HAZEL IN CASTOR'S LAND

HAZEL IN CASTOR'S LAND
Kembalinya seperti semula



Pak Van Hill menepuk pundak Tommy, dia memiliki kembali kekuatan seperti saat di negeri Castor. Tommy dan Emma tetap saja kebingungan, dia mennati penjelasan Pak Van Hill atas keadaannya yang telah berubah. Emma sekali lagi memeriksa kulit Pak Van Hil yang telah berubah menjadipp keriput seperti manusia pada umumnya.


"Kau tidak usah khawatir, aku baik-baik saja.." Ucap Pak Van Hill.


"Tapi semuanya terlihat aneh, tidak sepet biasanya, Pak."


Pak Van Hill mengusap kepala Emma, seperti seorang Ayah yang mengusap kepala putrinya.


"Aku akan selalu mengenangmu, kamu anak yang baik, teruslah berbuat seperti ini."


Emma dihinggapi rasa sedih, ia mengerti sedikit bahwa Pak Van Hill akan kembali ke negeri Castor, meninggalkan London yang teramat kejam untuknya.


"Jangan pergi tanpa pamit dari kami, Pak." Pinta Emma.


"Jika demikian, tetaplah menjagaku, aku tidak tahu kapan waktunya aku akan bertukar posisi dengan Hazel," jelas Pak Van Hill.


Tommy terhenyak, dia tidak sabar menanti kembalinya Hazel, tetapi di sisi lain ia juga kasihan dengan Pak Van Hill. Tommy merasa bersalah karena laporannya, Pak Van Hill malah dijadikan kelinci percobaan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.


"Aku minta maaf, Pak. Karena aku.."


"Tidak usah seperti itu, semua proses harus memang harus terlewati, saya beruntung bisa bertemu kalian, terutama Hazel."


Pak Van Hill menjelaskan semuanya, mulai dari kutukan Zhietta karena sakit hati kepada kerajaan hingga Hazel dan Cucunya Alaric jatuh cinta di negeri Castor. Pak Van Hill juga mengatakan bahwa dirinya seorang Raja generasi Ke-2 di Negeri Castor.


"Jadi.. kau, hmm maaf.." Ucap Emma yang bingung bagaimana memperlakukan seorang Raja.


"Jangan tegang, disini saya hanya manusia biasa."


Tommy duduk dengan perasaan tak karuan, bukan hanya kehilangan Hazel tetapi ia kehilangan istrinya yang tercinta, Kammh. Sudah bebey hari belakangan nini, Kammy tak ada di rumah, tidak seperti biasanya, Tommy takut jika Kammy pergi dari hidupnya.


"Kau kenapa Pak Tommy? apa ada yang membuatmu gelisah?" tanya Emma.


"Istriku hilang juga, aku tidak tahu dia kemana, mungkinkah semua ini ada hubungannya?"


Pak Van Hill terdiam, dia menilik semuanya, dia merasa Kammy memiliki keterkaitan dengan Castor, dia belum mengetahui jika Kammy adalah Zhietta, wanita yang dulu bersahabat dengan anaknya, Carlos.


"Kalau begitu, kita buta laporan, apakah kamu mau?" tanya Emma ke Tommy.


"Tidak, jangan, aku takut jika semua ini ada hubungannya," sahut Tommy yang berpikir sama dengan Pak Van Hill.


Mereka bertiga memilih menunggu hasil, Pak Van Hill semakin mempersiapkan dirinya untuk kembali Ke Castor, tetapi sebelum semua itu terjadi, dia menuliskan surat khusu untuk diberikan kelal kepada Hazel, karena Pak Van Hill tahu, ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan gadis yang berhati murni itu.


"Aku akan merasa sedih sepanjang hari ini setelah ini.." gumam Pak Van Hill.


Emma mengerti, Pak Van Hill tidak akan bisa kembali lagi ke London, seperti Hazel yang tidak dapat kembali ke negeri Castor. Di benakbenak Emma ada yang menggeliat, yaitu kisah cinta Alaric dan Hazel.


"Berarti cucunya Pak Van Hill dan Hazel tidak akan bersatu?" tanya Emma, pertanyannya juga di dengar oleh Tommy.


Pak Van Hill menarik nafas panjang, dia memandangi Emma dengan tatapan terenyuh.


