HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Ancaman Albert



"Setidaknya kamu memiliki anak dari Alaric, kita tidak tahu kedepannya seperti apa, tapi kamu juga harus melanjutkan hidup mu juga Hazel," ujar Emma.


Hazel mengerti yang dimaksud Emma, sekalipun ia bersedih sepanjang masa, hal itu tidak akan mengubah perpisahan antara dirinya dengan Alaric. Hazel memang sudah tahu, bahwa tidak akan bersatu dengan Alaric yang berasal dari negeri dongeng.


"Aku akan memulai, menjaga diri dan bayi di dalam kandunganku, aku pikir itu cukup bijaksana berdamai dengan takdirku," sahut Hazel.


Emma menyunggingkan senyum, walaupun dia sedang patah hati dengan Tommy, tapi tidak mengurangi rasa pedulinya terhadap Hazel. Saat itu Tommy lebih memilih bersama Zhietta karena tidak dapat melupakan istrinya itu, mengetahuinya, Emma hanya ber pasrah, tak ada kata dendam atapun marah.


"Hari ini aku akan ke kantor, kamu tetaplah disini," ucap Emma.


Hazel telah sepakat dengan Tommy bahwa ia akan tinggal bersama Nenek Grace. Hazel masih menyimpan trauma jika harus seatap lagi dengan Zhietta, walaupun Zhietta berkata tidak akan melakukan kesalahan lagi, tetap saja kepercayaan itu sulit diberikan Hazel kepadanya.


"Nyonya Grace, aku harus ke kantor terlebih dulu, ada banyak yang ingin ku selesaikan, aku titip Hazel, dan aku menitipkan kamu di Hazel," Kata Emma, dia berlalu melewati Nenek Grace yang hanya senyum sumringah.


Ketika masuk ke mobilnya, Emma baru melihat pesan dari seorang teman sejawatnya, pria itu meminta untuk bertemu karena ada yang ingin didiskusikan dengan Emma.


"Ok tunggulah," Hanya pesan suara yang ia balaskan, Emma melancong ke kantor polisi tempatnya ditugaskan.


Setiba di kantornya, Emma bergegas ke ruangannya, di dalam ada pria berkepala plontos yang menunggunya. Sudah lama Emma tidak bertemu dengan temannya itu, karena bertugas di kantor yang berbeda, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu kecuali ada kasus yang harus di usut.


"Sepertinya ada yang yang penting membawamu kemari, Pak Albert," Kata Emma dengan nada candaannya.


"Tepatnya memang ada dan sangat penting," Sahut Albert.


Detektif yang sempat menjalankan tugas dari Collins itu mengeluarkan foto Alaric, dan DNA Alaric yang tidak memiliki identitas di London. Emma terkaget, dia memahami maksud kedatangan Albert kali itu,dia duduk dengan menyilangkan kedua tangannya, Emma berusaha bersikap tenang di depan Albert.


"Kau dibayar berapa untuk itu?" tanya Emma.


"Ini bukan janya tentang uang, tapi rasa keingintahuanku, kau membiarkan orang-orang asing hidup di Negata kita dengan identitas palsu," Jelas Albert.


Emma sadar, bahwa yang dilakukannya mennag menyalahi aturan negara, tetapi keprimanusiaan juga harus ia gunakan, Emma mengasihani mereka yang dari Castor ingin mencari ketenangan hidup di London.


"Bisakah kau tidak menelusuri itu? Aap untungnya? Jika kau ingin uang, akan ditambahkan,"


Albert tersenyum miring, dia tahu jika Emma sudah gelisah karena rahasianya diketahui olehnya, Emma ikut serta dalam menyembunyikan orang-orang ilegal itu.


"Kau juga terlibat, maka kau jiga harus bertanggungjawab," Ucap Albert.


Emma menelan air liurnya, dia mendekatkan dirinya ke Albert, Emma tahu Albert juga memiliki rasa dendam terhadapnya karena telah menggagalkan kasus yang ia tangani dulu.


"Jika kau menemukan bukti dan menyebar luaskan, nasibmu juga tidak akan berubah, tapi jika kamu berdiam diri, kau menyelamatkan mereka, kau telah melakukan perbuatan baik lagi," Ucap Emma.


