
Pak Van Hill akan di masukkan ke dalam alat pendeteksi scan tubuh. Profesor itu ingin melihat bentuk tubuh Pak Van Hill dibagian dalam. Pak Van Hill merasakan panas dari sinar laser yang menyerang kulitnya. Mendengar dadi alat yang dipasannnya, Emma semakin tak tega. Pada profesor itu sudah tak memiliki rasa empati sesama makhluk hidup.
"Mereka telah berani menyakiti Pak Van Hill, kita harus bagaimana?" tanya Emma kepada Tommy.
"Kita tidak bisa melakukan apapun, ini urusan negara lagi."
Emma tidak akan tinggal diam mendengar Pak Van Hill dijadikan eksperimen uji coba, " Dia juga mahkluk hidup, jika dia memang berbahaya, mungkin sejak puluhan tahun yang lalu dia membuat kerusakan di bumi."
"Atau dia telah melawan saat ini," sambung Tommy.
Emma mengangguk, dia berhasil memberikan pemahaman kepada Tommy. Ada beberapa dokter forensik yang ikut masuk, tetapi Emma dan Tommy tak diperbolehkan masuk. Sementara suara Pak Van Hill terdengar sangat kesakitan.
"Kita tidak bisa membawa dia pergi disini secara baik-baik," kata Tommy. Dia memberikan petunjuk kepada Emma.
"Berarti hanya ada satu cara, membawanya pergi secara rusuh," sahut Emma.
Tommy mengangkat alisnya, dia mengiyakan usulan Emma. Wanita berambut pirang itu mengajak Tommy ke area belakang kantor. Mengamati keadaan disekitar agar yang dilakukannya tak dilihat oleh siapapun.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tommy yang belum mengerti tujuan Emma.
"Kamu memiliki korek api?"
Tommy mengeluarkan korek apinya, Emma melirik ke setiap sudut atas yang ada di belakang kantor lembaga, tak ada satupun CCTV yang melekat.
"Setelah alarm berbunyi, kita lari masuk ke dalam lagi, tepatnya mengeluarkan Pak Van Hill ketika semua yang ada di dalam panik," ujar Emma.
Tommy sebenarnya tidak menyetujui itu, tetapi karena mendengar keluhan Pak Van Hill, Timmy semakin merasa bersalah, karena laporannya, Pak Van Hill di malah dijadikan kelinci percobaan.
Emma menyalakan korek api lalu melemparkannya ke kumpulan tabung oksigen. Emma menarik tangan Tommy berlari menjauh dari tempat itu, seketika ledakan cukup besar terjadu secara berurutan. Alarm kebakaran menggema, menimbulkan kepanikan para pekerja di lembaga penelitian itu.
"Kita selamatkn Pak Van Hill," kata Emma, ia mengambil sebuah taplak meja yang ada di ruangan itu.
Para profesor masih ada di dalam ruang observasi, mereka dilema jika harus meninggalkan Pak Van Hill di dalam kotak pendeteksi, kebakaran semakin meluas, terpaksa mereka meninggalkan Pak Van Hill seorang diri.
"Mereka skeua telah keluar," ujar Tommy.
Emma segera mengambil kursi roda Pak Van Hill, mereka berdua masuk dneg. terburu-buru, Tommy mengeluarkan Pak Van Hill dari kotak merah. Kulit Pak Van Hill memerah karena bekas sinar laser. Emma menutupinya dengan kain. Pak Van Hill di dorong oleh Tommy untuk keluar dari lembaga penelitian itu.
"Kita langsung ke mobil," kata Emma.
Setelah berada diparkiran, Tommy dan Emma mengangkat Pak Van Hill ke dalam mobil. Mereka berhasil membawa Pak Van Hill keluar dari lembaga penelitian itu.
"Tahan, Pak. Kami akan membawa anda ke rumahku," ucap Emma yang menemani Pak Van Hill di jok belakang.
Pak Van Hill mengeluh kesakitan, kulitnya panas banget usai disirami minyak panas. Sesekali mulutnya menyebut nama 'Alaric'.
"Alaric.. itu siapa?" tanya Emma.