"Setiap pertemuan ada perpisahan, entah itu menyakitkan tapi ada terbaik didalamnya, kembalinya Castor seperti semula bukan tidak mudah untuk kedua belah pihak, Hazel dab Alaric harus mengorbankan hayi mereka untuk itu."


"Itu tugasmu Tommy.." Ujar Pak Van Hill.


"Putriku pasti akan terluka hebat karena perpisahan itu."


***


Ratu Florida sibuk menyambut tamunya, begitupun Raja Carlos. Seluruh yang ada di istana itu menyambut hari kebahagiaan mereka, hari kebebasan mereka, berpesta dengan hati yang gembira, tanpa ada ketakutan lagi dengan sihir serta virus yang setiap saat dulu mengancamnya.


"Hazel dab Alaric belum turun," ucap Ratu Florida kepda teman-temannya.


Namun tidak lama berselang, seluruh pasang mata itu menyorot ke arah tangga, Alaric sudah berdiri menggandeng tangan Hazel. Sepasang kekasih itu teramat cantik dan tampan, gaun kerajanman yang di pakai Hazel memancarkan aura kebangsawanan.


"Kau sangat cantik, Nak.. " Puji Ratu Florida.


Hazel dan Alaric disuruh untuk berdansa di altar. Semua mata tertuju kepada keduanya. Alaric teramat bahagia, baru kali ini senyumnya lepas selama menjalani kehidupan ratusan tahun ini.


"Aku sangat mencintaimu Hazel.."


Hazel yang tahu ujung dari kisahnya hanya dapat tersenyum, ia tidak ingin terlalu banyak mengungkapkan rasa cinta kepada Alaric karena tidak ingin terlalu sakit menerima kenyataan itu.


"Kenapa kau tidak membalas ungkapan ku?"


"Karena tanpa mengungkapkan, kau tahu jawabannya. Aku dan kamu sama-sama saling mencintai."


Raja Carlos mengumumkan akan ada pertunangan antara Pangeran Alaric dengan Hazel. Tepukan para tamu mengiringi kebahagiaan pihak kerajaan, melihat kebahagiaan rakyat Castor, Hazel menerima segala prosesi pesta itu.


"Ini cincin kerajaan, Alaric akan memakaikan kepadamu," ucap Ratu Florida, wajahnya sumringah karena Hazel yang baik akan menjadi menantu kerajaan Castor.


Hazel terhentak, bukan tak menyukai pemberian Ratu Florida, tetapi pertunangan itu malah akan mengecewakan seluruh keluarga kerajaan dan Rakyat Castor, dia dan Alaric akan dipisahkan oleh jarak yang tak dapat ditembus oleh waktu.


"Tapi yang mulia Ratu.." Hazel tak tega pula mengambil cincin itu.


"Kenapa? apa kau tidak menyukai ini?" tanya Raja Carlos.


Alaric mengambil cincin itu dari Ibunya, dia melangkah ke hadapan Hazel dengan tatapan nanar. Tanpa berucap sepatah katapun, Alaric meraih tangan Hazel, dia memasukkan cincin di jemari tangan Hazel secara perlahan. Seketika Hazel menjadi terharu, dia menitikkan air matanya.


"Aku mencintaimu..." Ucap Alaric. Dia meraih tubuh Hazel di peluk didepan para tamu pesta.


Sorak tepuk tangan mengiringi perasaan haru keluarga kerajaan, momen pelukan Hazel dan Alaric menjadu sejarah percintaan kerajaan yang teramat dramatis, bukan karena hal mudah, Alaric harus menunggu ratusan tahun gadis dari negeri yang mereka tidak ketahui.


"Anak kita sudah dewasa yang mulia," ucap Ratu Florida kepada Raja Carlos.


"Dan kita lambat menua, termasuk kamu, istriku masih tetap segar dan cantik," puji Raja Carlos.


Ratu Florida mencubit mesra dipinggang suaminya, sekian lama waktu seperti terhenti, mereka seperti berada di ruang kesedihan, namun kebahagiaan itu kembali di ukir dengan kehadiran Hazel.


Paman Ernest meminta Alaric dan Hazel berdansa, lampu sorot disediakan oleh keduanya untuk menjadi pusat perhatian. Alaric meraih tangan Hazel untuk diajaknya berdansa. Meskipun sedikit malu, tetapi Hazel menikmati semuanya, impiannya benar-benar terwujud, menjadi seorang putridi kerajaan, dicintai oleh Pangeran tampan pula.