
Dua minggu berselang..
Hazel mulai berani keluar rumah seorang diri, dia bersepeda lagi menyusuri jalanan di London, mengayuh sepeda tanpa ada keceriaan menyeringai wajahnya. Hazel mengayuh sepeda dengan perasaan yang masih hancur, tetapi di sisi lain dia menyadari bahwa kehidupan sesungguhnya harus tetap berjalan.
'Aku harus kuat, aku harus bisa menjalani hari-hatiku lagi seperti dulu..' ucapnya dalam hati.
Ketika ia hendaklah menyebrang jalan, mata Hazel tertuju pada toko baju favoritnya, dia melihat guan berwarna hazelnut itu terpajang lagi di patung, gaun yang pernah ia pakai menemaninya berpetualang di negeri Castor. Ada kesedihan kian menyeruak di hatinya, dia mengingat Alaric, pria yang amat ia rindukan.
"Alaric.. aku sangat rindu padamu," gumam Hazel dengan mata yang berkaca-kaca.
Hazel menepiman sepedanya disamping toko baju itu, ia memutuskan untuk masuk ke dalam toko untuk melihat gaun yang sempat ia kenakan. Hazel di sambut oleh pelayan toko dengan senyuman ramah, mereka terkagum-kagum dengan kecantikan yang dimiliki Hazel saat itu.
"Gaun kami semua cocok untuk gadis cantik seperti Nona," ucap manager toko itu.
Hazel hanya tersenyum seadanya, dia menuju ke patung bekas gaun yang ia pakai. Hazel mengingat betapa indahnya saat-saat bersama Alaric ketika memakai gaun itu.
"Aku ingin membeli gaun ini," kata Hazel. Dia mengeluarkan beberapa lembar dollar untuk membayarnya.
"Gaun ini sangat mahal, ini tidak cukup Nona," ujar manager toko itu.
Hazel memandangi lembaran uangnya, dia tidak ingin kehilangan kesempatan memiliki gaun iti, gaun yang menjadi saksi petualangannya di negeri Castor. Namun tiba-tiba ada sosok pria berjas hitam datang menghampiri, dia menolak agar manager tidak menjual gaun itu kepada Hazel.
"Kau tidak perlu membelinya, aku akan membelikan untukmu.." Kata pria paruh baya itu.
Hazel tak beergeming, dia tak berniat mengambil baju itu secara cum-cuma. Manager itu tercengang dengan sikap bosnya, pria paruh baya itu adalah pemilik toko baju favorit Hazel.
"Kamu cantik dan pantas memiliki baju yang langka ini, kamu bisa menjadi model di setiap baju kami," ucapnya lagi memberikan peluang untuk Hazel menjadi model di toko bajunya yang cukup terkenal di kota itu
"Kamu masih mahasiswi?" tanyanya.
Hazel hanya menjawab lewat anggukan. Dia sungguh tak bergairah melakukan apapun.
"Kau bisa menjadi model terkenal dengan wajah cantikmu itu, kau masih muda dan terlihat cerdas, jangan sia-siakan kesempatan di masa mudamu," jelas pria itu. Dia memiliki agensi modeling yang cukup terkenal.
"Tapi aku tidak memiliki niat untuk itu.. aku hanya ingin kuliah," sahut Hazel.
"Jangan hanya bermimpi satu saja, jika kau memiliki peluang, kau bisa menggapai semuanya, kali ini peluang yang jarang dimiliki oleh orang lain," kata pria itu Dia sangat menginginkan Hazel untuk menjadi modelnya.
Hazel melirik sejenak ke gaun itu, dia menginginkan gaunnya, tetapi uang ayahnya pun juga tak cukup membeli gaun itu. Setelah memikirkan pertimbangan, Hazel pun memutuskan untuk mengatakannya.
"Berikan aku waktu berpikir tiga hari, aku akan datang kembali jika aku sudah menemukan jawaban dari hatiku," ucap Hazel yang tidak ingin terburu-buru.
Hazel pamit dari pemilik toko itu, ia kembali mengayuh sepedanya menuju ke tempat yang ingin ia kunjungi. Beberapa menit berselang, Hazel tiba di perpustakaan Pak Van Hil. Perpustakaan itu sudah tutup, pemerintah belum memberikan izin lagi untuk membukanya, namun Emma berusaha agar kunci perpustakaan dapat diberikan hal sepenuhnya kepada Hazel.
