
Hazel memberikan minum untuk Canso, setelah itu mencari letak keberadaan Valencia. Hazel mengitari sekitar Kastil utama, namun tak menampakkan Valencia juga kereta kudanya. Hazel hanya melihat prajurit dan pelayan yang telah menjadi patung batu.
"Kemana Valencia? Apakah dia memiliki urusan lain?" Dia bertanya-tanya seorang diri.
Canso berlari ke arahnya, tampaknya kuda pemberian Tuan Ernest itu merasakan akan ada bahaya yang menimpa Hazel.
"Kau ketakutan Canso, ada apa?"
Canso terlihat gelisah, muda cokelat itu mondar-mandir di hadapan Hazel. Gadis itu dapat membaca kekhawatiran Canso.
"Aku paham maksud mu, tunggua aku," ujar Hazel. Dia kembali masuk ke ruang tamu menemui Tuan Ernest.
Tuan Ernest lelah hanya dapat menyandarkan kepada di tembok, dia menunjuk ke pedang biru yang buat khusus untuk Hazel.
"Ambillah pedang itu, gunakan sebaik-baiknya, pergilah Selamatkan Alaric," kata Tuan Ernest menaruh harapan besar terhadap Hazel.
"Baiklah, Tuan Ernest tunggu kami kembali," unat Hazel.
Dia mengeluarkan pedang itu dari lemari kaca. Pedang biru itu bersinar ketika di pegang oleh Hazel. Mengucapkan pamit dari Tuan Ernest, Hazel kembli ke Canso yang masih menunggu di pacuan kuda.
"Kau siap menemani ku Canso?" tanyanya.
Canso mengangkat kedua kakinya, mengisyaratkan dia bersiap menemani Hazel menuju ke lembah Zhietta. Hanya membawa pedang biru, Hazel memberanikan diri menuju ke lembah gelap yang amat ditakuti di Negeri Castor.
"Kau harus tetap bersama ku, Canso.." Lirih Hazel yang menunggangi Canso.
Semakin gelap perjalanan mereka, ada banyak jahit yang menghalangi pandangan Hazel. Sulit Canso berjalan di kegelapan, begitupula dengan Hazel. Padahal baru sekilo perjalanan yang mereka tempuh, tetapi gelapnya malam tak mendukung mereka melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya kita harus istirahat saja Canso, setelah pagi kita lanjutkan lagi," kata Hazel kemudian dia turun dari punggung Canso.
Hazel melihat disekelilingnya, ada banyak pohon mati, tak ada satupun tempat yang dapat nyaman berteduh. Di atas dahan, ada burung hantu yang menyeru, seolah menyapa kehadiran Hazel di hutan itu.
"Sepertinya aku cukup bersandar di pohon saja," gumamnya.
Hazel yang lelah menyandar di pohon mati itu, terdengar lagi suara binatang buas, akan ada rombongan harimau yang melewatinya. Hazel yang panik bergegas naik ke punggung Canso.
"Canso, kita pergi dari sini," ujar Hazel.
Canso enggan bergerak, dia malah berdiam diri menunggu rombongan harimau itu. Hazel kalut menarik tali kekang di leher Canso, namun tetap saja kudanya itu tak bereaksi.
"Ayo Canso, mereka bisa memangsa kita," pekik Hazel.
Rombongan harimau itu berhenti tepat di hadapan mereka. Hazel menutupi mulutnya sendiri agar tidak menjerit ketakutan. Beberapa saat kemudian, kalung yang ia pakai bersinar, batu Ruby yang ia tempelkan ke kalung itu menciptakan cahaya perlindungan.
"Apa yang terjadi dengan kalung ini.." Gumam Hazel terheran dengan reaksi kalungnya.
Para harimau itu tunduk kepada Hazel, bahkan ada diantaranya tak berniat ingin menjadi pengikut Hazel.
"Mereka kenapa bertingkah seperti itu?" tanya Hazel pada Canso.
Canso mendekat ke para harimau itu, batu Ruby di kalung Hazel kian bersiniar, Hazel pun mengerti binatang buas berlaku demikian karena tunduk terhadap batu Ruby nya. Hazel mengenggam kalungnya dengan erat, ia baru menyadari betapa bermanfaat nya batu Ruby itu.
"Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan, aku tidak ingin membuang waktu Canso," ucap Hazel. Berharap para harimau itu menunjukkan jalan di tengah kegelapan.
