
Setelah perundingan bersama Zhietta yang penuh dengan tangis, Tommy memanggil putrinya, Hazel. Dia meminta kakak semata wayangnya itu duduk di rumah keluarga. Ada yang ingin ia sampaikan kepada Ibu Helena itu.
"Duduklah, putriku.." pintanya menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Hazel yang sedang menggendong Helena duduk dengan wraut penasaran. Wajah Tommy nampak serius, sejenak dia mengelus-ngelus pipi Helena.
"Kau tidak rindu dengan Ayahnya?" tanya Tommy kepada putrinya.
Hazel tersipu, semenjak kembalinya Jasper ke Castor, dia tidak pernah lagi mengutarakan keinginannya bersama Alaric di depan Ayahnya.
"Kau diam, berarti sangat merindukan Alaric, dia pasti juga merindukan kalian," kata Tommy.
"iya Ayah, tapi mengucapkan tak gunanya, tak ada yang berubah Ayah," sahut Hazel.
Tommy melirik ke Zhietta sejenak, wajah mantan penyihir Castor itu terenyuh, dia ingin suaminya benar-benar mengatakan hasil perundingan mereka.
"Dengarkan Ayah, seorang Ayah akan tetap menyanyangi putrinya dimanapun berada, sampai kapanpun, bahkan disaat kematian memisahkan mereka. Cinta Ayah akan tetep tertanam di hati putrinya, menjadi ingatan yang paling membahagiakan jika di kenang. Ayah memang bukan Ayah kandungmu, tapi kasih sayang diatas dari Ayah kandung lainnya," ucap Tommy.
Hazel mengagguk kecil, dia mengusap-usap tangan Ayahnya.
"Sayang, pergilah ke Castor, hiduplah disana bersama keluarga kecilmu dan rakyatmu, kau berhak menjadi Ratu di negeri suamimu, Ayah rela kamu bahagia disana," ucap Tommy lagi.
"Ayah.." Lirih Hazel.
"Sayang, pergilah, ada Helena yang harus kau jaga nasibnya, Helena berhak memiliki Ayah, tahta, dan kehormatan yang memang selayaknya dai miliki, pergilah ke Castor, Ayah sangat rela, dimanapun kamu berada."
Hazel melirik ke Zhietta, Ibu angkatna itu mengangguk. Sejak tadi malam Hazel memang bergumul dengan keinginannya bertemu dengan Alaric. Melihat Helena, rasa bersalah semakin menggerogotinya.
"Pergilah Hazel, bawa Helena, yakinkan dirimu, hany menyimpan keraguan lagi." Zhietta menambahkan.
Hazel mencium tangan Ayahnya. Dia menitikkan air mata, menangis dipangkuan Ayahnya.
"Ayah terlalt singkat jika aku hanya mengucapkan terimakasih, padahal pengorbanan Ayha dan rasa sayang Ayah lebih dari itu. Kau Ayha terhebat di dunia, terimakasih telah merawatku sejak kecil, terimakasih sudah menjadi pahlawanku, Ayah.. Kau cinta pertamaku, kau tetap ada dalam hatiku sepanjang hidupku, kau Kakek dari Helena yang akan kuceritakan betapa beruntungnya aku memiliki Ayah sepertimu," ucap Hazel terisak tangis.
Tommy mengusap kepala putrinya, air matanya merembes namun hatinya sudah ikhlas melepas Hazel hidup di negeri Castor selamanya. Walaupun kerinduannya tidak dapat menampakkan wajah Hazel dan Helena lagi, tapi Tommy tahu Hazel dan Helena tidak akan juga melupakannya.
"Pergilah sayang, Ibumu akan membantumu untuk berpindah," ujar Tommy.
Hazel meluangkan waktu sejam untuk mengucapkan kalimat cinta kepada Ayah dan Ibunya. Dia juga menyempatkan menulis surat untuk Emma, dan kawan-kawan lainnya. Ucapan cinta dan rindu akan ia tuangkan dalam tulisan suratnya untuk orang-orang terkasihnya.
"Hazel, kau sudah banyak menulis surat, Ayah dan Ibu akan kelelahan menjadi tukang pos untuk mu," canda Zhietta.
Hazel tertawa, tawa itu mungkin tawa yang terakhir kali bersama keluarganya. Tawa itu akan ia ciptakan di negeri Castor lagi bersama Alaric dan keluarga kerajaan.
"Marilah, duduklah bersama Helena di atas buku Castor itu," pinta Zhietta.
Tommy menciun kening putriinya, kemudian cucunya, dia berusaha tidak meneteskan air mata agar Hazel tidak merasa berat meninggalkannya lagi.