"Aku sudah tiba lagi di perpustakaan ini Pak Van Hill.." gumam Hazel. Berharap Pak Van Hi dapat merasakan keberadaannya disana.
Hazel masuk, suasana perpustakaan itu pengap, banyak debu yang melekat di setiap meja, bentuk dan suasananya masih sama seperti saat ka. dengan Pak Van Hill menyusun buku bersamanya.
Hazel teringat dengan buku dongeng 'Tha Castor Land" di gudang, bergegas ia menuju ke gudang memastikan buku itu. Hazel menggeledah setiap rak buku, ia menemukan buku dongeng itu di atas meja pembakaran.
"Akhirnya.."
Ia terkejut dengan buku yang tidak dalat dibuka lagi. Berkali-kali Hazel menguatkan diri agar dapat membukanya, tetapi tetap saja buku itu seperti telah disatukan lagi. Seolah buku itu menjadi buku pajangan yang telah direkatkan oleh lem.
"Memang benar, buku ini tak berguna lagi," lirik Hazel teramat kecewa.
Ia kembali meletakkan buku itu lalu memandangi bagang-barang Pak Van Hill. Ada sesak di dada Hazel, dia memilih duduk di bangku untuk menenangkan hatinya yang gundah gulana. Hazel tak dapat mengamankan tangisnya lagi, dia menangis sekencang-kencangnya, mulutnya tak henti menyebut nama Alaric.
"Aku ingin bersamamu Alaric.."
Hazel ingin kembali ke negeri Castor, dia ingin memulai kehidupan bersama Alaric, cinta pertama yang membuatnya jatuh cinta sejatuh-sejatuhnya. Dia tak dapat memulai hidupnya dengan baik lagi karena kerinduannya terhadap Alaric.
"Aku harus bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri.
. Ponsel Hazel berdering, di layar itu ada nama Emma yang memanggilnya. Segera Hazel melenyapkan suara sesenggukannya. Dia tidak ingin Emma mengetahui ia bersedih lagi mengenang segala tentang Castor, Hazel sudah berjanji kepada Emma agar ia kuat menjalani hidupnya sekarang.
"Kamu masih di perpustakaan?"
"Iya, Tante. Kenapa? Ayah mencariku?"
"Tidak sayang, pergilah menenangkan dirimu, kemanapun, jika ada apa-apa telepon kami," ujar Emma. Dia sudah memposisikan dirinya sebagai Ibu Hazel karena ia diam-diam menyukai Tommy.
Setelah meyakinkan Emma, Hazel menutup telepon itu. Dia kembali berfokus pada perpustakaan Pak Van Hill, dia merapikan bangku perpustakaan itu, membersihkan debu, dia menyusun rapi buku-buku yang berserakan di lantai akibat dari penelusuran polisi kala itu.
Dari luar ada yang mengetuk pintu, sosok pria mudah seusia Hazel masuk ke dalam menyapa Hazel. Pria muda itu tak asing baginya, Hazel terdiam mengamati temannya yang ia kenal cukup baik.
"Aku mengejutkan mu?" tanya pria itu.
"Hei.. Kamu Collins? Di restoran itu?" taya Hazel.
"Iya, pria yang setiap malam memberikanmu paha ayam."
Hazel menganggukkan kepala, dia menyodorkan bangku ke Collins, menyambut Collins sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Aku dengar dari Ayahku, kau membantu Ayahku untuk mencariku.. Terimakasih.." Ucap Hazel.
Collins tersipu malu mendengar itu, sejak dulu ia menyimpan perasaan suka terhadap Hazel, hanya saja ia tak memiliki peluang untuk mendekati putri Tommy itu.
"Apakah kau sudah cukup baik?" tanya Collins. Dia berharap Hazel sudah melupakan trauma sejak menghilang dari London.
"Aku cukup baik, tidak ada yang berubah dari kemarin," sahutnya. Walaupun jawaban itu berbohong, tetapi itu ia lakukan demi menjaga perasaan orang-orang terdekatnya.
Di tengah-tengah obrolan mereka, Hazel teringat lagi dengan tawaran pemilik toko baju. Hazel harus mendapatkan gaun hazelnutnya kembali.