***
Alaruc dan Jasper tiba di lembah hitam, pintu gerbang istana penyihir wanita itu dilapisi mantra. Tak ada yang dapat menembusnya tanpa seizin Zhietta. Para penjaga gerbang Zhietta melaporkan kehadiran Alari, Zhietta tertawa terbahak-bahak sebab anak dari mantan kekasihnya itu datang ke istananya.
"Izinkan dia masuk, aku ingin tahu apa yang akan ia lakukan saat ini," kata Zhietta lalu tertawa terbahak-bahak, ia cukup puas karena menyebarkan virus patung kepada pihak kerajaan Castor.
Alaric telah memasuki halaman bersama Jasper, mereka di tuntun oleh singa peliharaan Zhietta. Ini pertama kali Alaric ke lembah kegelapan, segala yang ada di lembah kegelapan itu mengerikan dan gak beraturan. Binatang buas mengalami perkawinan silang hingga bentuknya tak berupa wujud binatang lagi. Zhietta sungguh mengobrak-abrik negeri Castor dengan berbagai eksperimenn.
"Jasper, kau harus berhati-hati melangkah," bisik Alaric. Ia tahu ada banyak sihir yang Zhietta pasang di setiap sudut lembah hitam.
Kreekkk..
Suara pintu terbuka lebar, memperlihatkan Zhietta yang sedaemri tadi menunggu kehadiran Alaric. Senyuman menyeramkan Zhietta menyambut Alaric dan Jasper.
"Akhirnya kau datang pangeran, apaakh perjalanan mu lancar?" tanya Zhietta berbasi-basi.
Alaric turun dari punggung Jasper, pedangnya masih di genggam erat. Zhietta turun perlahan dari kurai kekuasaannya, wajah Alaric mengingatkan dirinya dengan Ratu Florida, wanita yang merebut Raja Carlos.
"Kau terlalu jahat Bibi Zhietta!"
Zhietta tertawa mendengar Alaric memanggilnya 'Bibi'. Dia turun menyusuri anak tangga tak menajamkan tatapan kepada Alaric.
"Seharusnya kau terlahir dariku, bukan dari wanita itu." Zhietta mengungkapkan impiannya terdahulu ingin memiliki anak dengan Raja Carlos.
"Kau harus teirma dengan yang telah terjadi, ini bukan kesalahan Ayah ataupun Ibuku," sahut Alaric.
Takkkk!
Zhietta menghentakkan tongkatnya, "Kau kira gampang memusnahkan rasa kecewa?! Aku bisa memusnahkan seluruh Rakyat mu, tapi tidak untuk kecewa ku!"
Alaric tersudutkan, sulit memang melenyapkan kekecewaan terhadap seseorang, begitupula dirasakan oleh Zhietta. Raja Carlos dan Zhietta dulu saling mencintai, namun mereka mendapatkan restu dari keluarga kerajaan, juga tak mendapatkan restu dari Rakyat Castor. Raja Carlos di tentang menikahi Zhietta, sehingga Raja Carlos dinikahkan dengan Ratu Florida.
"Lalu apa yang dapat menghilangkan kekecewaan mu, Bibi? ku mohon berhentilah, berdamailah dengan kami," pintar Alaric. Dia berbelas kasih karena Zhietta.
"Hahahahahahha... " Zhietta tertawa menggelegar ke seluruh penjuru lembah hitam.
Alaric mundur selangkah karena binatang buas Zhietta ada yang mendekatinya. Alaric bersiap-siap melindungi dirinya dari serangan Zhietta.
"Jasper, jika terjadi sesuatu, kau keluarlah dari sini, jaga Hazel.." Ujar Alaric dengan suara pelan.
Jasper tak menyahut, dia tidak tega biak harus meninggalkan Alaric di kemang Zhietta seorang diri. Namun di sisi lain, ada Hazel yang harus ia jaga demi menyelamatkan Castor.
"Sudah terlambat Alaric, akan ku jadikan kalian boneka ku, dan aku yang akan memimpin Castor." Zhietta tetap kukuh dengan rencananya ratusan tahun yang lalu, ia ingin menjadi penguasa Castor satu-satunya.
"Itu tidak mungkin, akan ada yang menjatuhkan harapan mu kembali, sebelum terlambat, berhentilah." Alaric mengingatkan.
Zhietta mengangkat alisnya, ia mengerti apa yang di maksud oleh Alaric.
"Kau mengandalkan gadis asing itu? Pengantin mu yang tidak tahu apa-apa?" tanya Zhietta meledek Hazel. Dia sudah melihat setiap pergerakan Hazel.