Namun Pak Van Hill hilang kesadaran, dia tak merespon pertanyaan Emma. Kakek berusia tujuh puluh tahun terlihat sangat menderita, Memang bahkan meneteskan air kata karena kesulitan yang dialami oleh Pak Van Hill.
"Kau tampaknya sangat sensitif," tutur Tommy yang mengemudi.
"Seorang Kakek tersesst di dunia yang akan membahayakannya, aku mengingat ini sebagai Kakek ku," sahut Emma.
"Tapi apa yang harus kita lakukan agar dia kembali ke negeri yang dia maksud?" tanya Tommy.
Emma juga tidak memiliki jawaban untuk itu, sementara Pak Van Hill menyebut nama Alaric terus-menerus.
***
Sedangkan di negeri dongeng Hazel belum bisa melepaskan rantai yang membelenggu Alaric, mereka. Sementara Zhietta kembali lagi masuk menemui Alari, dia membawa ramuan untuk membuat Alaric kepanasan agar tidak memiliki tenaga lagi melawan.
"Kau harus merasakan sakit untuk sementara waktu, anak Florida."
Ketika Zhietta hendak menyirami Alaric, Hazel berasa di depan untuk melindungi Alaric, ramuan panas itu mengenai tubuh Hazel, putri Tommy itu menjerit kepanasan, suaranya dapat di dengar oleh Zhietta.
"Hazel!" Ucap Zhietta menebak kehadiran Hazel di ruang bawah tanah itu.
Karena efek dari ramuan itu, perlahan tubuh Hazel muncul, tak lagi transparan. Zhietta tersenyum miring, dia menjambak rambut Hazel karena kesal.
"Kau! Anak brengsek!"
Zhietta merampas kalung yang menempelkan baru Ruby. Hazel tak berdaya, tubuhnya masih kepanasan. Alaric juga tak dapat berbuat apa-apa, dia merasa gagal sebagai pria yang melindungi sosok wanita yang dicintainya.
"Hazel.." Lirih Alaric.
Hazel merangkak perlahan ke Alaric, dia meminta perlindungan dari pria itu. Ternyata tidak mudah menjadi pahlawan Castor. Alaric mengusap kepala Hazel, gadis itu memandangnya dengan tatapan nanar.
"Aku mencintaimu.. " Ucap Alaric.
"Aku juga.."
Alaric berharap jika semua telah berakhir, Hazel tetap bersamanya di Castor, ia ingin Hazel tidak lagi kembali ke dunianya. Namun saat itu terlalu picik jika harus memikirkan cintanya. Ada banyak yang sedang terluka, termasuk Hazel. Gadis itu menunjukkan rasa cintanya dengan mengorbankan diri mencegat Zhietta menyirami Alaric dengan ramuan air panas.
"Bertahanlah Hazel, bertahanlah.."
"Ambilkan aku batu Ruby, bagaimanapun caranya, hanya itu yang dapat mengobatiku," pintar Hazel.
Alaric mengangguk, walaupun ia tak yakin jika mampu merenggut batu Ruby Hazel dari Zhietta. Karena ia sendiri masih di perangkap oleh rantai.
***
Zhietta meningalkan Hazel dan Alaric di ruang bawah tanah, dia membawa batu Ruby itu untuk menambah kekuatannya. Suara tawanya menggelegar di istana yang penuh dengan dendam.
Batu Ruby itu disatukan dengan beberapa batu yang ia jadikan ramuan, setelah memperdaya Hazel, Zhietta berencana mengembalikan Hazel ke dunianya. Zhietta akan menguasai Castor dan memperbudak Raja Carlos dan Ratu Florida.
"Apakah kau baru saja menyakiti Alaric?" tanya Valencia yang mengejutkan Zhietta.
"Kau masih peduli dengannya? dia tidak mencintaimu," sahut Zhietta. Dia ingin menyadarkan Valencia agar mengubah cinta itu menjadi kebencian.
"Selamanya aku akan mencintainya, jangan menyakiti dia," pinta Valencia.
Zhietta tertawa, dia tak akan mengindahkan permintaan Valencia, kunci kehebatan Castor ada di Alaric dan Hazel, jika tak memusnahkan salah satunya, Zhietta akan terancam.
"Salah satu dari mereka harus ku lenyapkan, kalau dipikir lebih baik Alaric, kau harus menerima kenyataan itu."