"Pikirkan yang aku ucapkan, kau harus rela tinggalkan dunia ini untuk kembali ke Castor, mengabdikan diri sebagai Ratu di sana, tanamkan di hatimu, ucapkan di hatimu seperti itu, jika kau benar-benar memiliki ketulusan terhadap Castor, maka kau dan Helena akan masuk ke buku ini, tapi jika tidak, hanya Helena yang dapat terserap, yakinkan dirimu Hazel," jelas Zhietta.
Hazel mengangguk, dia memejamkan mata seraya memangku putrinya. Beberapa kali ucapan keinginannya menjadi Ratu Castor ia ucapkan secara lirih, ternyata itulah mantra terakhir yang dapat membuka pintu huku dongeng kembali. Kelahiran Helena adalah kunci agar Hazel memiliki kesempatan hidup di Castor karena Helena adalah pewaris tahta kerajaan selanjutnya.
Hazel tetap memejamkan matanya, Helena mulai rewel, dia menangis sebab mendengar suara riuh rakyatnya yang berasal dari buku dongeng.
"Fokuslah Hazel, ucapkan ketulusanmu, jangan sampai hanya Helena yang masuk, " kata Zhietta yang panik karena hanya Helena yang terkena cahaya buku Castor.
Hazel membuka matanya, dia tahu ada hal yang paling buku ajaib itulahinta darinya selain ketulusannya menjadi Ratu Castor.
"Buku ajaib, aku adalah cinta sejati Alaric, jarak dari dimensi tak dapat memisahkan kami, kau tidak berhak memisahkan cinta sejati, karena sampai kapanpun cinta sejati akan selalu membutuhkan satu sama lain, mereka terikat hatinya oleh takdir, aku ingin bersatu dengan cinta sejatiku, sekarang.."
Pusaran angin mulai tercipta, cahaya dari buku ajaib itu meliuk-liuk mengitari Hazel dan Helena. Perlahan Helena ditarik oleh angin itu lalu di susul oleh Hazel. Keduanya terjerat oleh angin hingga Tommy ingin menyelamatkan mereka.
"Tidak, jangan sayang, itu cara mereka ke Castor," ujar Zhietta menahan Tommy.
Do menita kemudian, Hazel dan Helena terserap masuk ke dalam buku. Tommy beranjak ingin melihat keadaan putri dan cucunya, namun keduanya tak nampak lagi. Zhietta menitikkan mata, ia merasa sudah membayar kesalahannya terhadap Castor dan Hazel, mempersatukan kembali sosok yang akan berpengaruh bagi negeri Castor kelak.
Zhietta beranjak menenangkan Tommy, buku ajaib itu dipeluk erat oleh suaminya.
"Sayang, Hazel akan tetap menjadi putrimu, dimanapun dia berada, kau tetap Ayah terbaiknya.
Zhietta memeriksa buku ajaib itu. Sedikit demi sedikit buku itu berubah menjadi debu, pertanda berakhirnya cerita di buku ajaib itu.
" Berbahagialah disana sayang, kami akan September mengingatmu, kau menjadi kenangan indah bagi kami.." Ucap Tommy yang disertai tangisannya.
***
Hazel dan Helena terdampar didekat danau, Hazel pingsan saat itu sedangkan Helena tertidur pulas. Setelah melewati pintu dimensi buku ajaib itu, mereka amat kelelahan, energinya diserap oleh lorong dimensi.
Pagi itu ada dua warga desa yang berjalan ke danau, mereka ingin memancing, mereka terkejut melihat Hazel dan Helena terbaring di tepi danau.
"Ada orang di sana," seru salah satu pria itu.
"Apakah wanita dan bayi itu sudah mati?"
"Kita harus memeriksanya," sahutnya.
Perlahan mereka mendekati Hazel dan Helena, pertanyaan mereka mengecek hidung Helena, bayi itu masih bernafas. Kemudian berpindah ke Hazel, namun tiba-tiba Hazel bangun dengan terbatuk-batuk, dia terkejut dengan kehadiran dua orang pria di dekatnya.
"Kau siapa? kau berasal dari mana?" tanya kedua pria itu.
Hazel tidak menjawab, dia bergegas menggendong Helena, menepuk-nepuk pipi anaknya agar segera sadar.
"Sayang, bangun Helena," ujarnya.
"Anakmu sedang tertidur, jangan khawatir," kata pria itu.
Hazel bernafas lega, dia melihat disekitarnya, danau itu adalah tempat pertama kali ia datang ke negeri Castor, dimana ia pertama kali hampir di serang oleh Efrat yang berupa singa.
"Kau dan putrimu butuh istirahat, ikutlah kami le rumah, ada istriku yang akan menjamumu, ayo.." Ajak kedua pria itu.
Hazel pun menurut, tak ada pilihan lain, perjalanan menuju istana masih jauh. Dia tidak mungkin menggendong Helena melakukan perjalanan jauh dengan hanya berjalan kaki saja.