Albert berdiri dari tempat duduknya, dia tidak ingin berargumentasi dengan Emma, Albert kembali mengumpulkan bukti-buktinya itu.


Emma yang tidak ingin karirnya hancur karena kasus itu sengaja menggoda Albert, dia terpkasa mengatakan hal yang tidak sesuai isi hatinya.


"Aku mencintaimu.." ucapnya.


Langkah Albert terhenti karena mendengar penuturan Emma, dia menoleh ke Emma dengan tatapan terhenyak. Namun Albert tidak menujukkan gelagat senang karena ucapan Emma, dian hanya tersenyum miring lalu memilih enyah dari ruangan Emma.


"Hei!" Emma memanggilnya tetapi Albert tidak menghiraukan.


Albert terus berjalan menuju ke mobilnya, tak berbalik melihat Emma yang berdiri menatapnya lewat jendela. Sementara Emma muali khawatir jika Albert memang akan mengungkapkan jati diri Zhietta dan Valencia, Emma tidak ingin karir kepolisian menjadi buruk dan dipecat karena ia telah menutupi kebohongan jati diri orang-orang ilegal.


"Aku harus memberitahu ini kepada Tommy dan istrinya," Gumam Emma.


Berat rasanya berurusan lagi dengan Tommy dan Zhietta, tetapi keadaan makin darurat, ingin Emma memberitahu langsung tetapi Emma juga gengsi untuk memulai menelpon Tommy, tercetus di benaknya tentang Valencia, Emma pun bergegas ke tempat kerja Valencia.


***


Hari itu penobatan sebagai Raja telah usai, Alaric telah resmi menjadi Raja Castor menggantikan Ayahnya. Sebagai sosok Raja, Alaric telah disibukkan dengan berbagai kegiatan, pembagunan ia mulai dengan mengembangkan saranan transportasi, beberapa sistem pembangunan di London Alaric tiru sebagai kemajuan negeri Castor.


"Di tempat Hazel, bangunan menjulang tinggi, kita harus membangun sekolah untuk mempelajari teknologi itu, kita juga memiliki ilmuwan, walaupun saya pikir mereka belum sebanding dengan mereka, tetapi saya yakin, Castor juga akan menjadi negara maju," ucap Alaric kepada jajaran kabinet kerajaan.


Pak Van Hill ikut serta menggantikan dan membuat lapisan bangunan yang bisa dimanfaatkan oleh sumber daya alam di negeri Castor.


"Kamu akan menjadi Raja terbaik sepanjang masa, setelah itu keturunan mu," ucap Pak Van Hill memuji perubahan Alaric.


"Aku tidak akan menikah lagi, Kek. Aku sudah memiliki istri yaitu Hazel, dia telah mengandung anakku, walaupun kami tidak akan pernah bertemu, tapi kami akan memegang janji kami untuk saling setia," kata Alaric menahan kesedihannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar tetap waras.


Merindukan Hazel adalah kelemahannya, membiarkan diri dalam kerinduan sana halnya membunuh dirinya secara perlahan. Jika bukan karena tugas dari Ayahnya, Alaric tidak akan bisa hidup stabil lagi.


"Tapi... akankah kamu bisa sendiri? Itu tidak akan bisa, Nak. Seorang Raja butuh pendamping, jika kamu mau, kita memiliki keluarga kerajaan yang bisa mendampingi kamu," usul Ratu Florida.


Mendengar usulan Ibunya, Alaric sangat tidak menyukai itu.


"Ibu sudah tahu, aku sudah mati rasa ke perempuan lain, jangan pernah lagi ucapkan itu, jika Ibu memaksa, aku akan menghancurkan Castor," tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulut Alaric.


Alaric bukan tidak ingin berkata lebih sopan, tetapi Ibunya terkadang kelepasan hanya karena memikirkan dari sudut pikirannya sendiri, Alaric perlu tegas ketika berurusan dengan persoalan pribadinya.


"Itu terlalu kasar untuk Ibumu, dia hanya peduli, tidak memaksa," kata Pak Van Hill.


Alaric meninggalkan Kakek dan Ibunya di jajaran prajurit. Bersama Jasper, dia menunggangi kuda untuk berkeliling lagi di desa-desa.