perhatikannya secara seksama.


"Apa maksud ini, Emma?"


"Ini salah buku dongeng ajaib yang dapat mengeluarkan tokoh-tokohnya dalam isi ceritanya," Jawab Emma.


Albert terdiam sesaat lalu tertawa terbahak-bahak, seolah jawabn Emma lelucon yang ingin menghibur kelelahannya.


"Kamu sudah pandai bercanda, apa karena kau sudah sangat mencintaiku? Hmm?"


"Ini bukan lelucon! Ini fakta yang sebenarnya, kau lihat mereka tidak memiliki identitas atau DNA apapun, itu pembuktian yang nyata jika memang mereka berasal dari buku dongeng " The Castor Land".


Albert memasang wajah kebingungan, ini kali pertama dia menangani kasus yang berhubungan dengan dunia fantasi. Albert berusaha membuka buku dongeng itu, tetapi karena tidak dapat terpakai lagi, buku dongeng 'The Castor Land' tertutup untuk selama-lamanya.


"Percuma, kau tidak akan mampu membukanya, penghuninya telah melanggar pantangan sehingga buku induknya tertutup," Ujar Emma.


"Jadi mereka mahluk ajaib? Mungkinkah sana seperti pria pemilik perpustakaan itu yang hilang tiba-tiba?"


Emma mengangguk, "Dia seorang Raja kedua di Negeri Castor, ada banyak yang perlu kamu tahu, aku harap kita sebagai pengayom masyarakat tidak menyakiti mereka, karena mereka tidak berbahaya, aku percaya kamu, apakah kamu bisa dipercaya?"


Emma mewanti-wanti Albert agar tidak lagi mencari tahu tentang penghuni Castor, berharap pria itu tidak lagi bekerjasama dengan Collins untuk membongkar semua identitas Alaric juga Valencia.


"Aku berjanji, asalkan kau memberikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku," Ucap pria berkepala plontos itu.


Emma mencoba membuka hatinya kepada Albert, lagipula dia tidak lagi menyimpan harapan terhadap Tommy, Ayah Hazel itu berhak memilih Zheitta. Walaupun Emma masih memiliki sisa cinta itu, tetapi kehadiran Albert akan membersihkannya tanpa tersisa.


Ponsel Albert berdering, ternyata itu panggilan Collins yang mungkin saja menanyakan perkembangan penelusuran Albert tentang Alaric dan lainnya. Albert menunjukkan layar ponselnya ke Emma.


"Anak itu benar-benar jahat, kamu harus selesaikan masalah ini, sudahi saja."


"Collins merencanakan hal buruk ke Alaric dan Hazel, tapi tenanglah, anak itu tidak memiliki jalan yang mudah jika hanya melakukan seorang diri," ujar Albert.


Dug!


Di tempat lain Collins marah-marah sambil memukuli kemudi mobilnya. Albert tidak menjawab teleponnya padahal ada perihal penting yang ingin ia sampaikan, Collins mendapatkan informasi tentang kepergian Alaric dari London.


"Dasar si botak tidak berguna!"


Collins memilih untuk keluar dari mobil, dia masuk ke dalam toko tempat Valencia bekerja, mengejutkan Valencia yang sedang melayani di kasir.


"Collins.." lirih Valencia.


"Hai, aku butuh bantuan mu, apakah kamu bisa?" tanyanya.


Valencia masih dalam jadwal pekerjaan, lagipula dia tidak ingin lagi berurusan dengan Collins.


"Aku bekerja, jangan ganggu aku lagi."


"Kenapa Alaric mendatangiku tadi? Dia terluka, apa terjadi sesuatu di tempat kalian?" tanya Collins memancing Valencia.


Valencia terkejut, setahu dia Alaric telah kembali ke Castor, namun dipikirannya tidak menutup kemungkinan jika terjadi sesuatu di negeri Castor yang membuat Alaric terluka.


"Dimana Alaric sekarang?"


"Ada di tempatku, maka dari itu ikutlah denganku," Ucap Collins.


Valencia bergegas minta izin ke bosnya, hanya satu jam istirahat yang diberikan untuknya, salah satu teman kerjanya menggantikan Valencia untuk sementara waktu.


"Ayo masuklah ke dalam mobilku, kau harus menemui Alaric," Ucap Collins.


Collins membawa Valencia menuju ke pinggiran kota, dia ingin memanfaatkan Valencia agar wanita itu berkata sejujurnya tentang asal-asulnya dengan Alaric.


"Apa Alaric terluka parah? Mengapa kau tidak memberitahu Hazel?"


"Kau kira aku bodoh?! Biarkan Alaric menjadi milikmu, Hazel menjadi milikku," Sahut Collins yang teramat jengkel.


Valencia terdiam, saat ini dia hanya mengkhawatirkan Alaric, tetapi tak ada sedikitpun niat untuk merebut Alaric dari Hazel. Valencia sudah menerima kenyataan bahwa cinta Alaric hanya untuk Hazel seorang.


Collins menghentikan mobilnya, tepat di depan rumah tua yang berada di dalam hutan. Valencia tidak menaruh curiga, kekhawatirannya terhadap Alaric melenyapkan kecurigaannya.


"Apa disini tempatnya?" tanya Valencia.


"Benar, Alaric ada di dalam, dia kesakitan, aku menemukannya di hutan sana," Sahut Collins sembari menujuk ke dalam hutan.


Valencia kebingungan, bagaimana bisa Alaric berada di hutan? Apakah buku dongeng itu dibawa lagi olehnya?


"Masuklah, aku akan menyiapkan obat untuknya," Seru Collins.


Valencia lebih dulu membuka pintu rumah tua itu, dibelakang Collins mengamati langkah Valencia, dia mengikutinya dari belakang.


"Dimana dia? Kenapa kosong?" tanya Valencia yang hendak berbalik namun sesuatu tajam menancap di lehernya.


Valencia meringis kesakitan, dia berbalik sambil terjatuh ke lantai, menatap Collins dengan tatapan kosong. Obat bius yang disuntikkan ke Valencia sudah bereaksi. Valencia sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Cinta memang membuat orang bodoh, termasuk aku dan kamu, wanita tolol!" Collins mengumpat Valencia yang sudah tergeletak di lantai.


Di tempat berbeda, hingga malam hari kawan kerja Valencia menanti, mereka melaporkan kepada bosnya tentang Valencia yang belum juga kembali. Salah satu dari kawan Valencia itu menelpon ke rumah Tommy, dia menyampaikan pesan itu kepada Zheitta.


"Bagaimana bisa dia pergi?" tanya Zheitta.


"Dia pergi bersama seorang pria," Kawan Kerja Valencia menyebutkan ciri-ciri Collins, Zheitta langsung menebak jika pria itu adalah Collins.


"Apa yang diinginkan anak itu?!" Zheitta geram karena Collins melibatkan Valencia dalam urusan cintanya dengan Hazel.


"Apa kita perlu melaporkan ke kantor polisi? Ini bahaya untuk keselamatan Valencia," tanya Tommy. Dia sudah menganggap Valencia seperti anak kandungnya.


Zheitta tak dapat berpikir jernih, dia menerka-nerka penyebab Collins menculik Valencia, tentu ada hal yang mendasari sehingga Collins nekat berbuat demikian.


"laporkan dia, aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Valencia, dia sudah menjadi tanggungjawab ku," kata Zheitta.


Tommy menelpon 911 untuk melaporkan kehilangan Valencia, pihak kepolisian menginformasikan kepada Emma. Albert dan Emma juga sudah menebak penculik Valencia.